Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 59


__ADS_3

Sore harinya Raffael memutuskan untuk berangkat. Tentunya bersama istri dan anaknya. kedua orang tua Raffael ikut senang melihatnya mengajak serta istri dan anaknya untuk perjalanan bisnisnya kali ini. sebenarnya ini juga pertama kali bagi Raffael untuk melakukan perjalanan bisnis ke perusahaan Papanya yang ada di luar negeri. karena sebalumnya memang Raffael sudah tinggal di sana.


Abi sebenarnya meminta Jelita untuk meninggalkan Ethan bersamanya. Wanita itu ingin anak dan menantunya bisa benar-benar menikmati waktu berdua saja. mengingat setelah menikah beberapa waktu yang lalu, Raffael belum mengajak istrinya pergi berbulan madu. Sayangnya Jelita menolak. Dia tidak bisa jauh dengan Ethan. Apalagi dalam waktu yang cukup lama.


“Mama tenang saja. justru aku sangat senang bisa mengajak Ethan.” Ujar Raffael yang berada di pihak istrinya.


“Bagaimana nanti kalau Ethan mengganggu proses pembuatan adiknya?” sahut Abi lagi yang masih kukuh agar Ethan tinggal bersamanya.


Wajah Jelita bersemu merah mendengar ucapan Mama mertuanya. walau ada benarnya yang dikatakan oleh Abi. namun, apakah setiap waktu ia nanti akan melakukannya dengan Raffael. Lagi pula tujuan suaminya pergi ke sana karena perjalanan bisnis.


“Sudah, sudah! Kalau kalian berdebat terus kapan mereka berangkatnya?” sahut Reno menengahi perdebatan kecil antara istri dan anaknya.


“Nanti kalau kamu kangen sama Ethan, kan bisa video call setiap hari. Asal tidak jam malam saja.” lanjut Reno, sontak mendapat sahutan gelak tawa dari Raffael.


Abi hanya menggerutu kesal karena akal bulusnya diketahui oleh suaminya. bukannya Abi tidak suka dengan Ethan yang nantinya akan mengganggu bulan madu Raffael dan Jelita. Hanya saja wanita paruh baya itu tidak senang jika harus berjauhan dengan cucunya. Apalagi Raffael pasti akan berada di sana sedikit lebih lama. Tapi bagaimana lagi, namanya juga anak dan ibu. Kalau dipisahin juga pasti Jelita yang akan semakin tidak tenang. Akhirnya Abi pun mengalah. Membiarkan Ethan tetap ikut.


“Ya sudah, awas kalau kalian tidak menerima panggilan dari Mama saat sedang kangen Ethan.” Jawab Abi akhirnya.


Jelita tersenyum mengangguk pada Abi. dia sangat lega sekaligus bahagia karena ternyata alasan mama mertuanya untuk tidak mengajak Ethan karena Mamanya tidak mau jauh dengan Ethan. Bukan karena tidak suka dengan Ethan.


Setelah itu Raffael mengambil kopernya dan bersiap untuk pergi ke bandara. Namun tiba-tiba saja ART Reno datang dan mengatakan kalau sedang ada tamu di luar.


“Siapa Bi tamunya?”


“Tuan Mario.”


Raffael yang hendak naik ke lantai atas mengambil koper terpaksa ia urungkan karena dia tidak ingin membiarkan Mario bertemu dengan Ethan tanpa dirinya. Pasti pria itu akan mencari kesempatan untuk dekat dengan istrinya.


Reno pun membiarkan Raffael dan Jelita yang menemui Mario. Pria itu tahu pasti kedatangan Mario ingin bertemu dengan Ethan.


Benar saja, saat Raffael baru saja masuk ruang tamu, ia melihat wajah sumringah Mario dengan beberapa mainan baru di tangannya. Ethan pun berlari mendekati Papanya. Wajar bagi anak kecil seusia Ethan yang akan mudah sekali tergoda dengan maian baru yang menarik.

__ADS_1


Mario berbasa-basi pada Raffael dan juga Jelita sebelum mengajak Ethan bermain. Lagi-lagi Raffael sangat kesal melihat sahabatnya itu tersenyum ramah pada istrinya.


“Sayang, kamu masuk dulu sana-sana. Bersiaplah, setelah ini kita berangkat.” Ujar Raffael tak ingin membuat istrinya ikut bergabung di ruang tamu dimana ada Mario di sana.


