
Setelah mendapat perintah dari atasannya yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Kini Livy berjalan memasuki ruangan Papanya. Ia berjalan dengan kesal sambil menghentakkan kakinya. Tanpa mengetuk pintu, Livy masuk begitu saja ke ruangan Papanya. Dan wajahnya masih tampak kesal.
Sedangkan Reno yang tengah fokus dengan layar laptop di hadapannya dibuat cukup terkejut dengan kedatangan seseorang tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
“Livy! Bisa tidak kamu bersikap sopan? Jangan mentang-mentang ini kantor milik Papa, jadi kamu tidak punya sopan santun.” Tegur Reno dengan suara tegas.
Livy menundukkan kepalanya. Ia takut dan merasa sangat bersalah. Semua ini gara-gara kakaknya yang sudah membuatnya kesal.
“Maaf, Pa!” ucap Livy kemudian.
“Lain kali jangan diulangi lagi. meskipun dengan kakak kamu sendiri. Ingat kalau di kantor, dia atasan kamu. Bersikaplah secara professional.” Lanjut Reno dan Livy hanya menganggukkan kepalanya saja. sebenarnya ia sangat bosa mendengar nasehat seperti ini dari Papanya. Terlabih ia sampai melupakan tujuan utamanya datang ke ruangan Papanya.
“Iya, Pa. lalu, untuk apa Papa memanggil Livy? Apa ada pekerjaan penting yang harus Livy kerjakan?” tanya Livy cukup sopan.
Sedangkan Reno tampak mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan anak perempuannya baru saja. dia merasa tidak memanggil Livy. Bahkan jika ada pekerjaan penting, dia tidak serta merta meminta bantuan pada Livy. Karena Reno sudah mempunyai asisten pribadi. Dan Livy seharusnya juga tahu akan hal itu.
“Papa tidak memanggil kamu. Bukankah kamu juga tahu sendiri kalau Papa ada asisten pribadi?” jawab Reno.
Livy mendongak menatap Papanya. Mencerna kata demi kata yang baru saja diucapkan oleh sang Papa. Semuanya benar. Papanya tidak akan memanggil dan meminta bantuan padanya. Jadi,
“Sialan! Kakak nggak punya akhlak!” umpat Livy dengan keras dan didengar cukup jelas oleh Papanya.
“Livy!!!! Kamu ini bicara apa?” tanya Reno dengan nada tinggi.
Livy melirik sekilas pada wajah Reno yang sudah memerah seperti hendak menelannya hidup-hidup. Livy pun mulai menghitung mundur dan mencari ancang-ancang agar bisa kabur dari amarah Papanya.
3… 2… 1
Brakk
Livy berlari keluar dari ruangan Papanya. Dan tanpa sengaja justru ia menutup pintu ruangan Papanya cukup keras. Reno pun semakin murka.
Livy berjalan dengan cepat dan nafasnya terengah-engah. Ia sangat marah pada Kakaknya yang sudah mengerjainya.
Cklek
Mata Livy melotot tajam saat baru saja membuka pintu ruangan CEO. Dia melihat dengan jelas kalau Raffael sedang menggenggam kedua tangan wanita si pengantar kue.
__ADS_1
Sedangkan Jelita yang terkejut, ia segera melepas tangan Raffael. Setelah itu dia segera keluar dari ruangan Raffael.
Livy masih terperangah sampai ia tidak menyadari kalau Jelita sudah keluar dan pergi begitu saja. namun setelah sadar, ia bingung. Mau mengejar Jelita atau meluapkan amarahnya pada sang Kakak.
“Bisa nggak sih, Vy kamu kalau masuk ketuk pintu terlebih dulu?” ucap Raffael dengan kesal. Bagaimana tidak kesal, kalau kedatangan Livy yang tiba-tiba telah merusak momennya dengan Jelita baru saja. bahkan ia belum sempat mendengar jawaban dari Jelita, lantaran kedatangan Livy.
Kini Livy memutuskan untuk meluapkan amarahnya pada kakaknya dibandingkan mengejar Jelita yang sudah dipastikan kalau wanita itu sudah masuk lift.
Aww…
“Tolong! Vy, berhenti! Kamu ini apa-apaan sih?” Teriak Raffael saat Livy tiba-tiba menyerangnya dengan membabi buta.
Livy mencubit perut Raffael, memukul punggungnya dan menarik rambut Raffael dengan cukup kasar. Untung saja tenaga Raffael cukup kuat untuk mencegah kebrutalan adiknya. Dan saat Livy hendak mencakar wajahnya, dengan cepat Raffael menangkap kedua tangan Livy lalu memitingnya.
