Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 30


__ADS_3

Sementara itu Mario masih enggan pergi dari rumah Reno. Ia terus menanyakan alamat rumah Jelita. Dia ingin bertemu dengan wanita itu dan meminta maaf. Mario semalaman juga tidak bisa tidur karena memikirkan Jelita.


Mario tidak menyangka kalau perempuan yang ia renggut mahkotanya secara paksa dulu adalah wanita yang akan menjadi calon istri sahabatnya. dia teringat jelas dengan kajadian pahit masa itu. di mana saat dirinya sedang mabuk berat lantaran Merlyn, kekasihnya meminta putus. Mario yang tidak mau dengan keputusan itu, melampiaskannya dengan minuman. Hingga akhirnya ia memilih pergi ke kantor Papanya dan berniat menenangkan diri di sana. Naasnya justru ia bertemu dengan Jelita. Sekilas bayang-bayang wajah Merlyn hadir dalam benaknya saat melihat wajah cantik Jelita. Akhirnya Mario merenggut mahkota Jelita yang ia kira Merlyn, agar kekasihnya itu tidak bisa lepas darinya.


“Lebih baik kamu pulang saja, Rio! Jangan kembali lagi ke sini, atau Raffa akan semakin murka denganmu.” Ucap Reno dengan tidak sabaran.


“Tapi, Om. Tolong beritahu Rio dulu, dimana alamat tempat tinggal Jelita?” pinta Mario dengan tatapan memohon.


“Maaf, Om tidak bisa memberitahu kamu. Bukan Om melarang kamu meminta maaf pada Jelita, hanya saja Om tidak ingin hubungan kamu dengan Raffa semakin runyam. Lebih baik pulanglah sekarang juga.”


Dengan lesu, Mario pun keluar dari rumah Reno. Usahanya tidak berhasil untuk bisa bertemu dengan Jelita. Namun ia tidak putus asa untuk bertemu dengan Jelita. Karena selain ingin meminta maaf pada wanita itu, Mario juga ingin bertemu dengan buah hatinya. Dia sangat yakin kalau anak Jelita itu adalah darah dagingnya.


***


Kini Raffael sudah berada di rumah Bu Alin untuk menanyakan kabar tentang Jelita. Sejak semalam Bu Alin juga tidak bisa menghubungi ponsel Jelita. Wanita itu jelas sangat khawatir dengan Ethan. Bocah lucu menggemaskan yang selalu menemani hari-harinya.


“Apa Tante tahu alamat tempat tinggal Jelita?”


Bu Alin terdiam sejenak. Setelah itu mencari CV karyawannya. Di sana juga ada CV milik Jelita yang tentunya ada alamat Jelita berdasarkan kartu tanda penduduknya.

__ADS_1


Bu Alin menemukan alamat tempat tinggal Jelita. Lalu memberikannya pada Raffael. Wanita itu juga berharap kalau Jelita memang pulang ke kampung halamannya, dan Raffael bisa kembali membawa Jelita pulang ke rumahnya.


“Terima kasih banyak, Tante. Hari ini juga Raffa akan ke sana untuk mencari Jelita. Raffa pamit dulu, Tante.” Pungkas Raffael dan segera pergi meninggalkan rumah Bu Alin.


Perjalanan ke kota di mana Jelita tinggal membutuhkan waktu kurang lebih selama enam sampai tujuh jam. Raffael akan datang ke sana dengan mengendarai mobilnya sendiri. Walau sebenarnya bisa ditempuh dengan perjalanan udara yang akan mempersingkat waktu.


Raffael memberi kabar pada Papanya kalau akan pergi menjemput Jelita. Untuk urusan kantor, sementara akan diserahkan pada Papanya. Walau tindakannya ini sangat tidak professional, dan pasti Papanya akan marah, namun Raffael tidak peduli. Dia harus menemukan Jelita secepatnya sebelum Mario yang lebih dulu menemukan wanitanya. Mungkin mudah bagi Mario untuk menemukan Jelita. Karena dulu memang Chiko pernah membuka cabang perusahaan di kota tempat tinggal Jelita. Dan dulu memang Mario bersama kedua orang tuanya tinggal sementara di sana, sebelum akhirnya pindah ke kota ini.


Kini Raffael sudah dalam perjalanan menuju tempat tinggal Jelita. Dia juga masih bingung jika sampai di sana, rumah siapa yang akan dituju? Mengingat kepergian Jelita dari rumah adalah karena diusir oleh Ibunya sendiri.


Tiba-tiba saja Raffael ingat dengan permintaan Jelita sebelum hari pernikahannya, wanita itu minta untuk pergi berziarah ke makam Ayahnya. Mungkin tempat itulah yang akan dituju Raffael nanti. walau kecil kemungkinan kalau Jelita akan datang ke sana bertepatan dengan kedatangannya.


Beberapa jam kemudian Raffael tiba. Kota yang sangat asing baginya dan belum pernah ia datangi sama sekali. Namun dengan teknologi yang semakin berkembang, Raffael memanfaatkannya untuk mencari alamat rumah Jelita dengan cepat. Termasuk keberadaan pemakaman umum di tempat itu.


Raffal duduk di depan tok sembari menikmati minuman yang membahasahi tenggorokannya. Beberapa orang yang keluar masuk toko itu menatapnya heran, karena merasa asing dengan wajag Raffael yang kebule-bulean.


“Asli orang sini, Mas?” tanya seorang pemuda yang ikut duduk di samping Raffael.


“Bukan, Mas. Saya kebetulan numpang istirahat di sini, karena ingin mencari seseorang.” Jawab Raffael.

__ADS_1


Pemuda itu pun bertanya pada Raffael, siapa yang ingin ditemui. Dia juga berniat membantu karena Raffael terlihat tidak begitu paham dengan kampung ini.


“Apa Mas tinggal di sini? pernah lihat wanita ini nggak, Mas? Barangkali saja pergi ke makam depan itu?” tanya Raffael sambil menunjukkan foto Jelita yang dipakai profil akun whatsapp’nya.


Pemuda yang masih berusia sekitar dua puluh tahun itu tidak mengenal Jelita. Namun ia berusaha bertanya pada Ayahnya yang kebetulan penjaga makam dan tinggalnya masih sekitar makam itu.


“Tadi saya melihat Mbak ini memang datang ke makam, Tuan.” Jawab si penjaga makam itu.


Raffael pun tampak mengulas senyum lega. Perjalanannya tidak sia-sia dan dengan cepat mendapat petunjuk keberadaan Jelita.


“Apa Bapak kenal dengan wanita ini?” Tanya Raffael penasaran.


“Saya tidak kenal. Tapi saya kenal dengan suaminya. Tuan Arvin. Tinggalnya di Jl. Gemilang.” Jawab pria itu sekaligus membuat Raffael bingung dan heran.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2