
Setelah pulang dari acara pesta itu, Raffael bersama istri dan anaknya langsung bertolak ke bandara. Ya, malam ini mereka pulang. Raffael tidak ingin menunda lagi kepulangannya. Waktu liburan bersama keluarga kecilnya sudah cukup. Kini waktunya kembali ke rutinitas seperti biasanya. Lusa juga Raffael ada meeting penting dengan petinggi perusahaan.
Jelita sendiri sebenarnya betah tinggal di rumah suaminya itu. apalagi dengan maid yang bekerja di sana, sudah ia anggap seperti saudara sendiri. Mereka juga sangat baik pada Ethan. Mungkin lain waktu dia bisa bertemu lagi dengan mereka.
Beberapa saat kemudian setelah menunggu waktu yang sudah terjadwal, kini mereka sudah berada di dalam pesawat. Ethan juga sudah mulai mengantuk, mengingat Raffael mengambil jam penerbangan malam.
Jelita yang lelah pun ikut tidur bersama Ethan. Sedangkan Raffael sejak tadi diam, memikirkan tentang kejadian dimana istrinya mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Sania beberapa saat lalu. Walaupun dalam hati Raffael juga bersyukur karena istrinya berhasil membela diri dan membuat Sania yang justru dipermalukan di depan umum.
Raffael sebelumnya sudah mendapatkan beberapa informasi tentang Sania dari orang suruhannya. Rahasia yang tak banyak orang tahu, termasuk kedua orang tuanya. Jadi Raffael akan tetap menyimpan semua itu. dia akan membongkarnya bila saatnya tiba. Atau bisa digunakan untuk mengancam perempuan itu agar tidak bertindak terlalu jauh pada hubungan rumah tangganya.
***
Setelah belasan jam menempuh perjalanan udara, Raffael dan anak istrinya sudah tiba. Mereka langsung dijemput oleh sopir pribadi keluarga Reno.
Abi yang sejak tadi menunggu kepulangan cucunya, wanita itu sampai menunggu di depan rumahnya. Meskipun selama Ethan berlibur di luar negeri, Abi tak pernah absen melakukan panggilan video, tetap saja ia masih merindukan Ethan kalau tidak bertemu secara langsung dan memeluknya.
Ethan juga sepertinya sangat rindu dengan Omanya. Terbukti saat bocah itu baru saja keluar dari mobil langsung berlari ke arah Abi yang sudah menyambutnya.
“Bagaimana kabar kalian?” tanya Abi pada Ethan dan Jelita.
“Sehat, Ma.” Jawab Jelita sembari mencium punggung tangan Abi.
Sedangkan Raffael menarik kopernya ke dalam. Lalu membawanya ke dalam kamar, sekalian langsung berganti pakaian.
Jelita mengikuti mertuanya ke ruang tengah bersama Ethan. Beristirahat sejenak di sana sambil menemani mertuanya yang sedang kangen-kangenan dengan Ethan. Sedangkan Reno dan Livy jam segini pasti ada di kantor.
“Bagaimana bulan madunya, Lita? Apa sukses?” tanya Abi dengan mengerlingkan matanya.
Jelita sangat malu mendapat pertanyaan dari mama mertuanya seperti itu. terlebih di sana ada Ethan. Rasanya tidak pantas jika bicara mengenai hal itu di depan Ethan. Walaupun anak itu tidak mengerti. Jadi dia hanya tersenyum kikuk menanggapinya.
Abi tahu kalau menantunya masih malu jika ditanya seperti itu. namun dia sangat yakin kalau bulan madu anak dan menantunya pasti sukses dan sebentar lagi dia akan mendapatkan cucu lagi.
__ADS_1
“Ehm, Lita mau buatin minuman buat Mas Raffa dulu, Ma!” ujar Jelita mengalihkan pembicaraan.
“Ya sudah buatkan dulu. Mama berdoa semoga Ethan segera memiliki adik.” Jawab Abi sambil mengusap perut rata Jelita saat wanita itu hendak pergi ke dapur.
Jelita hanya tersenyum. Dalam hati mengamini ucapan mertuanya. kalau memang Tuhan memberikan dirinya kepercayaan lagi untuk mengandung, Jelita akan menerimanya dengan senang hati. Apalagi keluarga dari pihak suaminya sangat menyayanginya.