Kedua kakak beradik itu tampak ngos-ngosan. Terutama Livy yang masih menyimpan dendam membara pada kakaknya.
“Lepaskan!! Kakak nggak punya akhlak! Aku pecat kamu menjadi kakakku!” umpat Livy berusaha lepas dari jeratan kakaknya.
“Kamu tuh yang adik nggak punya akhlak, karena nggak punya sopan santun!” balas Raffael tak kalah kesal.
“Lepas! Aku sangat marah denganmu, RAFFAEL! Kakak durjana nggak punya akhlak!” sepertinya memang Livy benar-benar sangat kesal dengan kakaknya. Tapi Raffael juga tidak akan melepaskan Livy begitu saja.
“Astaga!!! Kalian ini apa-apaan?” pekik Abi yang sangat terkejut saat memasuki ruangan Raffael.
Seketika itu Raffael melepas jeratan tangannya yang sejak tadi memiting tangan Livy. Keduanya sama-sama terdiam setelah melihat kehadiran Mamanya yang secara tiba-tiba.
“Kalian ini bukan anak kecil lagi. kenapa masih suka berantem sih? Ini nih yang Mama nggak suka kalau kalian berdua bertemu.” Kesal Abi lalu melenggang masuk begitu saja dan duduk di sofa.
Abi memang sudah tahu kebiasaan kedua anaknya itu. sejak masih kecil, Raffael dan Livy memang sering sekali berantem. Walau keduanya saling menyayangi, namun hal itu juga diiringi dengan pertengkaran kecil yang sering mereka lakukan dan membuat Abi semakin pusing dibuatnya.
“Kak Raffa tuh Ma yang mulai duluan. Dia ngerjain aku suruh ke ruangan Papa. Eh ternyata dia malah asy,-mmppp”
“Apa kamu mau aku bilang ke Mama tentang Fabian?” bisik Raffael dengan suara yang sarat akan nada ancaman.
Abi yang tidak peduli dengan ucapan Livy, seketika melihat ke arah anak perempuannya itu saat Livy tidak jadi melanjutkan ucapnnya.
“Kenapa kakak kamu?” tanya Abi penasaran.
__ADS_1
“Oh, ini loh Ma. Kak Raffa malah asyik sendiri menikmati kue dari Alin’s Café n Cake.” Jawab Livy dengan tersenyum kaku.
“Benarkah? Mana? Katanya sekarang kamu rutin memesan kue di café Tante Alin? Benar begitu, Raff?” tanya Abi lalu menuju meja Raffael dimana ada beberapa box kue di sana.
Raffael menghela nafasnya lega saat Mamanya lebih fokus dengan kue pesanannya dan tidak membahas masalah pertengkarannya dengan Livy.
Sedangkan Livy yang merasa lelah, dia langsung mengambil Milk Shake yang hampir diminum oleh kakaknya. Bahkan Livy tidak peduli dengan tatapan horror dari kakaknya.
***
Sore ini pulang dari kantor, Raffael langsung pergi ke café dimana Jelita bekerja. Kedatangannya kesana selain untuk mengucapkan terima kasih pada Bu Alin atas kue Black Forest pemberiannya tadi siang, Raffael juga ingin bertemu dengan Jelita.
“Tante, bisakah Tante meminta Jelita agar menemuiku di mejak yang paling ujung itu?” ucap Raffael meminta bantuan pada Bu Alin.
Bu Alin pun mengangguk. Setelah itu beranjak mencari Jelita.
“Silakan, Tuan!” ucap Jelita dengan memberikan segelas minuman dingin di meja Raffael.
“Jelita, aku ingin bicara!”
Jelita terkejut. Dia tidak tahu kalau meja yang ia tuju adalah meja Raffael. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba gugup saat melihat tatapan lembut pria itu.
“Aku sudah meminta ijin pada Tante Alin untuk bicara denganmu. Please!”
Akhirnya mau tidak mau Jelita duduk di kursi depan Raffael.
“Bagaimana dengan permintaanku tadi siang? Kamu tadi belum menjawabnya.”
Jelita jelas masih ingat dengan kalimat yang dilontarkan Raffael tadi siang saat di kantor. sebenarnya dia bingung, kenapa pria itu ingin menjaga dan melindunginya.
“Maaf, Tuan! Saya bukanlah orang yang pantas untuk anda jaga dan anda lindungi. Karena saya bisa melakukannya sendiri. Permisi!” Jawab Jelita dengan sopan, lalu bergegas pergi meninggalkan Raffael.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!