
Chelsea segera mengejar Mario tapi sayangnya ia urungkan niat itu. dia memang setuju jika Mario putus dengan Merlyn. Tapi jika anaknya itu akan mengejar Jelita, rasanya Chelsea tidak akan membiarkan itu semua. Meskipun jauh dari lubuk hatinya ia suka dengan kepribadian Jelita, namun wanita itu sudah menjadi milik anak sahabatnya sendiri.
“Ada apa kamu di kamar Mario?” tanya Chiko yang baru saja melihat istrinya keluar dari kamar Mario.
“Mas, di bawah ada Merly. Mario bilang akan putus dengan kekasihnya itu dan akan mengejar Jelita.”
“Apa? Kenapa kamu tidak bilang padaku? ini tidak bisa dibiarkan.” Chiko segera menuruni tangga berniat mencegah Mario yang akan memutuskan Merlyn. Namun sayangnya langkah kaki pria itu terhenti saat mendengar suara tamparan keras mendarat di pipi Mario dengan diiringi suara amarah dari wanita yang bernama Merlyn.
Chiko akhirnya memilih sembunyi namun masih bisa mendengarkan perdebatan antara anaknya dan calon tunangannya. Chiko mendengarnya dengan jelas saat Merlyn murka dan tidak terima dengan keputusan Mario. Bahkan Merlyn seperti orang kesetanan dan hendak menendang Mario. Akhirnya Chiko ikut turun tangan.
“Cukup!” cegah Chiko menghalangi Mario yang hendak dipukul oleh Merlyn. Dan ternyata bogeman Merlyn itu mengenai pipi Chiko.
“Papa!”
“Mas!!!”
Chelsea dan Mario berteriak bersama saat melihat dnegan mata kepalanya sendiri betapa brutalnya Merlyn.
Sebenarnya Chiko baik-baik saja. dia hanya shock dan tidak menyangka saja dengan sikap bar-bar calon tunangan Mario. Sedangkan Chelsea segera berlari memanggil satpam agar segera membawa Merlyn pergi dari rumahnya.
“Aku tidak pergi! Aku tidak mau putus denganmu, Mario!!” Teriak Merlyn sambil terus memberontak dalam genggaman satpam rumah Chiko.
Setelah Merlyn berhasil diamankan dan dibawa keluar, Chesea tampak panik dengan melihat pipi suaminya yang memerah akibat pukulan Merlyn baru saja.
“Mas, kamu baik-baik saja? ayo aku kompres dulu!”
__ADS_1
“Nggak usah. Ini hanya pukulan ringan saja.” tolak Chiko.
Mario masih berada di ruang tamu bersama kedua orang tuanya. Sepertinya keputusannya untuk mengakhiri hubungan dengan Merlyn sudah tepat. Dia tidak menyangka kalau kekasihnya itu bisa bertindak brutal seperti tadi.
Begitu juga dengan pemikiran Chiko. Padahal dia berniat untuk mecegah hubungan Mario dan Merlyn putus karena tidak ingin Mario terus mengejar Jelita. Namun setelah apa yang dilihatnya baru saja, ia cukup tahu kalau Merlyn bukan wanita yang pantas bersanding dengan putranya.
“Papa nggak nyangka kalau selama ini perangai kekasihmu itu sangat tidak ber-atitude. Sykurlah kamu sudah putus dengannya.”
“Maaf, Pa. memang Merlyn terkadang emosinya labil.” Hanya itu yang bisa Mario katakan.
Entah apa yang membuat Mario jatuh cinta pada sosok Merlyn selama ini. bahkan dulu ia yang tidak terima saat Merly memutuskan hubungannya. Hingga berujung pada perbuatan bejattnya pada Jelita. Dan kini keadaan itu berbalik. Merlyn yang tidak terima dengan keputusan Mario untuk mengakhiri hubungan yang sudah lama terjalin. Apalagi tadi Mario tidak mengatakan alasan yang jelas kenapa sampai ingin mengakhiri hubungan itu.
“Mama berharap semoga setelah ini kamu tidak salah memilih kekasih. Cukup Merlyn saja yang berani memukul Papamu.” Sahut Chelsea yang masih terlihat kesal dengan Merlyn dan juga Mario.
“Mama tenang saja! setelah ini calon istri Mario tidak seperti Merlyn. Justru dia,-“
Mario benar-benar frustasi. Kenapa tak seorag pun yang memberikan dukungan padanya untuk merebut Jelita dari tangan Raffael.
***
Malam ini sesuai dnegan janinya pada Jelita tadi pagi, Raffael mengajak Jelita dan Ethan pergi ke rumah Bu Alin. Bu Alin yang sudah seperti ibu kandung Jelita wajib tahu tentang kabar bahagia dari Jelita. Walau wanita itu sudah tahu tentang pernikahan dadakan Jelita dan Raffael.
Setibanya di rumah Bu Alin, Jelita dan Ethan masuk terlebih dulu. Dia tidak lewat pintu yang terhubung dengan café. Jadi teman-teman Jelita tidak ada yang tahu kedatangannya.
“Bu….!”
__ADS_1
Jelita langsung berhambur ke pelukan Bu Alin saat wanita itu baru saja keluar dari kamarnya. Sama halnya dengan Bu Alin. Wanita itu sangat senang bisa bertemu lagi dengan Jelita dan juga Ethan setelah beberapa hari ini ditinggal pulang kampung.
Raffael hanya mengulas senyum saat melihat Jelita berbagi cerita pada Bu Alin tentang pernikahan dadakannya, dan hubungannya dengan sang Ibu yang sudah membaik. Bu Alin pun semakin senang mendengarnya. Akhirya Jelita menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Tentunya setelah kehadiran Raffael.
“Apa kamu sudah tidak lagi bekerja di café, Lita?” tanya Bu Alin saat mereka sudah berkumpul di ruang tamu.
Jelita tak langsung menjawab. Dia melirik suaminya agar menjawab pertanyaan Bu Alin.
“Maaf, Tante. Raffa sepertinya tidak mengijinkan Jelita bekerja dulu. Tapi Tante jangan khawatir, kami akan sering datang ke sini.” Jawab Raffael.
Bu Alin mengangguk paham. Ia cukup mengerti dengan apa yang sedang terjadi dengan Jelita akhir-akhir ini. mungkin Raffael takut jika istrinya akan bertemu dengan pria yang telah menorehkan luka pada Jelita. Jadi Raffael memilih untuk melarang Jelita bekerja dulu.
Usai dari rumah Bu Alin, Jelita pergi ke rumahnya sendiri untuk mengambil beberapa pakaian milik Ethan dan juga miliknya. Sekaligus barang-barang penting yang tertinggal di sana. Setelah itu barulah Raffael mengajak istri dan anaknya pulang, karena Ethan sudah terlihat menahan kantuk.
Beberapa menit kemudian mobil Raffael sudah memasuki halaman rumah. ia segera menggendong Ethan yang sudah tertidur pulas.
“Jelita!! Maafkan aku! tolong beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku!” teriak seseorang yang tiba-tiba sudah berlutut di kaki Jelita.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!