Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 66


__ADS_3

Jelita menatap intens mata suaminya setelah pria itu mengusap perutnya. Apakah Raffael menginginkan anak darinya secepat itu.


“Apa kamu ingin memiliki anak secepatnya, Mas?” tanya Jelita sedikit meragu.


Bukan maksud hati Jelita tidak ingin mengandung secepat itu. dia masih mengingat dengan jelas saat menjalani masa sulit saat sedang mengandung Ethan dulu. Dan rasa takut itu masih ada. Takut jika kejadian itu terulang kembali. Lalu jika dirinya benar-benar diberi momongan dalam waktu dekat ini, bagaimana dengan Ethan? Anak itu masih membutuhkan kasih sayangnya. Bagimana jika Ethan nantinya akan kehilangan kasih sayang darinya.


Raffael memegang tangan istrinya. Dia mengerti apa yang sedang ada dalam pikiran istrinya. Tentunya ia tidak ingin membebani Jelita dalam hal apapun, khususnya mengenai anak.


“Setiap pasangan yang menikah pasti ingin memiliki anak. Meskipun itu bukan tujuan utama dari sebuah pernikahan. Aku tahu apa yang kamu pikirkan saat ini, Sayang. Jangan khawatir, jika nanti Tuhan memberikan kita anak dengan cepat, aku berjanji tidak akan pilih kasih dengan Ethan. Dan Ethan juga tidak akan kehilangan kasih sayang sedikitpun dari kita.” Ujar Raffael cukup membuat hati Jelita lega.


Jelita sangat bersyukur memiliki suami seperti Raffael. Kini rasa takut untuk mengandung lagi perlahan menghilang. Apalagi sekarang ia sudah memiliki keluarga yang utuh. Hubungannya dengan sang Ibu juga sudah membaik. Walau tidak ada sosok Ayah lagi di sampingnya.


**


Cukup lama Ethan menghabiskan waktunya di playground. Hingga akhirnya Raffael mengajaknya pulang. namun sebelum pulang, dia mengajak istri dan anaknya singgah dulu ke sebuah restaurant untuk mengisi perut.


“Mas, tolong jaga Ethan sebantar! Aku mau ke toilet dulu.”


“Iya, tenang saja. dia aman bersamaku.”


Ethan sendiri terlihat duduk dengan tenang sambil matanya melihat sekeliling yang tampak asing. Mungkin bocah itu juga kelelahan, jadinya tidak banyak tingkah. Sedangkan Raffael mengambil ponselnya untuk menghubungi Mario.


Raffael baru bisa menghubungi Mario setelah beberapa hari ia menolak panggilannya. Mumpung Jelita sedang di toilet, ia akan memberikan kesempatan buat Mario bicara dengan Ethan, sekaligus memberi ultimatum pada pria itu agar tidak melakukan berbagai cara licik untuk mendekati istrinya melalui Mamanya seperti kemarin.


Panggilan itu langsung tersambung. Raffael langsung menghadapkan kamera ponselnya pada Mario. Pria yang berstatus sebagai ayah biologis Ethan itu tampak senang bisa melihat buah hatinya selama beberapa hari ini absen dari pandangannya. Hanya saja mood Ethan yang sedang buruk, karena bocah itu kelelahan bermain, akhirnya ia sedikit rewel saat bicara dengan Papanya. Akhirnya Mario mengakhiri panggilan itu karena tidak tega melihat anaknya yang menangis jauh di sana dan dirinya tidak bisa memeluknya.


“Lain kali tidak perlu memakai cara seperti kemarin kalau kamu ingin bicara dengan Ethan. Atau aku sama sekali tidak akan memberimu kesempatan untuk bertemu lagi dengan Ethan.” Ucap Raffael dingin sebelum mengakhiri panggilaannya dengan Mario.

__ADS_1


Setelah bicara seperti itu, Raffael langsung menutup panggilannya tanpa menunggu jawaban atau melihat reaksi dari Mario. Sedangkan Mario sendiri hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Dia tahu kalau setelah kejadian kemarin, pasti sudah membuat kesalah pahaman antara Raffael dan Jelita.