Jelita membawa secangkir kopi untuk suaminya yang kini sedang berada di dalam kamar. Raffael memang memilih menyelesaikan pekerjaannya di kamar agar bisa sambil beritirahat.
Cklek
“Mas, ini diminum dulu!” ujar Jelita lalu meletakkan segelas jus jeruk di atas meja.
Raffael yang tengah sibuk dengan layar laptop di hadapannya, menghentikan sejenak pekerjaannya saat melihat kedatangan istrinya.
“Bisa kamu bawakan ke sini, Sayang! Kebetulan aku sangat haus.”
Jelita mengambilnya lalu berjalan ke arah suaminya. tanpa aba-aba, Raffael menarik istrinya hingga wanita itu langsung terduduk di pangkuannya. Jus yang dibawa Jelita jelas tumpah. Namun tidak banyak. Hanya mengenai lengan Jelita.
“Mas! Jadi tumpah kan!” gerutu Jelita sedikit kesal.
“Ini sangat enak daripada yang ada di gelas itu. apalagi yang ada di balik baju ini.” ucap Raffael dengan tangan sudah bergerilya menuju dua asetnya.
Jelita membulatkan matanya saat tangan suaminya sudah bergerak nakal. Apalagi waktu masih siang seperti ini. ditambah lagi mereka baru saja datang dari perjalanan jauh.
“Mas, kamu ini mesyyum banget sih!” cegah Jelita saat melihat tatapan menggoda suaminya.
Raffael paham kalau istrinya pasti lelah. Dia menurunkan tangannya lalu menarik hidung istrinya dengan gemas.
“Aku hanya menggodamu, Sayang! Tapi kalau tadi kamu mau, aku juga akan melanjutkannya lagi.”
Jelita hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian ia mengambil gelas jus itu dan memberikannya pada Raffael.
__ADS_1
“Aku mau mandi dulu, Mas. Setelah ini aku ingin istirahat sebentar.”
“Terima kasih, Sayang!” ujar Raffael setelah menghabiskan jusnya.
Jelita masuk ke kamar mandi. bersamaan itu ponselnya berdering. Raffael hendak mengabaikannya saja karena tidak ingin menjaga privasi istrinya, namun posel itu kembali berdering. Akhirnya ia melihat siapakah gerangan yang sedang menghubungi istrinya.
Ternyata nama Om Arvin yang tertera di sana. Tangan Raffael terkepal kuat penuh amarah. Dia segera menggeser tombol ikon warna hijau dan bersiap memarahi pria sialaan di balik sambungan telepon itu.
“Ad,-“
Ucapan Raffael tertahan dan amarahnya menguap begitu saja saat yang bicara di balik sambungan telepon itu adalah Ibu mertuanya.
Raffael mendengar dengan seksama apa yang diucaapkan oleh ibu mertuanya. dia mengatakan kalau Jelita sedang mandi, sedangkan Ethan masih bermain di bawah. Raffael juga berjanji akan menghubungi mertuanya lagi saat istrinya selesai mandi nanti. tapi sayangnya Bu Sukma menolak. Wanita itu hanya berpesan pada menantunya kalau sangat rindu dengan Ethan dan ingin bertemu dengan cucunya itu.
Raffael menghembuskan nafasnya pelan. Sepertinya mertuanya itu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anak cucunya. Padahal ia tahu kalau Jelita pasti sangat capek setelah melakukan perjalanan jauh.
Cklek
“Mas? Ada apa? Apa ada telepon masuk?” Tanya Jelita saat baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat suaminya sedang memegang ponselnya.
“Iya. Ibu yang telepon. Beliau bilang sangat kangen Ethan dan ingin bertemu.” Jawab Raffael.
Jelita duduk di samping suaminya. dia tahu kalau Raffael juga bingung, apalagi pekerjaannya sangat padat.
“Kalau Mas Raffa tidak mengijinkan aku pulang, nggak apa-apa. Aku akan menunggu Mas sampai benar-benar senggang. Nanti biar aku bilang sama Ibu. Mas tidak perlu khawatir.” Ujar Jelita mengambil keputusan. Bagaimana pun juga ia harus patuh pada suaminya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!