
Keesokan paginya Raffael bangun lebih dulu. Dia melihat Jelita yang masih nyenyak dalam mimpinya, membiarkannya saja. mengingat semalam mereka berdua bertempur habis-habisan sampai waktu menjelang pagi. tentunya tenaga Jelita terkuras lebih banyak dibandingkan dirinya.
Raffael membersihkan tubuhnya terlebih dulu sebelum ke kamar Ethan. Karena memang tujuan Raffael bangun lebih awal untuk bertemu Ethan yang semalam tidak ia jumpai.
Beruntungnya setelah Raffael mandi dan masuk ke kamar Ethan, maid yang biasa membantu merawat Ethan belum ke sana. Jadi Raffael bisa memiliki kesempatan untuk memandikan bocah itu.
Dan benar saja, saat Raffael baru saja masuk ke kamar Ethan, bocah itu baru saja bangun. Ethan tampak sangat lucu dan menggemaskan dengan wajah yang masih bau bantal seperti itu. tanpa diduga, Ethan langsung bangun dan merentangkan tangannya pada Raffael. Mungkin dia kangen dengan ayahnya karena kemarin tidak bertemu sama sekali.
Raffael menciumi seluruh wajah Ethan. Bocah itu sedikit merengek dengan bahasanya yang belum sempurna untuk menanyakan kemana Ayah kemarin.
“Sayang, maafkan Ayah ya? Kemarin Ayah pulangnya malam jadi, tidak bisa menemani Ethan bermain.” Ucap Raffael sembari mengusap kepalanya.
Sepertinya Ethan masih menikmati kebersamaanya dengan Ayahnya. Jadi Raffael tidak langsung memandikan bocah itu dulu. Sedangkan maid yang baru saja masuk berniat memandikan Ethan, terpaksa undur diri karena melihat majikannya ada di sana.
Kurang lebih selama setengah jam Raffael menemani Ethan bermain di dalam kamarnya. Setelah itu dia mengajak Ethan mandi di bak mandi yang sudah tersedia di dalam kamar mandi itu.
Dengan wajah yang lebih segar dan tentunya harum, Raffael menggendong Ethan keluar dari kamarnya. Pria itu berniat mengajak Ethan bermain di bawah, ternyata Jelita juga baru saja keluar dari kamar.
“Mas, kamu yang mandiin Ethan?” tanya Jelita sambil melihat anaknya yang tengah asyik dengan mainan di taangannya.
“Iya. tadi aku bangun lebih dulu karena sangat kangen dengan bocah ini.” jawab Raffael sambil mengusap kepala Ethan.
Jelita hanya mengangguk samar. Setelah itu mereka bertiga turun untuk sarapan bersama.
“Apa badanmu sudah enakan?” tanya Raffael tiba-tiba.
Wajah Jelita bersemu merah mendengar pertanyaan seperti itu dari suaminya. apalagi ia masih ingat dengan jelas bagaimana pertempuran panasanya semalam.
__ADS_1
“Hei, kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Apa ingin melakukannya lagi?” bisik Raffael tepat di telinga istrinya.
Jelita langsung mencubit perut suaminya dan berjalan lebih dulu menuju ruang makan. Dia tidak menyangka kalau ternyata suaminya sangat mesumm. Tapi kenapa dia juga suka. Entahlah.
Sesampainya di ruang makan, Jelita langsung tergoda dengan berbagai menu makanan yang disajikan oleh maid. Menu makanan khas Indnesia yang menjadi kesukaannya. Sebelumnya Raffael juga sudah berpesan pada maid yang bertugas di bagian perdapuran, selama ia dan istrinya tinggal di sini agar memasak masakan khas Indonesia saja.
“Sayang, pelan-pelan makannya! Sampai belepotan gini. Dasar Bundanya Ethan!” Raffael mengelap pipi istrinya yang tak sengaja terkena makanan.
Jelita menghentikan kunyahannya. Setelah itu menatap pada suaminya. tapi mau bagaimana lagi, mungkin saking laparnya sekaligus menunya sangat sesuai dengan seleranya saat ini.
Sedangkan Ethan sendiri makan disuapi oleh Raffael. Padahal Jelita sudah meminta suaminya untuk makan terlebih dulu, biar nanti Ethan ia yang suapin. Tapi sayangnya Raffael tidak mau. Ia ingin menyuapi Ethan terlebih dulu.
