
Alasan Jelita ingin tinggal lagi bersama mertuanya sekaligus Ethan karena pernah suatu ketika ia bicara berdua dengan Abi melalui sambungan telepon. Saat itu Abi mengatakan kalau Reno sudah sering sakit-sakitan. Apalagi usianya juga sudah tua dan tidak seharusnya bekerja terlalu keras di perusahaan. Meskipun Livy sekarang yang menjadi CEO, namun suatu saat pasti Livy juga akan mengundurkan diri dari posisi itu kalau dia sudah menikah kelak.
Abi mengatakan pada Jelita agar bisa membujuk suaminya untuk pulang kembali ke rumah, sekaligus memimpin kembali perusahaan. Saat itu Jelita tidak langsung mengiyakan. Dia hanya berusaha. Apalagi saat ini usaha toko kuenya sedang naik-naiknya. Banyak sekali pesanan dari beberapa konsumen yang sangat menyukai produk olahan Jelita.
***
Dan waktu itu pun datang. sesuai dengan syarat yang diajukan oleh Jelita pada suaminya saat itu akhirnya terwujud. satu tahun kemudian, tepatnya hari ini Raffael dan Jelita akan bersiap pulang ke negara kelahirannya. Dan bertepatan dengan Jelita sudah berhasil mengandung kembali buah hatinya bersama Raffael. Bahkan usia kandungannya sekarang sudah memasuki bulan ke empat.
Banyak sekali alasan Raffael dan Jelita memutuskan untuk pulang. pertama, semenjak diketahui Jelita tengah berbadan dua, wanita itu sering sekali rewel. Hampir setiap hari melakukan panggilan video dengan Ethan, karena ingin segera pulang dan bisa memeluk bocah menggemaskan itu. Abi dan Reno juga sudah jarang berkunjung karena alasan kesehatan. Jelita setiap hari juga menginginkan makan masakan khas Indonsesia. Meskipun Raffael bisa membuatkannya atau membeli di salah satu restaurant khas Indonesia, tetap saja lidah Jelita masih tidak bisa menikmati makanan itu. sedangkan alasan kedua adalah permintaan dari Reno sendiri pada Raffael untuk kembali lagi ke perusahaan. Menurut pria itu sudah cukup bagai Raffael memperbaiki kehidupannya bersama Jelita. kini sudah saatnya harus kembali lagi ke asalnya. Bukankah Raffael dulu juga sudah berjanji untuk pulang.
Dan alasan terakhir adalah karena Livy. Bulan depan adiknya itu akan menikah. selain wajib hadir ke pernikahan adik tersayangnya, Raffael mendapat kabar kalau setelah menikah Livy akan melepas jabatannya itu dan menyerahkan kembali pada kakaknya. Jadi Raffael dan Jelita akhirnya mantap memutuskan untuk pulang dan tinggal bersama kedua orang tua mereka lagi. sedangkan untuk usahanya yang ada di sini tetap berjalan seperti biasa. Tentunya akan dikelola oleh orang-orang Raffael yang sudah dipercaya.
**
Jelita tampak sumringah karena beberapa jam lagi akan pergi ke bandara. Wanita itu sedang mengusap perutnya yang sedikit membuncit. Rasa bahagia terpancar dari wajah ayu ibu muda itu.
“Apa semuanya sudah siap, Sayang?” tanya Raffael yang baru saja masuk ke kamar untuk mengecek kelengkapan barang-barang yang akan dibawa pulang.
“Sudah, Mas. Aku sudah tidak sabar.” Ujar Jelita menatap suaminya dari pantulan cermin di hadapannya.
__ADS_1
Raffael tersnyum hangat lalu memeluk istrinya dari belakang dengan memberi usapan lembut pada perut istrinya yang saat ini tengah bersemayam calon buah hatinya di sana. Sungguh Raffael sangat bersykur atas kehamilan istrinya kali ini. mengingat kesalahannya saat itu, saat Jelita pertama kali mengandung buah hatinya, belum sempat dia menyentuh buah hatinya seperti sekarang ini, namun Tuhan telah berkehendak lain.
“Sayang, bagaimana kalau pulangnya nanti kita tidak langsung ke rumah Mama dan Papa?” tanya Raffael sambil menahan rasa sedih yang membuat Jelita mengerutkan kening.
Jelita mengurap pelukan suaminya, lalu menatap heran wajah suaminya yang tiba-tiba tertunduk sedih.
“Kenapa, Mas? Kita mau kemana dulu?”
“Kita ke makam anak kita dulu, ya? Aku sangat merindukan dia. Sekalian kita berziarah ke makam Ibu dan Ayah.”
Seketika air mata Jelita luruh. Bukan maksud hati melupakan calon buah hatinya yang sudah tiada itu, namun Jelita sama sekali tidak berpikiran sampai ke sana untuk menjenguknya. Mungkin Raffael mengajak ke sana karena sampai saat ini pria itu masih menyimpan rasa bersalah atas meninggalnya calon buah hatinya saat itu.
“Baiklah, Mas. Kita ke sana dulu. Tapi, kumohon padamu! Jangan pernah merasa bersalah atas meninggalnya calon buah hati kita waktu itu. semua itu memang sudah kehendak Tuhan. Tuhan tidak memberikan dia kesempatan untuk terus berada di dunia ini saat keadaan kedua orang tuanya sedang tidak baik-baik saja. dan sekarang, Tuhan telah menggantinya di sini.” ujar Jelita lalu meraih tangan suaminya dan meletakkannya di atas perutnya.
***
Setelah belasan jam menempuh perjalanan udara, akhirnya kini Raffael dan Jelita sudah tiba di kota kelahiran Jelita. Raffael sangat bersyuku selama penerbangan, Jelita terlihat baik-baik saja. mungkin karena calon buah hatinya itu tahu kalau tujuannya adalah pulang, jadi dia tidak rewel dan macam-macam lagi.
Raffael mengajak istrinya menginap di sebuah hotel untuk istirahat sejenak, sebelum besok pergi ke makam.
__ADS_1
“Sayang istirahatlah dulu, kamu pasti sangat lelah. Ini juga sudah malam.” ujar Raffael pada sang istri saat baru saja masuk ke kamar hotel.
“Hmm, Iya Mas. Aku sangat lelah sekali.”
Jelita langsung merebah di atas tempat tidur namun dengan posisi bersandar. Wanita itu tampak memijit kakinya yang capek. Namun tiba-tiba saja Raffael mengambil alih.
“Biar aku yang mijit, kamu tidurlah!”
“Tidak, Mas! Kamu juga pasti lelah. Ini sudah hilang kok capeknya.” Tolak Jelita memegang tangan suaminya agar tak lagi memijitnya.
Namun sayangnya Raffael tak mempedulikan itu. dia tetap memijit kaki istrinya. Jelita pun pasrah dan membiarkannya. Anehnya, saat dia merebahkan seluruh badannya dan merasakan pijitan lembut suaminya, belum ada lima menit sudah terdengar suara dengkuran halus wanita itu.
“Dasar bumil labil!” ujar Raffael sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!