Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 58


__ADS_3

Jelita segera mengusap air matanya saat tidak sengaja berpapasan dengan Abi yang sedang menggendong Ethan. Ethan sudah selesai mandi dan badannya terlihat lebih segar. Kemungkinan tadi saat dia ada di dapur, Ethan sudah bangun dan langsung dimandikan oleh Livy.


“Biar Ethan sama Lita saja, Ma!” Jelita meraih Ethan dari gendongan Abi.


Namun Abi masih diam dan sejenak melirik ke bawah kalau Raffael sedang berjalan ke arahnya. Akhirnya ia tidak memperbolehkan Jelita mengambil Ethan. Biar Raffael menyelesaikan masalahnya dengan Jelita.


“Nggak apa-apa. Biar Mama ajak turun ke bawah.” Tolak Abi dan segera berlalu.


Jelita hanya menghembuskan nafasnya pelan. Ia segera masuk ke kamarnya untuk membersihkan kamar sekaligus mandi.


Sesampainya di dalam kamar, Jelita segera menggantikan sprei dengan yang baru. Setelah itu mengumpulkan beberapa pakaian kotor untuk dicuci. Mungkin dengan menyibukkan diri, ia akan sedikit melupakan masalah yang terjadi dengan suaminya.


Tanpa Jelita sadari, ternyata Raffael sudah masuk ke dalam kamar. pria itu masih diam melihat istrinya sibuk beres-beres. Lagi-lagi Raffael merasa menyesal karena telah mengacuhkan istrinya sejak kepulangannya dari rumah mertuanya kemarin. Ditambah lagi dengan ucapan Jelita saat di meja makan beberapa saat yang lalu.


Harusnya sebagai seorang suami ia harus bisa mengontrol emosi dengan baik. Usianya yang lebih matang dari istrinya sama sekali tidak menunjukkan sifat kedewasaannya. Justru Jelita lah yang lebih dewasa dari dirinya. Entahlah, hanya karena cemburu melihat istrinya berdua dengan Arvin, membuat Raffael harus mendiamkan Jelita seperti itu.


“Sayang!” Panggil Raffael saat Jelita masih sibuk dengan kegiatannya.


Jelita berhenti sejenak. Tidak menoleh sedikitpun ke arah suaminya. setelah itu ia kembali melanjutkan aktivitasnya. Mengambil baju kotor dan dimasukkan ke dalam keranjang. Setelah itu dibawa turun.


“Sayang, maafkan aku!” Raffael mencekal lengan Jelita saat wanita itu hendak keluar kamar.


“Mudah kok Mas bilang maaf. Besok atau hari selanjutnya kalau kamu melakukan kesalahan lagi, pasti kamu akan meminta maaf lagi.” sahut Jelita tanpa menatap mata suaminya.


“Lalu aku harus bagaimana? Iya. aku akui memang awalnya aku yang salah. Aku cemburu melihat kamu dengan Arvin. Suami mana yang nggak curiga sekaligus cemburu saat melihat istrinya mengajak bicara seoarang pria hanya berdua saja.”


Jelita meletakkan keranjang yang dibawanya. Setelah itu menatap suaminya dengan tatapan tak percaya. Curiga. Sampai sejauh itu pikiran Raffael terhadapnya.

__ADS_1


“Kamu tanya, kamu harus bagaimana, Mas?” tanya Jelita dan diangguki oleh Raffael.


“Jawabannya simple, Mas. Kamu perlu introspeksi diri. Baiklah, aku terima kalau kamu cemburu. Tapi, bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan kalau di hati ini hanya ada nama kamu? Meskipun kita belum lama saling mengenal. namun utuk ucapan kamu yang mencurigaiku. Sepertinya sekarang aku yang meragukan hati kamu, Mas. Bisa-bisanya kamu mencurigaiku dengan Om Arvin. Kenapa kamu tidak mencoba untuk bertanya baik-baik sama aku, Mas? Aku mau menjelaskan pun kamu sudah lebih dulu mendiamkan aku. terserah kamu Mas sekarang maunya apa. Akan aku turuti. Bukannya aku tidak sabar. Hanya saja merasa percuma kalau kamu tidak bisa bersikap dewasa dalam menghadapi masalah.” Tutur Jelita panjang lebar. Setelah itu dia segera keluar kamar.


Dada Jelita sangat sesak setelah mengatakan semua itu pada suaminya. ternyata menjalani biduk rumah tangga itu tidak hanya sekadar saling mencintai. tapi saling memahami. Entahlah, yang bisa Jelita lakukan saat ini hanya pasrah dengan garis yang ditentukan oleh Tuhan. Semoga Tuhan bisa membuka hati suaminya dengan lapang agar setiap masalah yang datang bisa diselesaikan dengan baik.


