
Pagi ini mereka kembali menikmati sarapannya sepiring berdua. Raffael dengan sabar menyuapi istrinya. Jelita menerima saja, karena dia memang sangat senang menikmati momen seperti ini.
Sembari menghabiskan menu sarapannya, Raffael juga banyak bercerita tentang kehidupannya selama tinggal di sini. termasuk ia yang bekerja sebagai karyawan di sebuah minimarket. Jelita sendiri juga tahu, karena pertemuannya semalam ia ingat betul dengan pakaian yang dikenakan oleh suaminya. bahkan saat pertama kali ia tiba di kota ini, Jelita sempat mampir ke minimarket tersebut untuk membeli minuman.
Jelita juga menceritakan kalau sempat bertemu seseorang yang bekerja di minimarket itu tampak memperhatikannya. Raffael pun ingat tentang ucapan salah satu rekan kerjanya tempo hari. Ternyata yang dikatakan oleh Jack benar. Yang dilihat pria itu benar-benar Jelita istrinya. Mungkin Tuhan memang belum langsung mempertemukan keduanya saat itu. dan justru mereka bertemu pada situasi yang tak terduga.
“Sampai sekarang pun aku masih sulit percaya kalau kamu bisa sampai negara ini, Sayang? Apalagi di kota ini sangat jauh dari kota yang pernah kita singgahi dulu. Aku tidak bisa membayangkan, kamu sendirian, tanpa seorang pun yang kamu kenal.” Ujar Raffael.
“Semua itu memang sudah diatur oleh Tuhan, Mas. Awalnya memang aku takut, namun sekali lagi aku ingat bahwa ada sesuatu yang ingin aku perjuangkan.”
**
Usai menikmati seporsi menu sarapan mereka, Jelita pun menghubungi keluarga yang ada di Indonesia. Dia baru sempat hari ini memberitahu pada mertuanya tentang pertemuannya dengan Raffael. Begitu juga dengan Raffael yang ingin tahu kabar Mamanya.
Baru saja panggilan video itu tersambung, Abi langsung memekik saat melihat wajah Raffael. Wajah anak sulungnya yang sangat ia rindukan. Jelita juga ikut bahagia. Dia membiarkan suaminya melepas rindu dulu bersama kedua orang tuanya. Ada tangis bahagia juga tangis sedih. Kedua orang tua Raffael bahagia akhirnya hubungan anak menantunya kembali membaik setelah hubungan rumah tangganya hampir di ujung tanduk. Namun yang membuat sedih adalah ketika Abi meminta Raffael untuk pulang.
Raffael menolak secara halus permintaan sang Mama. bukan dia tidak sayang dengan kedua orang tuanya, namun ini memang tujuan hidupnya. Dia pergi bukan untuk menjauh ataupun menghindar, namun untuk menata kembali kehidupannya. Apalagi kini Jelita sudah kembali ke pelukannya, dia akan membuka lembaran baru rumah tangganya di negara ini.
__ADS_1
Reno mencoba memberi pengertian pada istrinya. Pria itu juga setuju dengan keinginan Raffael. Selaian membenarkan ucapan Raffael, Reno juga ingin memberi kesempatan pada anak dan menantunya untuk menjalani biduk rumah tangga tanpa ada campur tangan dari orang tua.
Abi hany diam saja. mungkin wanita itu masih berat, tapi Reno tetap meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja. tak lama setelah itu terdengar suara anak kecil yang membuat Jelita tidak kuat lagi menahan kerinduannya.
Jelita dan Raffael sama-sama merindukan Ethan. Namun sayangnya yang dirindukan terlihat cuek. bahkan bocah itu sangat asyik dengan mainan barunya. Ya, memang setelah keadaan Abi membaik saat itu, Reno langsung menjemput Ethan di kediaman Arvin.
“Ma, Pa, Jelita nanti akan pulang untuk menjemput Ethan. Terima kasih sudah menjaganya selama ini.” ucap Jelita dengan tatapan tertuju pada Ethan yang sedang sibuk bermain.
“Tidak bisa!” sahut Abi tiba-tiba.
Wajah Jelita dan Raffael seketika tampak pias saat mendengar ucapan Mamanya yang sarat dengan nada kesal. Kemudian Raffael memegang lembut tangan istrinya untuk menangkannya.
“Tapi, Ma-“
“Tidak ada tapi-tapian. Kalian jangan khawatir, nanti suatu saat Ethan akan Mama ajak ke tempat kalian. tapi tidak untuk ikut bersama kalian. Ethan milik Oma dan Opanya.” Pungkas Abi mutlak tidak bisa diganggu gugat.
Reno yang duduk bersama istrinya hanya menggelengkan kepalanya saat melihat perdebatan kecil antara istri, anak, dan menantunya. Tapi Reno juga setuju dengan istrinya. Karena selama ada Ethan di rumahnya, suasana rumah tampak ramai.
__ADS_1
“Sudah, kalian berdua di sana baik-baik ya? Jangan terlalu mengkhawatirkan Ethan. Meskipun kami sudah tua, masih ada Livy yang menyayangi Ethan. Bahkan adik kamu bisa menjadi seperti sosok Jelita.” sahut Reno menengahi perdebatan kecil itu.
“Mama punya syarat kalau kalian mau Ethan bersama kalian.” ucap Abi tiba-tiba.
Jelita dan Raffael seketika berbinar mendengar ucapan Mamanya. Mereka yakin kalau syarat yang diminta Mamanya pasti sangat mudah dipenuhi.
“Baiklah, Ma. Kalau begitu apa syaratnya? Kami akan memenuhinya.” Tanya Raffael dengan santai.
“Buatkan adik untuk Ethan!"
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!