Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 29


__ADS_3

Tepat pukul enam pagi, si pemilik rumah itu bangun karena bersiap untuk jogging sebelum berangkat ke kantor. namun saat kakinya menuruni tangga, Arvin terkejut dengan keberadaan wanita asing dengan seorang anak kecil yang masih pulas tidur di sofa. Arvin kira wanita itu saudaranya Bi Siti. Jadi dia bersikap biasa saja.


“Om Arvin?” sapa Jelita saat Arvin baru saja menuruni tangga.


Pria berusia tiga puluh tujuh itu terkejut saat melihat keberadaan Jelita. Keponakannya yang sudah lama hilang.


“Lita?” Arvin masih tidak menyangka kalau Jelita ada di hadapannya. padahal sudah lama ia mencari keberadaan keponakannya itu semenjak mengetahui kabar kematian kakak tirinya beberapa tahun silam. Saat itu Arvin memang sedang berada di luar kota, jadi saat itu ia belum tahu menahu masalah yang terjadi dengan keluarga kakak tirinya.


Arvin mengajak Jelita duduk kembali. Lalu tatapannya tertuju pada Ethan yang sejak tadi masih pulas tidur.


“Maaf, Om jika kedatangan Lita akan merepotkan Om. Lita tidak tahu harus pulang ke mana lagi. Ibu pasti masih membenci Lita.” Ucap Jelita yang tak bisa lagi membendung air matanya.


“Dia…?”


“Dia Ethan. Anakku Om.”


Arvin langsung menarik Jelita ke dalam pelukannya. Ia sudah tahu apa yang terjadi dengan Jelita dan alasan keponakannya itu pergi dari rumah.


“Sudah, tenanglah! Om sangat senang dengan kedatangan kamu. Kamu boleh tinggal di sini sesukan hati kamu. Sekarang istirahat lah. Kamu pasti capek.” Pungkas Arvin tak ingin banyak bertanya dulu padaa Jelita. Mungkin kalau suasana hati Jelita sudah cukup tenang, ia akan mengajak bicara Jelita dengan baik-baik.


***


Sementara itu Raffael semalaman tidak bisa tidur dengan nyenyak. Sampai pukul tiga dini hari ia baru pulang ke rumah dan tidak mendapatkan hasil apapun. Jelita tidak ditemukan.


Perasaan Raffael semakin tak karuan. Dia sangat cemas dengan keadaan calon istrinya dan juga Ethan. Dia berharap Jelita dan Ethan tidak dalam bahaya.

__ADS_1


Pagi ini Raffael keluar dari kamarnya. Meskipun fisiknya sedikit lelah karena kurang istirahat, namun ia harus tetap pergi ke kantor. apalagi hari ini ada meeting penting. Nanti setelah meeting, Raffael akan datang ke rumah Bu Alin untuk meminta petunjuk alamat tempat tinggal Jelita sebelumnya.


Raffael hanya bisa menebak kalau Jelita pasti pulang ke kampung halamannya. Muungkin dia ingin menyendiri dan menenangkan hatinya setelah bertemu dengan orang yang telah menorehkan luka.


Raffael memasuki ruang makan di saat semua anggota keluarganya sudah lebih dulu di sana. Dia tak banyak bicara. Langsung duduk dan mengambil piring mengisi dengan nasi beserta lauknya. Abi menatap iba pada anak laki-lakinya itu. ingin bertanya sesuatu namun dicegah oleh suaminya. begitu juga dengan Livy, yang memilih diam.


“Permisi, Tuan! Di depan ada tamu.” Ucap Art datang ke ruang makan.


“Siapa Bi? Mau bertemu dengan siapa?” tanya Abi.


“Tuan Mario. Ingin bertemu dengan Tuan Raf,-“


“Usir dia, Bi! Aku nggak menerima tamu siapapun hari ini.” sahut Raffael menghentikan kegiatan makannya.


“Raffa!”


“Berani sekali kamu menginjakkan kaki ke sini, hah?”


Raffael tidak lagi melanjutkan makannya. Dia berdiri dengan tatapan nyalang tertuju pada Mario. Amarahnya kembali memuncak saat mengingat kebejatan Mario terhadap calon istrinya.


“Apa belum cukup pukulan yang aku berikan semalam? Apa kamu mau aku buat hancur sekalian wajah kamu itu?” bentak Raffael.


Reno pun segera bangkit untuk mencegah Raffael agar tidak berbuat anarki lagi pada Mario. Jujur saja pria itu juga merasakan amarah yang sama dengan yang dirasakan Raffael. Siapa yang terima jika calon istrinya pernah dilecehkan oleh sahabatnya sendiri.


“Sudah, Mario. Lebih baik kamu pulang saja. untuk apa kamu datang lagi ke sini? bukankah Raffa sudah melarangmu ke sini?” ucap Reno berusaha menengahi Raffael dan Mario.

__ADS_1


“Tapi Om, aku ingin bertemu dengan Jelita melalui Raffa. Ijinkan aku meminta maaf pada dia dan mempertanggung jawabkan semua perbuatanku.” Jawab Mario.


Bugh


Raffael yang sejak tadi sudah tidak bisa menahan amarahnya, ia langsung melayangkan kembali sebuah pukulan tepat mengenai pipi Mario yang masih lebam. Raffael benar-benar marahdan tidak terima dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Mario. Bertanggung jawab. Apa maksudnya.


“Tidak ada yang perlu kamu pertanggung jawabkan, berengsekk!! Cukup kamu pergi dari sini dan jangan lagi menampakkan wajah kamu di hadapanku dan juga Jelita.” Ucap Raffael sambil mencengkeram kerah baju Mario.


Mario hanya diam saat diperlakukan oleh Raffael seperti itu. dia bicara ingin bertanggung jawab pada Jelita setelah semalam tahu dari mamanya kalau Jelita, calon istri Raffael adalah seorang single mother. Kuat dugaaannya kalau anak Jelita adalah buah dari perbuatan bejaatnya dulu.


“Raffa, sudah cukup! Jangan main kekerasan lagi! biar Mario menjadi urusan Papa.” Reno segera menarik Raffael yang sejak tadi mencengkeram kerah baju Mario.


Tanpa mengucapkan sesuatu, Raffael menghempaskan tubuh Mario begitu saja. ia langsung pergi meninggalkan ruang makan. Sedangkan Livy yang ssejak tadi jadi penonton, ia juga keluar dari ruang makan mengikuti kakaknya.


“Kak, tunggu!”


“Cancel meeting hari ini!” ucap Raffael tanpa menoleh ke arah Livy. Ia segera masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di halaman rumah.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


 


__ADS_2