Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 77


__ADS_3

Setelah mengantar istrinya pulang ke rumah Ibunya saat itu, Raffael langsung meeting dengan kliennya yang memang sudah terjadwal. Hanya saja Raffael databg sedikit terlambat karena dia baru saja dari luar kota.


Raffael tidak menyangka kalau meeting itu diadakan di salah satu hotel ternama yang ada di pusat kota. Ruangan meeting itu sangat mewah. Namun ada yang membuat Raffael tidak nyaman. Pasalnya kliennya dan asistennya itu tidak hanya datang berdua saja. melainkan datang dengan membawa wanita penghibur untuk menemain jalannya meeting.


Raffael tetap menjalankan meeting itu dengan professional. Namun setelah meeting selesai, ia tidak diperbolehkan pulang dulu oleh kliennya. Dia diajak merayakan pesta kecil-kecilan atas kerjasama yang baru saja disepakati. Raffael pun terpaksa mengiyakan, demi menghargai kliennya.


Raffael hanya meminum sedikit. Selebihnya hanya menyaksikan dua wanita penghibur itu meliuk-liukkan tubuh sekssinya di hadapannya. walau dia ingin sekali pulang.


Namun ternyata salah satu wanita penghibur itu berusaha menggodanya. Hingga tanpa Raffael sadari ada seseorang yang mengambil fotonya saat wanita itu pura-pura terjatuh.


Raffael pulang malam sekali. Ia melihat ada beberapa pesan masuk dari istrinya. Dia tidak langsung membalasnya, melainkan meneleponnya. Dan ternyata ponsel Jelita tidak aktif.


Sampai keesokan harinya Raffael mencoba menghubungi ponsel istrinya namun tetap tidak aktif. Bahkan sampai dua hari. Raffael bingung mau menghubungi siapa lagi. dia juga tidak menyimpan nomor ponsel Arvin. Akhirnya selama dua hari itu dia berusaha menyelesaikan pekerjaannya, dan besoknya bisa mendatangi sang istri.


Dan hari itu tiba. Raffael melakukan penerbangan jam dua siang. Setibanya di bandara, dia kembali menghubungi ponsel Jelita. Namun masih sama. Tidak aktif. Perasaannya pun semakin tidak enak. Apalagi saat taksi yang ditumpanginya baru sampai di depan rumah mertuanya, di sana ada mobil Arvin. Tapi ia tidak mendengar suara Ethan.


Raffael melangkah masuk ke dalam rumah yang kebetulan pintunya tidak terkunci. Suasana rumah juga sangat sepi. Namun tiba-tiba saja telinga Raffael tak sengaja mendengar samar-samar suara seorang pria di dalam kamar istrinya. Dia tidak ingin berburuk sangka dulu, walau sebenarnya amarah sudah menguasai pikirannya. Lalu ia memberanikan diri menempelkan telinganya pada pintu kamar.


“Lita, ini handuknya cepat kamu pakai!”


Raffael langsung menendang pintu kamar itu dengan keras.


Brakkk


Betapa terkejutnya dia saat melihat wanita yang berstatus sebagai istrinya kini ada di dalam kamar bersama seorang pria dan dalam posisi pria itu memeluk tubuh istrinya yang terbungkus handuk. Siapapun orang yang melihatnya pasti akan marah seperti Raffael saat ini.


“Mas Raffa!”


“Oh, begini kelakuan kamu selama tiga hari ini tanpa suamimu, hah?” bentak Raffael dengan amarah yang sudah di ubun-ubunnya.


Setelah berkata seperti itu Raffael langsung keluar dari rumah. hatinya sangat kecewa melihat perbuatan hina istrinya di belakangnya selama ini. dia juga memilih untuk tidak menghajar Arvin yang diduga telah melakukan hal hina itu dengan istrinya. Dia berpikir kalau dia tidak ingin mengotori tangannya. untuk apa juga, lagi pula bukan kehendak Arvin saja, melainkan istrinya juga.

__ADS_1


Raffael memilih kembali pulang dengan perasaan yang sangat hancur. Bahkan dia tidak ingin mendengar penjelasan apapun dari Arvin yang sempat meneriaki namanya tadi.


Sementara itu Arvin yang sudah berusaha mengejar Raffael untuk menjelaskan kesalah pahaman itu, kembali masuk ke dalam rumah. ternyata Jelita sudah pingsan.


