Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 44


__ADS_3

Mario terdiam mendengar perkataan Raffael. Sebenarnya dia sangat bahagia akhirnya bisa bertemu dengan Jelita untuk meminta maaf pada wanita itu atas semua kesalahan yang ia perbuat. Namun mendengar kalimat Raffael yang mengatakan kalau sahabatnya itu sangat mencintai istrinya, apakah itu tandanya ia tidak memiliki kesempatan untuk menebus kesalahannya pada Jelita?


“Sekali lagi aku tekankan. Aku sangat mencintai istriku. aku akan melakukan apa saja untuk membuat istriku nyaman dan sembuh dari trauma akibat perbuatan kamu dulu. Kalau kamu menyimpan maksud lain, lebih baik aku batalkan saja pertemuan kalian. aku masih bisa mencari cara lain untuk menyembuhkan Jelita dari masa lalunya. Tapi tidak dengan kamu. Selamanya akan hidup dengan bayangan rasa bersalah dan penyesalan. Bahkan seumur hidup kamu.” Tutur Raffael panjang lebar. Setelah itu dia segera beranjak meninggalkan Mario tanpa menyetuh sedikit pun minuman yang sudah dipesan oleh sahabatnya itu.


“Tunggu Raff!” Mario memanggil Raffael yang baru beberapa langkah pergi menjauhi meja makannya.


Tanpa menoleh, Raffael menghentikan langkahnya. Ia menunggu apa yang akan dikatakan oleh Mario.


“Baiklah. Aku bertemu dengan Jelita hanya untuk meminta maaf padanya.” Ucap Mario lirih.


“Tunggu saja! nanti aku kabari lagi.” Raffael segera pergi meninggalkan Mario.


***


Saat ini Jelita sedang berada di kamar Ethan. Keseharian Jelita memang hanya di rumah saja menemani sang anak bermain. Raffael sampai saat ini belum mengijinkan istrinya pergi tanpa pengawasan langsung darinya. Meskipun demikian, ia sudah cukup nyaman berada di rumah mertuanya. apalagi Ethan. Bocah itu sangat senang karena di kamarnya banyak sekali mainan yang dibelikan oleh Oma dan Opanya.


Jelita mengecup singkat kening Ethan yang baru saja tidur. Mungkin kelelahan bermain, akhirnya bocah itu ketiduran. Sedangkan Jelita tidak ada lagi kegiatan yang bisa ia lakukan siang-siang begini. Mama mertuanya juga sedang pergi ke acara teman-temannya. Akhirnya ia menghubungi Ibunya.


Meskipun belum sempat pulang lagi setelah pertemuannya yang terakhir dulu, namun Jelita sering berhubungan dengan sang Ibu melalui panggilan telepon.


Kali ini Jelita menghubungi Ibunya untuk menceritakan masalahnya. Di mana ia akan bertemu dengan seseorang yang telah membuat hancur masa depannya. Dia menceritakan tentang trauma yang dialaminya selama ini. termasuk belum bisa menjadi istri yang seutuhnya untuk Raffael.


Bu Sukma sebagai seorang Ibu kandung Jelita itu merasa bersalah atas sikapnya selama ini terhadap Jelita. Karena keegoisannya sampai membuat anaknya menyimpan trauma itu seorang diri. Lalu mengenai pertemuannya Jelita dengan Mario nanti, Bu Sukma hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anaknya. kalau memang dengan bertemu Mario adalah solusi yang tepat, kenapa tidak.


Hati Jelita sedikit lebih lega setelah mencurahkan isi hatinya kepada sang Ibu. Kini langkahnya semakin mantap untuk segera bertemu dengan Mario, agar hidupnya juga tenang.

__ADS_1


Cklek


Tepat saat panggilan Jelita dengan Ibunya berakhir, ada seseorang yang membuka pintu kamar Ethan. Ternyata dia adalah Raffael.


“Pantesan aku cari di kamar nggak ada. Ternyata di sini. apa Ethan tidur sejak tadi?” tanya Raffael lalu ikut duduk di sofa bersama Jelita.


“Iya, Mas. Sepertinya dia kecapekan bermain.”


