
Raffael kembali fokus dengan pekerjaannya setelah beberapa waktu lalu mendapat surat gugatan cerai dari Jelita. Dia sudah yakin kalaupun sudah menemukan siapa pelaku itu, Jelita tidak akan mengubah pilihannya untuk tetap mengakhiri hubungan itu. namun Raffael akan tetap mencari pelakunya. Setidaknya dia berpisah dengan Jelita dengan cara yang baik tanpa ada permusuhan atau dendam.
Waktu bergulir semakin cepat. Raffael sengaja mangkir dari persidangan. Dan persidangan itu memang tidak akan berjalan lancar jika dari pihak suami masih belum menyetujuinya. Raffael masih fokus mencari siapa orang yang telah sengaja menghancurkan rumah tangganya.
Malam ini Raffael yang sedang sibuk di ruang kerjanya, tiba-tiba saja ia mendapat sebuah pesan dari orang suruhannya yang ia tugaskan untuk mencari pelaku itu.
“Mario” gumam Raffael masih tidak percaya.
Benarkah Mario yang melakukan itu semua. Walau memang dari awal Mario sangat menginginkan Jelita, tapi bukankah hubungan mereka sudah membaik dengan Mario yang tidak lagi mengusik rumah tangganya.
Raffael juga mengingat saat kedatangan Mario saat itu dimana dia terlihat senang dengan kabar perpisahannya dengan Jelita. apakah benar pria itu yang mengirimkan foto dirinya dengan wanita penghibur ke ponsel Jelita.
Memang benar rencana Mario berhasil. Namun sayangnya yang membuat rumah tangganya dengan Jelita hancur bukan dari foto yang dikirim oleh Mario. Melainkan kesalahannya sendiri. Jadi foto itu hanya sebagai media agar proses perceraian itu cepat selesai.
Raffael mengurungkan niatnya untuk membuat perhitungan dengan Mario. Dia memilih pasrah dengan keadaan. Mau berusaha sekuat apapun kalau Jelita sudah sangat membencinya dan tidak memberikan kesempatan, semua akan percuma. Meski rasa cinta untuk wanita itu tak akan hilang termakan waktu.
Raffael menghembuskan nafasnya pelan. Mulai sekarang ia ingin menata kembali hidupnya yang sempat berantakan. Hidup yang jelas sangat berbeda dari sebelumnya. Raffael juga bertekat akan pergi dari negara ini dan memberikan semua jabatan yang melekat pada dirinya untuk Livy.
Raffael mengambil sebuah kotak dan memasukkan lembaran kertas yang selama ini ia tulis dengan tangannya sendiri. Tak lupa juga dengan beberapa foto kenangan manisnya bersama wanita yang sangat ia cintai.
Keesokan paginya, tepat saat weekend, Raffael datang ke rumah orang tuanya. Rumah yang sudah lama tidak pernah ia datangi.
Raffael berjalan gontai memasuki rumah orang tuanya. Kebetulan rumah sedang sepi, dan tidak ada yang tahu kedatangan Raffael.
Raffael langsung masuk ke dalam kamarnya yang ada di lantai dua. Ia mengambil buku nikah miliknya dan milik Jelita. lalu memasukkannya ke dalam kotak yang ia bawa.
__ADS_1
“Raffa? Kamu pulang, Nak?” pekik Abi bahagia saat melihat Raffael menuruni anak tangga.
Namun rasa bahagia dalam diri Abi perlahan memudar saat melihat tubuh kurus anak laki-lakinya itu. Raffael tersenyum tipis ke arah Mamanya.
“Raffa, kenapa kamu jadi seperti ini?” Abi memeluk erat tubuh Raffael sambil menangis tersedu.
Raffael membiarkan Mamanya memeluk. Dia juga menikmati pelukan itu. karena pelukan ini adalah yang terakhir ia rasakan sebelum pergi meninggalkan semuanya.
“Ma, Papa dan Livy ada? Ada yang ingin Raffa bicarakan dengan kalian semua.” Ucap Raffael setelah mengurai pelukannya.
Abi mengangguk. Lalu ia mengajak Raffael duduk di ruang keluarga. Tak lama kemudian Livy datang dari arah dapur, sedangkan Reno baru saja keluar dari ruang kerjanya. Dan di sinilah mereka sekarang. di ruang keluarga.
“Ada yang ingin Raffa sampaikan pada kalian semua.” Ucap Raffael setelah beberapa saat terdiam.
Jujur saja Abi merasakan perubahan pada diri Raffael yang begitu drastis. Raffael yang dulunya sangat tegas, sikapnya hangat terhadap keluarga, dan tidak pernah sesedih ini.
“Ma, Pa maafkan semua kesalahan Raffa. Raffa akui selama ini Raffa sangat egois. Tidak pernah mendengar nasehat Mama dan Papa. Raffa menyesal Ma. Andai saja saat itu Raffa mendengar nasehat Mama untuk tidak berburuk Sangkat terhadap Jelita, pasti tidak akan seperti ini jadinya. Tapi Raffa sadar, semua ini sudah skenario Tuhan.”
“Pa, mulai sekarang Raffa akan menyerahkan semua jabatan Raffa pada Livy.”
Deg
Air mata Abi tumpah begitu saja. bibirnya bergetar tak sanggup lagi mengatakan sesuatu. Firasatnya buruk tentang apa yang akan dikatakan oleh Raffael selanjutnya.
“Kenapa, Raff? Kamu lah yang pantas mendapatkan itu semua, adik kamu masih perlu banyak belajar dari kamu.” Sanggah Reno tak mengerti apa maksud ucapa anak laki-lakinya.
__ADS_1
“Livy sudah pandai mengelola perusahaan, Pa. kamu pasti bisa Vy!” jawab Raffael lalu melirik sekilas adiknya yang sejak tadi juga diam.
Raffael mengeluarkan kunci mobil dan beberapa kartu atm yang selama ini memang ia dapat dari hasil kerja kerasnya di perusahaan Papanya. Dia hanya meninggalkan kartu atm miliknya pribadi.
“Semua ini Raffa kembalikan. Tolong ijinkan Raffa pergi untuk menata kembali kehidupan Raffa. Raffa janji suatu saat nanti akan pulang ke sini lagi.”
Reno menggenggam tangan istrinya. Melarang wanita itu protes. Lalu melirik Livy yang juga hendak menolak apa yang sudah diserahkan oleh kakaknya. Bukan Reno membenarkan ucapan Raffael. Tapi pria itu lebih memberikan kesempatan pada anak laki-lakinya untuk menata kembali hidupnya. Memang tidak mudah bagi Raffael menghadapi ini semua. Bahkan Reno melihat sosoknya sendiri ada pada anak laki-lakinya itu.
“Kami semua selalu mendoakan kamu, Raff. Dan kami akan setia menunggu kepulanganmu.” Ucap Reno yang paling tegar diantara Abi dan Livy.
Raffael mengangguk lega. Setelah itu mengeluarkan sebuah kotak yang sejak tadi ia bawa. Kemudian dia letakkan di atas meja.
“Tolong berikan ini pada Jelita. Raffa sudah menanda tangani surat gugatan cerainya sekaligus buku nikahnya juga ada di sini. sampaikan permintaan maaf Raffa pada Jelita.”
Setelah itu Raffael memeluk Livy, Reno, dan Abi secara bergantian.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1