
Sudah tiga hari ini Jelita absen dari pekerjaannya. Tentu saja karena Ethan masih dirawat di rumah sakit. Beruntungnya hari ini keadaan Ethan sudah membaik. Tinggal nunggu visit dokter saja apakah sudah diperbolehkan untuk pulang apa belum.
Selama tiga hari di rumah sakit, Jelita terus memikirkan biaya pengobatan Ethan. Makanya saat itu dia minta dokter untuk membiarkan Ethan diberikan rawat jalan saja dari pada harus rawat inap seperti ini. selain waktunya membuatnya harus cuti bekerja, factor lainnya adalah masalah keuangan.
Gaji yang diberikan Bu Alin selama ini lumayan banyak. Namun tetap saja akan habis jika dibuat membayar biaya rumah sakit Ethan. Mungkin setelah ini ia akan berkerja dengan ekstra dan kalau bisa mencari kerja tambahan lagi agar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dengan Ethan.
Cklek
“Bu Alin?” Jelita terkejut saat tiba-tiba wanita paruh baya pemilik café tempatnya bekerja datang.
“Bagaimana keadaan cucuku?” tanya Bu Alin sambil melirik Etah yang tengah asyik bermain di atas brankar.
“Sudah sehat, Bu. Tinggal nunggu visit dokter sebentar lagi. kalau hasil observasi kesehatan Ethan tidak ada apa-apa, mungkin hari ini juga boleh pulang.” jawab Jelita.
Bu Alin mendekati Ethan. Mencium pipi gembul bocah tiga tahun itu. bagi Bu Alin, Ethan sudah dia anggap seperti cucunya sendiri. Karena wanita itu juga yang ikut menemani masa kehamilan Jelita sampai Ethan lahir ke dunia.
Bu Alin yang notebene seorang janda tanpa anak tentu saja sangat bahagia semenjak kehadiran Jelita dalam hidupnya. Wanita yang sudah lama ditinggal pergi oleh suaminya karena kecelakaan tragis, kembali memiliki harapan hidup yang sangat besar saat bertemu dengan Jelita. Wanita Tangguh, kuat, dan penyabar.
Bu Alin sudah menganggap Jelita seperti anaknya sendiri, dan Etahn seperti cucunya. Kekayaan berlimpah milik Bu Alin tak membuat Jelita memanfaatkan keadaan itu. justru ia memilih bekerja di café Bu Alin dan meminta bayaran yang sama dengan karyawan lainnya. Hal itu lah yang semakin membuat Bu Alin sangat mencintai Jelita dan Ethan.
Beberapa saat kemudian datang seorang dokter dengan ditemani perawat akan mengecek keadaan Ethan. Jelita harap-harap cemas. Semoga hari ini juga anaknya bisa pulang.
“Adik Ethan mau pulang?” tanya dokter itu.
“Mau… Ethan mau jayan-jayan…” Jawab bocah itu dengan celotehan yang sangat lucu.
“Baiklah Bu, keadaan anak anda sudah baik. Suhu tubuhnya normal begitu juga dengan tekanan darahnya. Sebentar lagi infusnya akan dilepas. Dan anda bisa menyelesaikan administrasinya sekaligus menebus obatnya.” Ucap dokter itu.
“Baiklah, Dok. Terima kasih.”
__ADS_1
Setelah itu dokter keluar dari ruangan Ethan. Sementara perawatnya masih ada di sana karena akan melepas selang infus di tangan Ethan.
“Ya sudah, kamu temani Ethan dulu, biar Ibu yang menebus obatnya.” Ucap Bu Alin segera beranjak.
“Tidak Bu! Tolong jangan seperti ini. Ethan tanggung jawab saya. Bu Alin tetap di sini saja.” cegah Jelita lalu ia keluar begitu saja dengan membawa tas kecilnya.
Jelita berjalan menuju ruang administrasi dengan perasaan tak menentu. Dia ingat jelas berapa jumlah saldo dalam kartu ATMnya itu. cukupkah uanganya untuk membayar pengobatan Ethan selama tiga hari. Mengingat rumah sakit ini adalah rumah sakit elit yang ada di kota.
