
Beberapa minggu setelah kepergian Raffael, kesehatan Abi menurun. Wanita itu sering sakit-sakitan. Ibu mana yang tega melihat anaknya pergi dalam suasana hati yang sedang bersedih. Memang dia dulu pernah menyalahkan Raffael. Lebih tepatnya keegoisan Raffael atas sikapnya terhadap Jelita. namun ia sama sekali tidak akan menyangka kalau akhirnya akan seperti ini. Raffael menyesali perbuatannya dan memilih untuk pergi dari kehidupan yang selama ini telah membesarkan namanya.
Sedangkan Livy yang semenjak menggantikan jabatan kakaknya, perempuan itu terpaksa dituntun menjadi seorang pemimpin. Namun Reno tak melepaskannya begitu saja. dia masih terus membimbing Livy menjalankan amanah itu.
Kesibukan Livy dengan jabatan barunya di perusahaan Papanya terpaksa membuat jalinan asmaranya dengan sang kekasih sedikit merenggang. Terlebih sudah beberapa minggu tidak ada kabar sama sekali tentang Febian. Namun Livy mencoba untuk fokus dengan pekerjaannya. Walaupun hatinya galau karena merindukan sang pujaan hati.
Saat ini Livy sedang di ruang kerjanya. Baru saja ia menyelesaikan meeting dengan kliennya. Namun tiba-tiba Papanya masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu dan menunjukkan reaksi wajah yang sangat panik.
“Ada apa, Pa?”
“Papa minta, tolong kamu handle semua pekerjaan Papa. Papa dapat telepon dari pembantu di rumah kalau Mama kamu tadi pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit.” Ujar Reno dan segera keluar dari ruangan Livy.
Livy terdiam setelah kepergian Papanya. Apakah Mamanya sakit karena kepergian kakaknya. Namun dia juga tidak bisa menghubungi Raffael untuk memberitahu tentang kabar ini.
***
Sore harinya setelah jam pulang kantor, Livy segera ke rumah sakit. Sejak tadi dia menghubungi Papanya untuk menanyakan keadaan Mamanya namun tak kunjung mendapat balasan. Dia berharap semoga Mamanya baik-baik saja.
Sesampainya di rumah sakit, Livy segera menuju resepsionis untuk bertanya ruangan dimana Mamanya sedang dirawat. Betapa terkejutnya Livy kalau saat ini Mamanya tengah dirawat di ruang ICU. Itu tandanya keadaan Abi sangat kritis.
Setelah mengucapkan terima kasih pada resepsionis itu, dengan wajah panik Livy bergegas menuju ruangan ICU dimana Mamanya dirawat.
Brukkk
Karena saking paniknya, Livy tidak sengaja menabrak seseorang yang sedang membawa tas besar. Sepertinya tas berisi baju kotor.
“Maaf, Pak! saya sedang terburu-buru.” Ucap Livy pada pria itu dan segera pergi melanjutkan langkahnya tanpa ikut membantu pria yang ditabraknya tadi.
Sedangkan pria itu sempat melihat wajah Livy namun sekilas. Setelah itu ia menoleh ke samping kanan dan kiri. Benarkah perempuan itu tadi memanggilnya dengan sebutan “Pak”. tapi itu semua tidak penting. Walau perempuan itu sudah meminta maaf, tapi membuatnya sedikit jengkel, karena takut jika barang-barang mahal yang ada dalam tas itu rusak, bisa dipecat majikannya.
**
__ADS_1
Kini Livy sudah sampai depan ruangan ICU dimana Mamanya sedang dirawat. Dia melihat Reno sedang duduk di kursi sembari memijit keningnya.
“Pa! apa yang terjadi dengan Mama?” tanya Livy dengan wajah lelahnya.
Reno menatap anak perempuannya, lalu ia meminta Livy untuk duduk di sampingnya.
“Penyakit jantung Mama kamu kambuh. Beberapa hari ini pola makan dan waktu istirahatnya tidak teratur. Jadi tubuhnya drop. Akhirnya Mama kamu butuh penanganan khusus.
Livy sangat terkejut mendengarnya. Dia baru tahu kalau Mamanya mempunyai riwayat penyakit jantung. Karena selama ini hanya Reno saja yang tahu. Jadi, saat sedang ada masalah rumah tangga Raffael dan Jelita waktu itu, Reno meminta istrinya untuk menenangkan diri di rumah adik iparnya. Menurutnya di sana istrinya bisa sedikit rileks, dan tidak terlalu terbebani.
