
“Jelita!! Maafkan aku! tolong beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku!” teriak seseorang yang tiba-tiba sudah berlutut di kaki Jelita.
Tubuh Jelita bergetar hebat saat melihat Mario sedang berlutut di kakinya. Bahkan pria itu sampai memegangi kakinya demi mendapatkan maaf dari Jelita. Sejak tadi memang Mario memantau rumah Reno. Dia sabar menunggu sampai akhirnya melihat mobil Raffael masuk ke halaman rumahnya. Lalu dia segera berlari masuk tanpa mempedulikan teriakan satpam yang melarangnya masuk.
Raffael yang sedang menggendong Ethan juga tak kalah terkejutnya saat melihat Mario sedang berlutut di kaki Jelita. Dia melihat raut wajah ketakutan istrinya dengan jelas. Alhasil Raffael sedikit menendang tubuh Mario agar menjauhi istrinya. Karena memang posisinya sekarang ada Ethan dalam gendongannya.
“Pergi cepat!!” sentak Raffael pada Mario.
“Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum mendapat maaf dari Jelita dan menebus kesalahanku.” Tolak Mario dengan tangan masih menggenggam kaki Jelita.
Beruntungnya satpam itu segera berlari mendekati majikannya. Hingga Raffael bisa meminta bantuan untuk mengusir Mario. Apalagi saat ini tubuh Jelita semakin bergetar ketakutan dan wajahnya terlihat pucat. Tak lama kemudian Reno juga datang, karena mendengar suara keributan dari luar rumahnya.
“Pa, tolong bawa Ethan masuk!” pinta Raffael.
Reno mengangguk dan membawa Ethan masuk. Dia tidak ingin ikut campur terlalu dalam urusan Raffael dan Mario. Lagipula Raffael sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan masalahnya.
“Jangan ada kekerasan lagi!” pesan Reno pada anaknya sebelum masuk membawa Ethan.
Brukk
Raffael segera menangkap tubuh Jelita saat dia hendak menyingkirkan Mario yang sejak tadi memegangi kaki istrinya. Jelita pingsan karena rasa takutnya kembali menyerang saat bertemu dengan Mario.
“Kamu lihat sendiri, bukan? Istriku trauma berat akibat perbuatanmu. Please Mario, pergilah! Jangan sampai aku berbuat nekat seperti kemarin.” Ancam Raffael dengan suara tegas.
Sebenarnya Mario juga ingin melihat keadaan Jelita yang baru saja jatuh pingsan akibat ulahnya. Namun mendengar ucapan Raffael, lebih baik untuk saat ini dia menurut saja. dia juga tidak menyangka kalau Jelita menyimpan trauma berat akibat perbuatannya dulu.
“Pak, bawa dia keluar sekarang juga! lain kali jangan sampai lengah lagi.” pesan Raffael pada satpam rumahnya sebelum membawa masuk Jelita.
__ADS_1
Mario menatap nanar Jelita yang sedang pingsan dalam gendongan Raffael. Akhirnya dia pulang tanpa membawa hasil apapun.
Sementara itu Raffael langsung membawa istrinya masuk ke dalam kamar. Abi dan Livy juga terkejut saat melihat wajah pucatJelita dalam gendongan Raffael. Abi pun ikut Raffael masuk ke dalam kamarnya untuk membantu Jelita.
“Vy, minta bibi buatin teh manis buat kakak kamu. Biar Mama kasih minyak angin agar cepat sadar.”
“Baik, Ma.”
Abi dan Raffael sudah memposisikan tidur Jelita dnegan nyaman. Setelah itu memberikan minyak angin pada area kepala Jelita dan sekitar hidung. Berharap Jelita segera sadar.
Raffael sangat khawatir dengan kondisi istrinya seperti ini. apalagi dia merasa tidak enak sampai merepotkan Mama dan Papanya.
“Sepertinya Jelita sudah lama menyimpan trauma itu, Ma. Aku tidak menyangka kalau reaksi seperti tadi saat bertemu dengan Mario. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana dulu saat pertama kalinya Jelita bertemu Mario. Bukannya aku mengejar dia, malah menghajar Mario.” Sesal Raffael.
“Sabarlah! Tidak ada masalah yang tidak ada solusinya. Yang terpenting saat ini kamu cukup buat Jelita tenang dan nyaman. Setelah itu terserah, kamu mau membawanya ke psikiater atau ke mana.” Ujar Abi memberi nasehat.
“Sayang, syukurlah kamu sudah sadar. Ayo minum dulu!” Raffael membantu Jelita bangun dan segera minum teh hangat itu.
Sejenak hati Jelita merasa lebih lega karena di sekelilingnya ada sang suami, Mama mertua, dan adik iparnya. Namun tidak dipungkiri kalau hatinya masih kalut. Bagaimana jika kejadian tadi terulang lagi. Mario yang tiba-tiba datang dan mengemis maaf seperti tadi.
Raffael menarik Jelita ke dalam pelukannya seolah mengerti apa yang sedang dirasakan wanita itu. jujur hatinya juga ikut sakit melihat sang istri menyimpan trauma besar itu seorang diri selama ini.
“Jangan takut! Maafkan aku karena lengah melindungimu.” Bisik Raffael pelan.
“Lebih baik buat istirahat saja. ini sudah malam. jangan khawatir tentang Ethan. Biar dia tidur sama Mama.” ucap Abi sebelum keluar dari kamar Raffael dan Jelita.
“Gantian dong, Ma. Biar Ethan tidur sama aku saja.” sahut Livy tiba-tiba.
__ADS_1
“Sudah, ayo keluar! Biarkan kakak kamu istirahat.” Abi segera mengajak Livy keluar dari kamar Raffael tanpa mempedulikan keinginan anak perempuannya.
Setelah Abi dan Livy keluar dari kamarnya, Raffael mengambilkan baju ganti untuk istrinya. Namun ia lebih dulu berganti pakaiannya.
“Apa mau aku gantiin?” goda Raffael berniat mencairkan suasana agar istrinya lebih rileks.
Jelita beringsut dari tempat tidur dan mengambil baju ganti yang yang diberikan oleh suaminya tadi. lalu segera masuk ke kamar mandi.
“Sayang pelan-pelan!” teriak Raffael dengan tersenyum tipis menatap punggung istrinya. Sayangnya Jelita tak mengindahkan ucapan suaminya.
Setelah berganti baju, Jelita merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Karena ia merasakan kepalanya kembali berdenyut. Sedangkan Raffael masih terlihat sibuk bicara melalui sambungan telepon. Entah dengan siapa.
Selesai mengakhiri panggilannya, Raffael segera menyusul istrinya tidur. Dia tahu kalau Jelita masih belum tidur. Mungkinkah wanita itu menunggu pelukan hangat darinya agar bisa tidur dengan nyenyak.
“Mas, maafkan aku!” lirih Jelita saat lengan kokoh suaminya baru saja melingkar di perutnya.
“Maaf untuk apa?” tanya Raffael bingung.
“Aku belum bisa menjadi istri yang sesungguhnya untuk kamu.”
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!