Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 34


__ADS_3

Tidak ada pilihan lagi buat Jelita. Dia akhirnya mengikuti Raffael pergi untuk mempersiapkan pernikahan dadakannya yang akan digelar nanti sore. Arvin pun sebagai anggota keluarga Jelita mau tidak mau ikut andil dalam pernikahan keponakannya itu. walau sebenarnya hatinya tidak rela karena sesuatu hal yang dia sendiri tidak tahu apa artinya.


Siang harinya, Reno, Abi, dan juga Livy sudah tiba di kampung halaman Jelita. Mereka bertiga datang tentunya dengan naik pesawat. Karena lebih cepat daripada harus menyetir sendiri.


Acara pernikahan Raffael dan Jelita yang awalnya akan digelar di hotel mewah, akhirnya tidak terlaksana. Pernikahan yang tinggal beberapa minggu saja itu harus dipercepat hari ini juga lantaran Raffael tidak ingin Mario berbuat nekat terhadap Jelita.


**


Sore itu, dengan disaksikan keluarga Raffael dan juga Arvin, Raffael resmi menjadi suami Jelita. Hembusan nafas lega dapat Raffael rasakan. Kini, dengan status barunya sebagai suami Jelita, ia sudah berhak memiliki wanita itu seutuhnya. Namun bukan itu saja yang ada dalam benak Raffael. Namun lebih ke arah lebih mudah dia melindungi Jelita dari siapapun yang hendak berbuat buruk padanya. Jelita dan Ethan kini sudah resmi menjadi tanggung jawab Raffael.


“Selamat, atas pernikahan kalian berdua! Semoga kalian bahagia selalu.” Ucap Arvin sambil menepuk pelan punggung Raffael.


“Terima kasih, Om!” sahut Raffael dengan tersenyum hangat pada pria yang berstatus paman istrinya itu.


Kemudian tatapan Arvin tertuju pada Jelita yang berdiri di samping Raffael. Pria itu langsung menarik Jelita ke pelukannya layaknya seorang Ayah yang melepas anak perempuannya kepada pria yang telah mempersuntingnya.


Raffael yang masih berada di sana, awalnya menganggap hal itu wajar. Karena Arvin adalah adik dari mendiang ayah Jelita. Anggap saja Arvin sebagai pengganti Ayah istrinya. Namun, melihat cara Arvin memeluk istrinya, Raffael merasa ada sesuatu yang aenh. Apalagi pelukan itu menurutnya terlalu lama.


“Ehm, lebih baik kita segera menyusul untuk ke ruang makan saja!” ucap Raffael lalu dengan pelan menarik Jelita dari pelukan Omnya.


Jelita sendiri bingung menyikapi situasi seperti tadi. sedangkan Arvin berusaha biasa saja, lalu mengangguk setuju dengan saran Raffael untuk segera bergabung ke ruang makan.

__ADS_1


Malam harinya, kedua orang tua Raffael dan juga Livy memutuskan langsung pulang. sedangkan Raffael akan pulang keesokan harinya. Dia tidak memberitahu Mama dan Papanya kalau besok akan menemani Jelita untuk bertemu dengan Ibunya.


Setelah kepulangan Mama, Papa, dan adiknya, Raffael mengajak Jelita dan juga Ethan menginap di hotel tempat ia singgah. Entah kenapa perasaan Raffael tidak nyaman jika menyetujui saran dari Arvin untuk tinggal sementara di sana.


Kini Raffael, Jelita dan Ethan sudah berada di kamar hotel. Ethan sudah tertidur pulas setelah seharian tadi bocah itu kelelahan bermain. Bahkan sampai melewatkan tidur siangnya. Mungkin Ethan juga sedang merasakan bahagia karena mempunyai sudah mempunyai Ayah.


“Biar aku tidurkan Raffael. Kamu bersih-bersihlah dulu sebelum istirahat.” Ucap Raffael yang kini sedang menggendong Ethan hendak menurunkan ke tempat tidur.


Jelita hanya merespon dnegan anggukan kepala. Dia segera mengambil baju ganti dan membawanya masuk ke kamar mandi. sungguh wanita itu benar-benar dilanda rasa bingung sekaligus gugup. Dengan statusnya yang sudah menjadi istri Raffael, dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya setelah ini. apakah pria itu akan meminta haknya malam ini juga. membayangkannya saja Jelita tiba-tiba merasa takut. Teringat dengan kejadian pahit itu.


Tok tok tok


Ketukan pintu kamar mandi membuat Jelita terkesiap. Rupanya ia terlalu lama berada di dalam kamar mandi, sampai Raffael memanggilnya.


“Aku kira kamu ketiduran di sini.” ucap Raffael dengan helaan nafas lega karena istrinya baik-baik saja.


“Maaf, Mas.” Jawab Jelita dengan menundukkan kepala, dan berlalu melewati Raffael begitu saja.


Raffael tahu apa yang membuat Jelita berlama-lama di dalam kamar mandi. wanita itu pasti sedang memikirkan sesuatu hal yang biasa dilakukan sepasang suami istri di malam pertamanya.


Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, Raffael keluar dari kamar mandi. dia melihat Jelita sedang duduk di sofa sambil memegang ponselnya.

__ADS_1


“Menghubungi siapa? Ini sudah malam. lebih baik istirahat.”


“Oh, aku habis menghubungi Bu Alin, Mas. Tapi tiba-tiba saja panggilannya terputus.” Jawab Jelita dengan tatapan mata masih tertuju pada ponselnya, karena dia benar-benar gugup melihat Raffael yang hanya mengenakan celana pendek dan kaos putih berbahan tipis yang jelas menampakkan tubuh atletisnya.


“Tidurlah! Mungkin baterai ponsel Tante Alin habis.” Raffael meraih ponsel Jelita dan meletakkannya di atas meja, dan menuntun wanita itu menaiki ranjang.


Jelita semakin gugup. Bahkan tangan Raffael bisa merasakan langsung kalau saat ini istrinya sedang gugup. Karena tangan Jelita berkeringat. Lagi pula tidak mungkin Raffael meminta haknya malam ini, di saat ada Ethan yang sedang tertidur pulas.


“Kamu jangan takut, Jelita! Aku tahu apa yang kamu pikirkan dan kamu rasakan saat ini. dengan status kita sah sebagai suami istri saja sudah membuatku cukup bahagia. Aku tidak akan meminta hakku ataupun memaksamu sampai kamu benar-benar siap.” Ujar Raffael memegang kedua tangan istrinya.


Tatapan lembut dari mata Raffael membuat hati Jelita yang sejak tadi diliputi ketakutan, kini perlahan lebih tenang. Wanita itu mengangguk samar dan menunjukkan senyumannya walau sedikit terpaksa.


“Ayo, kita tidur! Aku juga ingin memeluk Ethan.”


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2