Jelita mengangguk saja. setelah itu dia masuk untuk mengecek beberapa barang yang akan dibawa pergi sesaat lagi.


“Kalian mau kemana?” tanya Mario penasaran.


“Kami akan pergi berbulan madu.” Jawab Raffael dengan santai.


Mario terdiam sesaat. Meskipun ada sejengkal hatinya yang merasakan cemburu saat mendengar Raffael akan pergi berbulan madu bersama Jelita. Meskipun itu hal yang sangat wajar, karena memang mereka pasangan pengantin baru.


“Oh, kalau begitu selama kalian pergi, ijinkan Ethan untuk tinggal denganku.”


“Ethan akan ikut besamaku.”


Mario terdiam lagi. bulan madu macam apa sampai mengajak Ethan juga. tapi mendengar jawaban Raffael, sepertiya akan sulit untuk membujuk pria itu agar Ethan tinggal bersamanya.


“Bolehkan nanti aku melakukan video call dengan Ethan saat kalian sudah sampai di sana?” tanya Mario.


“Lihat saja. kalau panggilanmu mengganggu kesenangan kami, jelas aku tidak akan mengangkatnya.” Jawab Raffael dan seketika itu mendapat cubitan perut dari Jelita.


Mario hanya menghembuskan nafasnya pelan. Sepertinya memang Raffael sengaja bicara seperti itu dan berusaha memanas-manasinya. Terlebih menekankan agar dirinya tidak mendekati Jelita dengan cara apapun.


**


Kini Raffael sedang dalam perjalanan menuju bandara bersama Jelita dan juga Ethan. Ethan tampak antusias dengan mainan baru yang dibelikan oleh Papanya tadi. sedangkan Jelita tampak kesal dengan suaminya.


“Kenapa diam saja sih, Sayang? Apa kamu nggak suka kita akan pergi?” tanya Raffael memecah keheningan.


“Mas bisa nggak sikapnya pada Mario biasa saja?”

__ADS_1


Raffael diam lalu menatap istrinya. Kenapa istrinya bicara seperti itu? apakah Jelita menaruh simpati terhadap ayah bioligis Ethan.


“Apa kamu,-“


“Suka dengan Mario? Apa kamu mulai jatuh cinta dengan pria yang menjadi ayah biologis Ethan?” lanjut Jelita memotong ucapan suaminya seolah mengerti apa yang akan diucapkan oleh Raffael.


“Benar seperti itu kan yang akan kamu tuduhkan ke aku, Mas?” tanya Jelita menahan emosi. Namun setelah itu ia tersadar kalau ada Ethan bersamanya. Akhirnya dia memilih diam kembali karena tidak ingin bertengkar dengan suaminya saat bersama Ethan.


Raffael juga bingung ingin menjelaskan pada istrinya, namun ada Ethan. Akhirya dia juga ikut diam sampai mobil yang ditumpanginya sampai bandara.


Raffael dan Jelita masih diam selama proses keberangkatan mereka. Hanya bicara jika menimpali ucapan Ethan. Dan sampai naik peswat pun Jelita masih diam.


Perjalanan belasan jam yang akan mereka tempuh pasti akan membuat keduanya sangat bosan kalau keadaannya seperti sekarang ini. Raffael akhirnya memilih untuk bersikap biasa saja dan mengabaikan amarah yang sempat bersarang di hatinya karena Mario.


Jelita melirik sekilas pada suaminya saat pria itu mengusap lembut tangannya.


“Sudah dong, Sayang jangan marah terus! Aku ingin perjalanan kita ini sangat menyenangkan. Kalau kamu diamkan aku seperti ini, sama saja aku sedang melakukan perjalanan sendiri.” Tutur Raffael dengan suara yang sedikit lebih lembut.


“Lagian siapa juga yang memaksa untuk ikut? Aku kira dengan usulan kamu mengajakku pergi seperti ini, kamu bisa berpikir jernih. Justru malah tak karuan.” Jawab Jelita dengan tenang, lalu membuang pandangannya ke luar.


Raffael hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ternyata istilah yang sering ia dengar kalau wanita tidak pernah salah, kini sudah ia buktikan sendiri. Raffael yang sudah terbiasa berdebat dengan beberapa kliennya jika berbeda pendapat, dia akan selalu menang dengan semua pemikirannya yang sangat logis dan akurat. Tapi tidak dengan istrinya.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2