Sementara itu Raffael hanya mengusap wajahnya kasar setelah mendengar penuturan sang istri. Kalau sudah seperti ini, rasanya dia akan menunda perjalanannya ke luar negeri. entah sampai kapan. Setidaknya sampai masalahnya dengan sang istri selesai. percuma juga kalau ia memaksa berangkat, namun hubungannya dengan istrinya tidak baik-baik saja.


Raffael duduk mengambil ponselnya. Ia memang sudah membatalkan penerbangannya. Namun ia belum membatalkan meetingnya yang akan dilakukan saat ia tiba di luar negeri. setelah itu dia membuka kembali jasnya. Mungkin hari ini ia akan mengerjakan pekerjaan kantor dari rumah saja.


Seddangkan Jelita setelah meletakkan pakaian kotor di belakang, wanita itu menghampiri Ethan di ruang makan. Di sana juga ada mertuanya dan Livy. Jelita akhirnya ikut bergabung di meja makan. Walau ia belum mandi.


Abi dan Reno bersikap biasa saja seolah tidak tahu apa-apa. Mereka juga tampak bicara santai dengan Jelita yang tengah menyuapi Ethan.


“Vy, nanti ke kantornya berangkat sama Papa saja.” ujar Reno setelah menyelesaikan makannya lebih dulu.


“Ehm, Livy dijemput Febian, Pa.” jawab Livy ragu.


Meskipun Abi cukup mengenal baik kedua orang tua Febian, tidak ada salahnya juga jika anak-anak mereka menjalin hubungan. Hanya saja Abi sedikit kurang suka dengan sikap Febian yang agak angkuh.


“Iya, Ma.” Jawab Livy.


Setelah selesai sarapan, Jelita mengajak Ethan masuk ke kamar. dia akan membiarkan anaknya bermain di sana, sementar ia akan mandi. namun saat Jelita baru saja masuk kamar, dia melihat Raffael sedang duduk di sofa kamar. pria itu tampak sibuk dengan gadgetnya.


Suara panggilan Ethan pun membuat Raffael segera meletakkan ponselnya lalu menyambut bocah itu. sedangkan Jelita langsung masuk ke kamar mandi tanpa mengucapkan sesuatu.


Jelita juga bingung. Kenapa suaminya masih di kamar. bukannya Raffael bilang akan ada perjalanan bisnis ke luar negeri. apalagi saat ini Raffael sudah melepas jasnya.

__ADS_1


Selesai mandi, Jelita menghampiri Ethan yang sedang bermain dengan suaminya. masih sama. Dia tetap diam, tidak bicara apapun pada suaminya.


“Apa kamu mau jalan-jalan, Sayang?” tawar Raffael mencoba untuk mengambil hati istrinya.


“Tidak.” Jawabnya singkat dan kembali menemai Ethan bermain.


Raffael bingung harus bagaimana lagi agar istrinya bersikap seperti biasanya. Mau meminta maaf pun pasti tetap salah. Membujuknya dengan mengajak jalan-jalan pun Jelita tidak mau.


“Mas berangkatnya saja katanya mau pergi. Aku baik-baik saja kok di sini.” ujar Jelita seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan suaminya.


“Aku akan pergi asal kamu dan Ethan ikut.” Jawab Raffael cukup membuat Jelita terkejut.


Ya, akhirnya Raffael menemukan cara untuk membuat istrinya bersikap hangat seperti biasanya. Ia akan mengajak serta Jelita dan Ethan ke luar negeri sekaligus untuk jalan-jalan. Atau bisa juga berbulan madu.


“Tidak, Mas. Aku tidak mau menganggu pekerjaan kamu di sana. Kamu berangkat saja. aku baik-baik saja. lagi pula ada Mama dan Papa, juga Livy yang menemaniku dan Ethan.” Ujar Jelita berusaha menolak ajakan suaminya.


“Tidak, Sayang. Sepertinya memang ini adalah jalan satu-satunya dari masalah ini. kita butuh waktu berdua untuk membicarakan semua ini dengan baik-baik. Memang aku akui kalau aku yang salah. Jadi, sepertinya dengan kita mempunyai waktu berdua yang cukup lama, bisa membuatku berpikir jernih. Mau ya, Sayang? Sekalian kita nanti berbulan madu.” Bujuk Raffael dengan tatapan penuh permohonan.


Jelita menatap lekat mata suaminya yang benar-benar ingin memperbaiki kesalahannya. Mungkin ada benarnya juga yang diucapkan oleh suaminya baru saja. dengan memiliki banyak waktu berdua, mereka pasti akan menemukan jalan yang baik atas masalah kecil yang tengah dihadapi. Agar ke depannya juga tidak ada lagi kesalah pahaman.


“Baiklah.” Jawab Jelita pasrah.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2