Namun ternyata dugaannya salah. Abi sering mengkonsumsi obat yang diberikan oleh dokter pribadinya. Dan setelah kepergian Raffael beberapa minggu yang lalu, ia sudah sering memperingatkan istrinya untuk tetap menjaga kesehatannya dan tidak boleh terlalu memikirkan ankanya.
Sampai malam hari Reno dan Livy menunggu Abi di rumah sakit. Tadi dokter mengijinkan Reno masuk untuk melihat keadaan istrinya. Walaupun Abi masih menutup matanya, namun dokter mengatakan kalau perkembangan pasien sudah lebih baik dari sebelumnya.
“Vy, lebih baik kamu pulang saja. biar Papa yang menunggu Mama kamu di sini. maafkan Papa kalau beberapa hari ini urusan kantor Papa serahkan ke kamu.”
Livy tidak punya pilihan lain, walau sebenarnya dia ingin ikut menjaga Mamanya. Dia ingat kalau dia mempunyai tanggung jawab besar di perusahaan. Akhirnya malam itu juga Livy pulang untuk beristirahat sejenak sebelum besok disibukkan dengan urusan kantor.
**
Livy teringat dengan pesan Raffael sebelum kakaknya itu pergi. Akhirnya Livy keluar dari kamarnya dan masuk ke kamar kakaknya yang sudah lama tidak dihuni. Dia mengambil kotak yang pernah Raffael titipkan pada Jelita. karena sampai saat ini kedua orang tuanya sepertinya melupakan pesan itu.
Livy sudah masuk ke kamarnya dengan membawa kotak itu. kemudian ia mengirim pesan pada Jelita. baginya mungkin lebih baik seperti ini. biar kehidupan keluarganya bisa berjalan dengan baik seperti dulu lagi.
***
Sementara itu Jelita yang kini sudah tinggal kembali di rumahnya, seperti biasa ia bangun pagi untuk menyiapkan menu sarapan buat Ethan.
Sebelum menuju dapur, Jelita melihat ponselnya. Ada beberapa pesan masuk dari semalam yang tidak sengaja ia abaikan.
Pertama ada pesan dari seseorang yang akan membeli rumahnya. Ya, Jelita terpaksa menjual rumah peninggalan orang tuanya. Alasan Jelita melakukan ini smeua, karena ia merasa di rumah ini banyak sekali meninggalkan kenangan buruk. Lalu ia juga membutuhkan uang, karena rencananya ia akan pergi dari kota ini dan menata kembali kehidupan barunya bersama Ethan.
__ADS_1
Orang yang akan membeli rumahnya itu setuju dengan harga yang ditawarkan oleh Jelita. nanti siang mereka akan bertransaksi. Lalu satu lagi pesan dari nomor yang tidak ia kenal.
“Kak Jelita, maaf malam-malam mengganggu wwaktu istirahatnya. Aku hanya ingin menyampaikan pesan Kak Raffa untuk Kak Jelita. bisakah Kakak datang ke rumah? ada sesuatu yang dititipkan oleh Kak Raffa untuk Kak Jelita. sangat penting. Aku tunggu kedatangan Kakak. ~Livy~”
Entah kenapa hati Jelita tiba-tiba merasa tidak tenang. Sesuatu apa yang akan dititipkan oleh Raffael. Apakah pria itu tidak ada di rumah. pantas saja selama ini tidak ada kabar sama sekali tentang kelanjutan proses perceraiannya.
Sore harinya, setelah melakukan transaksi dengan pembeli rumahnya, Jleita menitipkan Ethan pada Arvin. Karena dia akan terbang ke kediaman Raffael. Dia ingin masalahnya segera selesai dan bisa menata kembali kehidupannya.
Beberapa saat kemudian setelah menempuh perjalanan udara, Jelita langsung menuju kediaman orang tua Raffael. Dia sudah menguatkan hatinya kalau bertemu dengan mantan mertuanya. setidaknya dia ingin perpisahannya dengan Raffael nanti secara baik-baik.
“Non Lita? Ada yang bisa saya bantu?” tanya pembantu Reno yang terkejut saat kedatangan Jelita.
“Maaf, Bi. Lita mau bertemu dengan Livy. Atau siapa saja yang ada di rumah ini.”
Pembantu Reno tampak bingung menjawab pertanyaan Jelita.
“Ehm, tidak ada orang di rumah, Non. Nyonya sedang dirawat di rumah sakit. Tuan dan Nona Livy juga ada di rumah sakit.”
“Apa? Mama kenapa Bi? Sakit apa?”
Belum juga pembantu itu menjawab, Livy yang baru saja pulang memanggil Jelita.
“Kak Jelita!”
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!