Arvin benar-benar bingung dengan situasi seperti sekarang ini. melihat kemarahan Raffael, dia takut terjadi sesuatu yang buruk dengan rumah tangga Jelita dan Raffael. Namun untuk saat ini, lebih baik ia merawat Jelita dulu. Karena kondisinya juga sedang tidak baik-baik saja.


Beberapa saat kemudian Jelita sudah sadar dari pingsannya. Wanita itu tiba-tiba menangis mengingat apa yang diucapkan oleh suaminya tadi. dia pun segera mengambil ponselnya yang selama beberapa hari ini tidak aktif.


Dengan tubuh yang masih lemah, Jelita mencoba menghubungi suaminya. namun tidak aktif.


Cklek


Arvin datang dengan membawa semangkok bubur yang masih hangat. Pria itu tampak lega saat melihat Jelita sudah sadar.


“Makan dulu buburnya, mumpung masih hangat.” Ujar Arvin.


“Aku nggak lapar. Bisa Om tinggalkan aku sendiri?” ucap Jelita tanpa melihat wajah Arvin.


Arvin hanya menghembuskan nafasnya pelan. Dia sangat tahu apa yang dirasakan oleh Jelita saat ini.


Setelah kepergian Arvin, Jelita menangis sekeras-kerasnya. Cobaan apa lagi yang sedang Tuhan berikan padanya. Kenapa hatinya sangat sakit saat pria yang sangat dicintainya tega mengeluarkan kata hinaan terhdapnya.


“Mas, kenapa kamu setega itu mengatakan aku murahan tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskan kesalah pahaman itu.” isak Jelita dengan dada yang semakin sesak.


Jelita akhirnya malam ini memutuskan untuk tetap berada di rumah. bahkan dia sampai melupakan tujuannya pulang dari rumah sakit untuk menemui anaknya. semua itu gara-gara suaminya.


Sampai malam, Jelita masih terus berusaha menghubungi suaminya. namun tetap sama. Tidak ada hasil. Mau bertanya pada Livy ataupun mertuanya pun dia tidak berani. Yang ada nanti justru membuat mereka khawatir. Jelita juga berusaha untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.


Beruntungnya setelah menghabiskan semangkok bubur yang dibelikan oleh Arvin tadi keadaannya sedikit lebih baik. Namun Jelita masih belum bisa memejamkan matanya sampai selarut ini.


Berulang kali menghubungi ponsel Raffael dan mengirimkan banya pesan, tapi sama sekali tidak mendapat respon. Karena sampai sekarang ponsel Raffael tidak aktif. Semarah itukah suaminya saat melihat hal yang belum tentu kebenarannya tadi. karena memang selama ini Jelita tidak pernah melihat kemarahan suaminya yang seperti tadi.

__ADS_1


Jelita semakin bingung. Apakah dia harus pulang untuk menemui suaminya dan menyelesaikan masalah ini. namun bagaimana dengan Ibunya yang saat ini masih berada di ruangan ICU.


“Ya Tuhan! Apa yang harus aku lakukan?” lirihnya pilu dengan mata sembab karena sejak tadi tak henti-hentinya menangis.


Jelita memilih mengistirahatkan sejenak tubuhnya. Besok dia akan ke rumah sakit lagi untuk melihat keadaan Ibunya sekaligus meminta ijin untuk pulang menemui suaminya.


Belum juga matanya terpejam, tiba-tiba ia mendengar suara deru mobil berhenti tepat di depan rumah. jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. siapa orang yang datang malam-malam seperti ini. Jelita melihat dari balik jendela kamarnya. Ternyata itu adalah mobil Arvin. Lalu ia segera keluar kamar.


Jelita pikir Omnya datang ke rumah untuk mengambil sesuatu yang tertinggal. Karena memang pria itu tadi bilang akan kembai ke rumah sakit setelah memintanya istirahat.


Cklek


“Om? Ada apa malam-malam datang?” tanyanya penasaran.


Arvin terdiam memaku di depan Jelita yang wajahnya masih terlihat pucat. Bahkan mata Arvin sudah berkaca-kaca saat melihat keadaan keponakannya itu.


Grep


Arvin langsung menarik Jelita ke dalam pelukannya. Jelita yang masih belum mengerti namun samar-samar ia mendengar isakan kecil dari bibir pria itu.


“Lita, kamu yang sabar ya?”


“Ada apa, Om?” tanya Jelita yang sudah tidak bisa lagi membendung air matanya saat melihat air mata Arvin sudah keluar begitu saja.


“Ibu kamu meninggal dunia sekitar dua puluh menit yang lalu.”


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2