Sementara itu Jelita yang baru saja keluar dari toilet tiba-tiba saja ada yang memanggilnya. Wanita itu tampak heran sebelum menoleh ke sumber suara. Bukankah dirinya di negara ini adalah orang asing. Bagaimana mungkin ada yang mengenalnya.


“Hei, Nona Jelita! Aku sedang memanggilmu.” Seru perempuan itu berjalan mendekati Jelita.


Jelita menoleh. Dia sangat terkejut saat melihat seorang perempuan yang dulu pernah ia lihat datang ke kantor Raffael. Perempuan itu dulu sempat memeluk Raffael saat dirinya masih belum memiliki hubungan apa-apa dengan Raffael.


“Anda siapa ya?” tanya Jelita dengan sopan.


“Perkenalkan, aku Sania. Mantan calon kekasih Kak Raffa.” Ucap Sania percaya diri.


Jelita menyambut uluran tangan Sania. Namun sebelum tangannya menyentuh tangan Sania, Sania justru mengabaikan Jelita begitu saja. dan hal itu semakin membuat Jelita heran dengan Sania.


“Ehm, ada keperluan apa ya Nona Sania dengan saya?” tanya Jelita berusaha untuk tetap tenang.


Jelita mendengar dengan seksama semua ucapan Sania. Entah kenapa justru dia ingin tertawa mendengar kalimat Sania yang awal tadi. mantan calon kekasih. Bukankah itu artinya kalau diantara suaminya dengan Sania sama sekali belum terjalin hubungan apapun. Sungguh percaya diri sekali wanita di hadapannya itu.


“Memang saya miskin dan status sosial saya dengan Mas Raffa beda jauh. Lalu anda mengatakan kalau saya hanya memanfaatkan kekayaan Mas Raffa yang notebene adalah suami saya. memangnya letak kesalahannya di mana, Nona? Mempunyai suami kaya seperti Mas Raffa sudah lebih dari cukup buat saya. dan itu hal yang sangat wajar, daripada sudah mempunyai suami tapi memanfaatkan kekayaan dari pria lain. Itu baru aneh dan tidak beradab.”


Sania mengepalkan kuat tangannya saat mendengar jawaban Jelita. Dia tidak menyangka kalau wanita di hadapannya itu sangat pandai bicara.


“Saya permisi dulu. Masih banyak hal yang lebih penting untuk saya lakukan daripada mendengarkan kalimat tak bermutu dari orang yang sama sekeli tidak saya kenal.” Lanjut Jelita sebelum Sania mengeluarkan kalimat umpatannya.


Jelita melenggang pergi begitu saja meninggalkan Sania yang masih menahan kekesalannya.


**

__ADS_1


“Kenapa lama sekali? Ethan sejak tadi rewel. Sepertinya dia sangat ngantuk.” Tanya Raffael saat melihat istrinya baru saja datang.


Jelita langsung membawa Ethan ke dalam pangkuannya. Dia sudah hafal dengan gelagat anaknya jika sudah rewel seperti ini.


“Maaf, Mas!” jawab Jelita singkat sambil menimang Ethan di atas pangkuannya. Dia juga tidak ingin mengatakan pada suaminya tentang pertemuannya dengan Sania baru saja.


“Ya sudah lebih baik kamu makan dulu, biar Ethan aku yang gendong.”


“Nggak usah, Mas! Biarkan seperti ini. aku tahu, sebentar lagi dia pasti tidur.” Jawab Jelita lalu tangan kanannya mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Raffael yang lebih dulu menyelesaikan makannya, pria itu langsung meraih sendok yang dipegang istrinya. Dia langsung menyuapi Jelita.


“Mas, jangan seperti ini! aku bisa makan sendiri.” Tolak Jelita merasa tidak enak dengan beberapa pengunjung di sekitarnya yang tampak memperhatikannya.


“Ayo buka mulutmu, Sayang! Atau aku akan menyuapi dengan yang lain?” Raffael mengabaikan penolakan istrinya.


Beberapa pengunjung yang melihat keromantisan Raffael terhadap Jelita ikut tersenyum hangat. Bahkan ada yang mengambil foto mereka. Mungkin karena mereka melihat sosok Raffael yang sangat romantis dan juga perhatian terhadap pasangannya. Apalagi sejak tadi Raffael juga sibuk menemani anaknya saat Jelita pergi ke toilet.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2