“Kamu tahu, apa alsanku lebih mementingkan Ethan daripada aku sendiri?” tanya Raffael pada Jelita yang hampir menyelesaikan makannya.
Jelita menjawabnya dengan gelengan kepala.
Mungkin Raffael tidak ingin Mario yang notabene ayah kandung Ethan lebih perhatian daripada dirinya. Sedangkan dirinya yang mempunyai kesempatan lebih banyak dari Mario, jadi ia gunakan untuk lebih perhatian ke Ethan, sebelum Mario menguasai Ethan.
“Tidak perlu seperti itu, Mas! Ethan cukup paham. Dengan setiap hari dia melihat kamu, otomatis dia lebih sayang sama kamu. Jangan berpikiran buruk, Mas!” balas Jelita sambil mengusap lembut lengan suaminya.
Raffael hanya menganggukkan kepalanya. Meskipun dia masih takut jika hal buruk itu terjadi sungguhan. Karena memang Ethan lah yang harus diutamakan. Kalau Ethan sudah berada di bawah kendalinya, Mario juga tidak mempunyai peluang untuk mendekati Jelita.
Setelah menyelesaikan sarapannya, seperti janji Raffael semalam, dia akan mengajak istri dan anaknya untuk pergi jalan-jalan. Pekerjaan kantor yang beberapa hari teah banyak menyita waktunya, kini sudah terselesaikan. Akhirnya ia mempunyai banyak waktu untuk Jelita dan juga Ethan.
Beberapa saat setelah bersiap, kini mereka sudah siap berangkat. Raffael berencana akan mengajak Jelita dan Ethan pergi ke beberapa tempat wisata terdekat. Tentunya yang menyediakan playground.
Sepanjang perjalanan, Ethan tampak sangat senang. Karena semenjak kedatangannya di negara ini, baru hari ini Raffael sempat mengajak mereka jalan-jalan.
__ADS_1
“Maafkan aku, Sayang! Akhir-akhir ini memang pekerjaanku sangat padat. dan hari ini baru bisa mengajak kalian jalan-jalan.”
“Nggak apa-apa, Mas. Aku paham kok. Lagi pula tujuan kamu ke sini kan karena untuk urusan pekerjaan.”
“Iya. aku usahakan nanti ada waktunya untuk kita berdua.” Ujar Raffael sambil mengelingkan matanya.
Jelita langsung mengalihkan pandangan. Karena dia masih sangat malu jika membahas hal lebih inntim dengan suaminya. apalagi sekarang suaminya sedang terkena virus mesyyum.
*
Kini Raffael dan Jelita sedang duduk di sebuah kursi tunggu dimana saat ini mereka sednag mengawasi Ethan yang sedang asyik bermain. Raffael membawa Ethan yang sebuah playground yang cukup luas yang berada di luar ruangan. Di sana banyak sekali mainan yang sudah dikelompokkan sesuai usia anak. Bahkan ada beberapa pengawas yang memantau anak-anak bermain. Para orang tua juga diperbolehkan menemani anak-anak mereka, atau membiarkannya saja dan menunggu di tempat yang disediakan.
Jelita juga sangat senang melihat anaknya yang sedang asyik bermain. Semenjak menikah dengan Raffael, dia memang merasa kalau kehidupannya banyak mengalami perubahan. Terutama dalam hal materi. Entahlah, bukan maksud Jelita memanfaatkan kekayaan suaminya, tapi dia sangat senang jika Raffael mengutamakan anaknya. karena selama ini memang Ethan jarang sekali, atau hampir tidak pernah ia ajak pergi jalan-jalan.
“Terima kasih, Mas. Terima kasih kamu sudah menyayangi Ethan dan menjamin kehidupannya.” Ucap Jelita dengan mata berkaca-kaca sambil melihat Ethan yang sedang tertawa riang.
“Sayang, kamu jangan bilang seperti itu. ini Sudha menjadi kewajibanku. Meskipun Ethan bukan darah dagingku, tapi semenjak kamu sah menjadi istriku, kalian adalah tanggung jawabku. Aku tidak peduli uangku habis, kalau itu demi kebahagiaan kalian berdua. Eh bertiga.” Jawab Raffael. Dan dia akhir kalimatnya membuat Jelita bingung.
“Iya. yang satunya lagi sedang OTW.” Lanjut Raffael sambil mengusap perut rata Jelita.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!