Jelita kini sedang mengantri dengan beberapa orang yang juga ingin menyelesaikan administrasi rumah sakit. Dia bahkan rela memilih antrian paling belakang demi menghindari hal yang tidak diinginkan.
Kini tibalah saatnya Jelita berhadapan langsung dengan petugas administrasi. Setelah menyebutkan nama anaknya dan kamar yang ditempati Ethan, Jelita diminta untuk menunggu sejenak.
Jelita menelan salivanya kasar saat mendengar nominal yang disebutkan oleh petugas adiminstrasi itu. jelas saldo ATMnya tidak cukup. Namun dengan percaya dirinya dia memberikan ATM itu pada petugas.
“Maaf, Nona. Bisa pakai kartu yang lain? Ini uangnya tidak cukup.” Ucap petugas itu.
“Masak sih, Mbak? Coba dicek sekali lagi. Mbaknya mungkin salah.” Ucap Jelita sambil memutar otaknya untuk mencari cara.
Dengan sedikit kesal, petugas itu kembali menggesekkan kartu ATM Jelita dan Jelita menekan beberapa pin. Dan hasilnya tetap sama. Uangnya tidak cukup.
“Bayar cash saja, Bu sisanya. Karena memang isi ATM anda tidak cukup.” Ucapan petugas itu semakin membuat Jelita sedih. Uang cash saja ia tidak punya. Selama tiga hari di rumah sakit ia hanya makan dua kali sehari. Karena memang belum saatnya gajian. Lalu bagaimana ini.
“Bayar pakai ini saja, Mbak!” ucap seseorang yang tiba-tiba muncul di samping Jelita dengan menyodorkan kartu ATM dan diberikan pada petugas administrasi itu.
“Ini, Tuan kartunya. Dan ini resep obatnya. Tinggal diambil di apotek yang ada di sebelah.” Ucap petugas itu dengan tersenyum sopan menatap ke arah Raffael.
Jelita masih terdiam. Dia bisa bernafas lega karena ada dewa penolong yang tiba-tiba datang. tapi sayangnya kenapa harus Raffael? Pria yang sempat membuatnya kesal lantaran sok ikut capur dengan kehidupannya.
“Mau sampai kapan kamu berdiri di situ? Ini resepnya, cepat ambil obatnya!” Titah Raffael dengan memberikan resep pada Jelita.
__ADS_1
Jelita diam saja, namun tangannya menerima resep yang diberikan oleh Raffael. Tidak butuh waktu lama, Jelita sudah membawa beberapa bungkus obat dari apotek untuk diminum Ethan nanti.
Kini Jelita bingung mau berkata apa pada Raffael. Pria yang tiba-tiba muncul dan sejak tadi juga masih berada di dekatnya.
“Terima kasih, Tuan. Saya janji akan mengembalikan uang anda secepatnya.” Ucap Jelita tanpa rasa gengsi lagi dan membuang rasa kesal yang sempat ada.
“Aku tidak berharap uang itu kamu kembalikan.” Jawab Raffael.
“Maksud, Tuan?” Jelita jelas bingung. Dia takut bantuan dari Raffael akan membuat dirinya dimanfaatkan oleh pria itu.
“Cukup kamu bekerja denganku, maka hutang kamu itu lunas.” Lanjut Raffael menjawab kegundahan hati Jelita.
“Maaf, Tuan. Saya tidak bisa. Saya sudah betah bekerja di Alin’s Café. Saya akan tetap membayar hutang itu. beri saya waktu.”
“Siapa bilang kamu harus keluar dari Alin’s Café? Justru aku akan bekerjasama dengan Alin’s Café. Jadi setiap jam makan siang, kamu harus mengantar pesanan beberapa kue dari Alin’s Café ‘n Cake. Atau untuk acara tertentu, aku akan memesan kue di sana. Dan kamu lah orang yang wajib mengantarnya. Aku tidak menerima penolakan. Dan aku menganggap ini sudah menjadi kesepakatan kita. Deal?” ucap Raffael dengan mengulurkan tangannya pada Jelita.
Dengan ragu Jelita menerima uluran tangan Raffael. Pria yang beberapa saat yang lalu sudah menjadi dewa penolongnya.
“Deal.” Ucap Jelita.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1