
Malam itu, Raffael dan Jelita tidur bersama dengan nyenyak. Apalagi diantara mereka berdua ada sosok bocah kecil yang juga ikut terlelap dalam mimpinya. Tangan Raffael memeluk Ethan yang tidurnya lebih condong ke arahnya. Sedangkan Jelita posisinya agak menepi, lantaran semalam dia masih merasa canggung karena belum terbiasa berada dalam satu ranjang dengan seorang pria.
Keesokan harinya Ethan terjaga lebih dulu di saat Raffael dan Jelita masih terlelap. Bocah itu mengedip-ngedipkan matanya menatap sekeliling yang tampak sangat asing. Lalu menoleh ke sisi kiri di mana Bundanya masih tidur dengan posisi membelakanginya. Lalu menoleh ke sisi kana nada Raffael yang masih memejamkan matanya.
Ethan benar-benar bingung. Kenapa Raffael ikut tidur bersamanya. Yang ia tahu selama ini hanya ada Bundanya saja saat ia baru saja membuka mata.
“Om Affa!” Ethan menusuk-nusuk pipi Raffael untuk membangunkan pria itu.
Sedangkan Raffael yang merasa tidurnya terusik dengan adanya tangan mungil yang merusuh di wajahnya, perlahan pria itu mengerjapkan matanya. padahal semalam Raffael tidur paling terakhir. Lebih tepatnya sangat sulit memejamkan matanya karena merasa ada yang bergejolak dalam tubuhnya saat baru pertama kalinya tidur seranjang dengan wanita. namun saat ini ia melihat wajah lucu Ethan dengan mata masih sayu khas bangun tidur, mau tidak mau ia pun bangun.
“Selamat pagi anak Ayah!” sapa Raffael sambil mencium gemas pipi gembul Ethan.
Ethan tampak kebingungan dengan kalimat Raffael baru saja. karena memang selama ini ia tidak pernah sekalipun mendengar kata Ayah. Apa itu Ayah. Siapa itu Ayah. Seperti apa sosoknya. Raffael yang mengerti dengan kebingungan Ethan, dia langsung mengajak Ethan bangun dan membiarkan Jelita tidur. Waktu juga masih pagi.
Raffael membawa Ethan menuju balkon kamar hotel. Dia ingin memberitahu pada bocah itu agar merubah panggilannya. Karena setelah ia sah menjadi suami Jelita, otomatis Raffael juga akan menjadi Ayah Ethan. Walaupun ayah sambung, namun Raffael akan menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri.
“Ethan, mulai sekarang panggil Om Affa Ayah! Bisa?”
Raffael tertawa gemas melihat ekspresi Ethan yang masih tidak mengerti sepenhnya dengan ucapan Raffael. Namun dia tidak putus asa. Ia terus menuntun Ethan untuk mengucapkan kata “Ayah” berulang kali. Layaknya seorang ayah sungguhan, Raffael terus mengajari anaknya agar memanggilnya dengan sebutan Ayah. Dan melarangnya memanggil Om lagi.
Jelita yang sudah bangun entah sejak kapan, wanita itu mengintip kebersamaan suaminya dengan Ethan di balkon. Bahkan Ethan sudah mulai bisa memanggil Raffael dengan sebutan ayah. Dan hal itu membuat Raffael bersorak senang. Jelita pun ikut bahagia melihat kebersamaan dua laki-laki berbeda generasi itu.
“Kamu sudah bangun?” tanya Raffael agak salah tingkah karena melihat Jelita sudah berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
“Sudah, Mas. Ethan, ayo mandi dulu, Sayang!”
“Bunda… ethan cekalang punya ayah Om Affa.” Celoteh Ethan menghampiri bundanya dengan binar mata bahagia.
“Iya, sayang. Mulai sekarang Ethan harus memanggil Om Affa, ayah. Mengerti?”
Ethan menjawabnya dengan anggukan kepala. Bahkan bocah itu tampak sangat bahagia sekali, padahal tidak mengerti apa-apa. Raffael juga ikut bahagia. Lalu ia membiarkan istrinya membawa Ethan masuk untuk memandikannya.
Setelah selesai sarapan, Raffael segera mengajak Jelita ke rumah Arvin. Karena sesuai kesepakatan kemarin. Pria itu akan mengantar Jelita pergi ke rumah Ibunya. Setidaknya dia juga akan ikut bicara mengenai kehidupan Jelita selama ini.
Beberapa saat kemudian mobil Raffael sudah tiba di rumah Arvin. Pria itu sepertinya memang sudah menunggu kedatangan Jelita sejak tadi. kemudian mereka segera pergi ke rumah orang tua Jelita yang tidak terlalu jauh dari rumah Arvin.
Dalam perjalanan, Jelita tampak gugup. Dia sangat takut membayangkan bagaimana nanti reaksi ibunya saat kembali bertemu dengannya. mengingat wanita yang telah melahirkannya itu dulu tampak murka setelah dianggap menjadi penyebab kematian sang ayah.
Jelita hanya mengangguk, walau perasaan gugup itu masih terus melekat di hatinya.
Beberapa saat kemudian mobil Raffael berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Rumah yang masih sama seperti terakhir kalinya Jelita pergi. Ada rasa yang tak bisa digambarkan dalam diri Jelita saat mengenang masa kecilnya di rumah itu.
“Ayo!” Raffael mengajak Jelita untuk segera keluar. Sedangkan Ethan ia bawa ke dalam gendongannya.
Arvin yang lebih dulu berjalan menuju rumah yang tampak tertutup itu. selama ini setahu Ervin, kakak iparnya itu hanya tinggal seorang diri. Karena memang Jelita tidak punya saudara.
“Om, aku takut!” lirih Jelita yang sedang berdiri tepat di belakang Arvin.
__ADS_1
“Tenanglah! Semuanya akan baik-baik saja.” ujar Arvin sambil mengusap pelan punggung keponakannya.
Raffael lagi-lagi terusik melihat sikap Om dari istrinya itu seakan berbuat melebihi sikap seorang Om terhadap keponakannya. Namun ia berusaha biasa saja. lagi pula setelah ini ia akan membawa Jelita pergi.
Arvin mengetuk pintu beberapa kali. Tak lama kemudian pintu itu terbuka dengan menampakkan seorang wanita paruh baya yang terlihat lebih kurus dari yang Jelita lihat terakhir kalinya.
“Arvin? Ada apa? Tumben sekali?” tanya Bu Sukma, Ibu Jelita.
Wanita itu masih belum menyadari kedatangan adik iparnya yang tidak sendirian.
“Mabk Sukma apa kabar? Maaf, aku tidak pernah datang ke sini. dan aku ke sini karena ada seseorang yang ingin bertemu dengan Mbak.” Jawab Arvin lalu sedikit memberi jarak agar Bu Sukma bisa melihat Jelita yang sejak tadi berdiri di balik punggunggnya.
Kedua pasang mata itu saling bertemu. Bahkan keduanya sama-sama terdiam dengan mata yang sudah mengembun.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1