
Senyum yang sejak tadi mengembang di bibir Raffael perlahan memudar dengan seiring tangannya yang ia turunkan pelan-pelan karena tidak mendapat sambutan dari Jelita.
Yang benar saja Jelita membalas uluran tangan Raffael dengan sebuah pelukan. Raffael mungkin lupa kalau sedari awal Jelita memang sangat sulit ditakhlukkan. Dan lagi-lagi ia menguatkan hatinya untuk terus berjuang meluluhkan hati wanita itu.
“Ini sudah malam. kenapa Mas datang ke sini?” tanya Jelita lalu membuang mukanya.
Pencahayaan yang di teras yang minim membuat Raffael kesulitan melihat wajah canti Jelita yang selama beberapa hari ini sangat ia rindukan.
“Aku sangat merindukan kamu. Maaf, aku tidak memberi kabar kalau selama seminggu ini aku ada perjalanan bisnis ke luar kota. Ponselku tertinggal.” Ucap Raffael.
Jelita masih diam tak menunjukkan reaksi apapun setelah mendengar langsung penjelasan Raffael tentang kepergiannya selama beberapa hari ini. namun, ada sesuatu hal yang mengganjal hatinya. Kenapa selama ini seolah ada seseorang yang berusaha menjauhkan dirinya dengan Raffael. Terbukti saat beberapa kali mengantar kue pesanan di kantor Raffael, dia tidak diperbolehkan masuk ke ruangan Raffael.
“Kenapa jadi melamun? Apa aku tidak boleh masuk?” tanya Raffael membuyarkan lamunan Jelita.
“Ini sudah malam. tidak baik bertamu jam segini.” Jawab Jelita. Sejak tadi dia juga belum membuka pintu rumahnya, dan tangannya juga masih membawa sebungkus nasi goreng yang baru ia beli.
Kruukkk
Tiba-tiba saja Jelita mendengar suara perut Raffael. Sedangkan Raffael hanya tersenyum kaku saat ketahuan ia sedang kelaparan. Karena sejak kepulangannya dari luar kota tadi ia memang belum sempat makan malam. dia langsung pergi ke rumah Jelita demi rasa rindunya. Ditambah lagi ia mencium aroma nasi goreng tadi, membuat cacing di perutnya berteriak minta diisi.
Jelita masuk ke rumahnya tanpa mengucapkan sesuatu. Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa sepiring nasi goreng yang dibelinya tadi dan segela air putih.
“Makanlah!” ucap Jelita.
“Tidak. Kamu beli nasi ini juga pasti belum makan kan? Aku nanti beli sendiri saja.” tolak Raffael.
“Jangan menunda-nunda makan. Mas makan saja!”
“Bukannya kamu melarangku menunda-nunda makan? Lebih baik kita makan berdua saja nasi goreng ini.” ujar Raffael memberi solusi.
Jelita sebenarnya memang lapar. Akhirmya dia memiliki ide untuk mengambil piring lagi untuk membagi nasi goreng itu. tapi sayangnya Raffael mencegahnya. Pria itu meminta Jelita untuk tetap duduk di kursi. Lalu Raffael mulai memakan nasi goreng itu bergantian. Bahkan Raffael menyuapi Jelita.
“Tidak, Mas! Aku bisa makan sendiri.” Tolak Jelita.
__ADS_1
“Buka mulut kamu, cepat!” ujar Raffael dengan suara pelan namun tegas.
Jelita hanya bisa pasrah. akhirnya ia mau membuka mulutnya menerima suapan demi suapan nasi dari Raffael.
Malam yang sepi itu cukup membuat romantsi bagi mereka berdua. Raffael sangat senang dengan tindakan kecil seperti ini. ternyata melepas rindu terhadap orang yang kita cintai tidak hanya selalu dengan pelukan ataupun ciuman. Cukup melakukan hal yang sederhana seperti ini saja sudah membuatnya sangat bahagia. Rindu yang selama beberapa hari ini melanda hatinya, kini sudah terbayar.
“Sebenarnya aku sangat kabgen dengan Ethan. Tapi sayangnya dia sudah tidur.” Ucap Raffael dengan raut sedih.
“Iya. Ethan memang kalau tidur tidak pernah malam-malam. Besok Mas bisa bertemu Ethan kalau kangen dengannya.” jawab Jelita dengan suasana hati yang sedikit lebih hangat.
Raffael mengulas senyum manisnya mendengar jawaban Jelita. Saran yang diberikan Jelita cukup membuatnya senang. Dengan alasan merindukan Ethan, tentunya ia juga akan mendapat bonus bertemu dengan bundanya.