Raffael tersenyum bahagia melihat Ethan yang sangat nyaman dan betah tinggal di rumah orang tuanya. Dia yakin Ethan tidak akan kekurangan kasih sayang. Apalagi smeua keluarganya menerima dengan baik kehadiran Ethan.


“Sayang, apa kamu sudah siap bertemu dengan Mario?” tanya Raffael pada istrinya.


Setelah pertemuannya dengan Mario beberapa hari yang lalu, Raffael akhirnya kini menanyakan kesiapan Jelita. Karena selama itu dia ingin memberi waktu istrinya untuk berpikir.


“Aku.. aku siap, Mas. Lebih cepat lebih baik. Aku ingin segera sembuh dari trauma itu.” jawab Jelita dengan lirih meskipun hatinya agak ragu karena takut jika bertemu kembali dengan Mario.


Jelita pun mengangguk. Kemudian Raffael mengatakan tentang pertemuannya dengan Mario akan dilaksanakan malam ini juga. Jelita pun tidak keberatan.


***


Pertemuan Jelita dan Mario malam ini tidak dilangsungkan di luar. Melainkan di rumah Reno. Sedangkan Ethan sejak sore tadi sudah diajak pergi jalan-jalan bersama Oma dan Opanya. Bukannya Raffael tidak ingin mempertemukan Mario dengan Ethan, hanya saja ia ingin urusan istrinya selesai lebih dulu. Baru setelah itu Mario diijinkan bertemu dengan Mario.


Saat ini Jelita sedang duduk seorang diri di ruang keluarga. Sementara Raffael menunggu di ruang lain agar bisa memberi kesempatan buat Mario bicara dengan Jelita. Meskipun demikian, Raffael tetap bisa memantaunya.


Keringat dingin Jelita mulai bercucuran saat mendengar langkah kaki seseorang yang berjalan mendekat ke arahnya. Dia berusaha tetap rileks dan ingat dengan tujuan awalnya. Yaitu ingin sembuh.

__ADS_1


“Selamat malam Jelita!” sapa Mario dengan menatap nanar wanita yang pernah ia renggut masa depannya.


“Malam!” jawab Jelita dengan suara lirih nyaris tak terdengar.


Mario mengambil tempat duduk tak jauh dari Jelita. Pria itu juga kesusahan bicara saat melihat wajah sendu Jelita yang masih memalingkan muka. Namun ia sudah bertekat kalau kedatangannya untuk meminta maaf.


“Jelita, aku tahu aku adalah pria berengsek yang telah menorehkan luka mendalam terhadap kamu. Bahkan kedua orang tuaku juga murka atas perbuatanku padamu. Termasuk Raffael. Kedatanganku ke sini murni karena aku ingin meminta maaf kepadamu, Jelita. Hidup dalam penyesalan itu tidaklah mudah. Jadi, kumohon dengan kerendahan hati kamu, sudikah kamu membukakan pintu maaf untukku?” Ucap Mario dengan tatapan sendu tertuju pada Jelita yang sejak tadi tidak melihatnya sama sekali.


“Aku memaafkanmu. Aku juga tidak ingin hidup dengan bayang-bayang masa lalu yang begitu pahit itu.” jawab Jelita lalu memberanikan diri menatap mata Mario.


Mario juga membalas tatapan itu. entah kenapa dengan melihat tatapan Jelita, ada yang berbeda dengan hatinya. Namun ia sadar dengan posisinya. Apalgi Jelita sudah sah menjadi istri sahabatnya.


“Aku juga akan mempertemukanmu dengan Ethan. Bagaimana pun juga dia adalah darah daging kamu. Tapi aku harap kamu tidak melewati batasan.” Lanjut Jelita.


Mario mengulas senyum lega di bibirnya. mendapatkan maaf dari Jelita sudah menjadi hal yang paling luar biasa di hidupnya. Ditambah lagi ia bisa bertemu dengan Ethan. Anak kandungnya. Mario pun berjanji dalam dirinya sendiri untuk mematuhi kalimat terakhir Jelita.


Mario mengulurkan tangannya pada Jelita tanda mereka sudah berdamai dan saling memaafkan. Jelita pun menerima uluran tangan Mario, namun menjabatnya dengan singkat. Mungkin ia belum terbiasa berinteraksi dengan pria itu.


“Terima kasih, Jelita!”


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2