“Baiklah. Besok setelah jam kantor, aku akan datang ke sini. sekarang aku pulang dulu.”
“Ehm, iya. hati-hati, Mas!” jawab Jelita dengan salah tingkah, karena Raffael sejak tadi tak melepas pandangannya.
Raffael pun segera beranjak dari duduknya. Namun ia juga tak segera pulang karena seperti menunggu sesuatu dari Jelita.
“Ehm, apa kamu tidak ingin melakukan sesuatu untukku?” tanya Raffael.
“Nggak. Bukan apa-apa. Ya sudah, aku pulang dulu. Kamu baik-baik ya? Sampai jumpa besok lagi.”
“Iya, Mas. Terima kasih.” Jawab Jelita cukup ambigu. Apakah Jelita berterima kasih karena telah merindukannya atau karena hal lain.
“Terima kasih atas kedatangannya malam ini. ehm, aku masuk dulu ya?” pamit Jelita dan segera masuk ke dalam rumah sebelum Raffael melihat wajahnya yang sudah merona merah.
***
Waktu berlalu begitu cepat. Hampir setiap hari Raffael bertemu dengan Jelita. Pria itu menujukkan keseriusannya dengan Jelita. Tidak hanya itu saja, Raffael juga menunjukkan kasih sayangnya pada Ethan. Meskipun Ethan bukan anaknya, kalau ia mencintai Ibunya, ia juga harus menyayangi Ethan.
Raffael juga kembali mengajak Jelita datang ke rumahnya untuk makan malam. jika dulu Jelita hanya datang seorang diri, namun kali ini Jelita mengajak Ethan juga.
Abi dan Reno menyambut hangat kedatangan Jelita bersama putranya. Apalagi Abi begitu cepat menyayangi Ethan. Terlebih setelah melihat masa lalu Jelita, sudah sepantasnya Ethan mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari orang terdekatnya. Reno yang semula bersikap datar saat pertama kali bertemu Jelita, kini perlahan menghangat apalagi melihat tingkah lucu dan menggemaskan Ethan.
__ADS_1
“Livy kemana, Ma? Tumben nggak ikut bergabung makan malam bareng?” tanya Raffael.
“Dia keluar sejak tadi sore bersama Febian.” Jawab Abi, meskipun dia sedang sibuk menyuapi Ethan.
Raffael hanya diam. dia tidak ingin ikut campur urusan asmara adiknya dengan pria yang bernama Febian. Karena memang sebelumnya ia sudah memberi ultimatum pada Livy untuk tidak ikut campur urusan asmaranya dengan Jelita.
**
Weekend ini Raffael akan melamar Jelita. Setelah beberapa waktu mengenal Jelita cukup dalam dan bisa meyakinkan wanita itu, akhirnya Raffael mengikrarkan cintanya pada Jelita dengan disaksikan kedua orang tuanya.
Acara lamaran itu dilaksanakan di rumah Bu Alin. Bagaimanapun juga Bu Alin sudah menganggap Jelita seperti anaknya sendiri. Jadi beliaulah yang memiliki tanggung jawab penuh atas Jelita.
Acara lamaran itu sangat sederhana. Karena itu permintaan Jelita sendiri. Dia juga tidak ingin menghadirkan banyak orang. Cukup keluarga inti Raffael saja. sedangkan dari pihaknya hanya ada Bu Alin saja. tentunya dengan Ethan.
Jelita malam ini terlihat sangat cantik dnegan penampilan yang sederhana namun terkesan elegan. Raffael saja sampai terpesona melihat sosok calon istrinya yang sejak tadi tak hentinya mengulas senyum.
Acara itu berlangsung cukup singkat. Reno sebagai wali Raffael menyatakan maksud kedatangannya pada Bu Alin tidak lain karena ingin melamar Jelita untuk Raffael. Bu Alin pun menerima dengan senang hati lamaran dari Raffael. Karena dari awal wanita itu sudah cukup baik mengenal Reno dan Abi.
“Untuk urusan pernikahan, kami serahkan semuanya pada yang bersangkutan saja.” ujar Reno melirik Raffael dan calon menantunya.
Sementara itu Livy yang ikut hadir di sana sejak tadi menunjukkan wajah datarnya saja. dia akan tersenyum saat mendapatkan tatapan tajam dari Mamanya. Karena sampai sekarang Livy masih belum rela kalau kakaknya resmi bertunangan dengan Jelita. Wanita yang berbeda kelas dengan keluarganya.
“Memangnya kamu akan kuat berada dalam lingkup pergaulan kakakku?” batin Livy menatap sinis pada Jelita.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1