Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 86


__ADS_3

Hari ini usai membuat kue, Jelita mengajak Ethan untuk ikut menitipkan kue buatannya itu ke beberapa kios terdekat. Kebetulan juga ia ingin mencaru angin segar di sekitar Villa. Ethan juga sebenarnya sering ia ajak.


Jelita sangat bersyukur atas penghasilan yang ia dapat selama berjualan kue. Uang itu cukup untuk membiayai hidupnya, Ethan, dan calon buah hatinya. Bahkan wanita itu sudah mempunyai mimpi suatu saat nanti ia bisa membuat kedai kue seperti milik Bu Alin.


“Ethan, kita pulang saja ya?” Ajak Jelita pada Ethan yang baru saja menghabiskan es krimnya di kios tempat ia menitipkan kue.


Bocah itu tampak belepotan pipinya terkena sisa lelehan es krim. Lalu mengangguk dan lebih dulu berlari menuju Villa.


Jelita hanya tersenyum tipis melihat tingkah Ethan yang sangat lucu. Karena hanya Ethan yang selama ini menjadi pelipur laranya.


Jelita berjalan mengikuti langkah kecil Ethan yang sedang berlari. Namun langkahnya terhenti saat hampir saja memasuki halaman Villa. Di sana Jelita melihat seorang pria yang sedang berjalan menuju pintu rumah. perasaannya tidak enak karena postur tubuh pria itu mirip sekali dengan seseorang. Namun ia segera membuang jauh pikiran itu. tidak mungkin juga pria itu ada di sini.


Ethan yang lebih dulu sampai depan rumah langsung berteriak memanggil nama pria yang hendak mengetuk pintu rumahnya.


“Ayahhhh!!!!”


Deg


Jelita diam mematung di atas pijakanya. Ternyata dugaannya benar. Pria itu adalah mantan suaminya. bahkan Ethan saja sampai mengenalinya. Tidak hanya itu saja. Ethan bahkan berteriak ceria saat melihat Raffael. Mungkinkah selama ini anak itu sangat merindukan sosok ayahnya.


Sedangkan Raffael setelah mendengar teriakan Ethan, pria itu mensejajarkan tubuhnya saat Ethan sudah berdiri di hadapannya. lalu ia merentangkan tangan siap menyambut pelukan Ethan.


“Ayahh… ayah… kemana aja? Ethan cari-cari Ayah.”


Raffael sekamin mengeratkan pelukannya saat mendapat pertanyaan seperti itu dari Ethan. Memang bocah itu bukan darah dagingnya. Tapi selama mereka tinggal bersama, Raffael sudah menganggap Ethan seperti anaknya sendiri. Dari situlah Ethan seperti kehilangan sosok Ayah yang selama ini pergi entah kemana.


“Maafkan, Ayah. Maaf, Sayang!” gumam Raffael penuh sesal.


Raffael menyadari kalau ada seseorang yang sedang berdiri tak jauh darinya. Dan orang itulah tujuan utamanya datang ke sini. kemudian Ethan mengurai pelukannya dan beranjak mendekati Jelita.

__ADS_1


“Jelita!” lirihnya dengan mata berkaca-kaca menatap Jelita.


Tatapan Jelita terhadap Raffael bukanlah tatapan seperti dulu yang penuh kasih sayang. Wanita itu menatap mantan suaminya penuh dengan kebencian.


Raffael menghampiri Jelita dan langsung bersimpuh di bawah kaki Jelita.


“Jelita, maafkan aku!”


Jelita langsung menghindar dan meminta Raffael untuk segera bangun. Dia juga tidak mengerti apa tujuan pria itu datang. apalagi sampai bersimpuh seperti itu.


Jelita masuk ke rumah begitu saja meninggalkan Raffael yang sudah berdiri. Dia mengajak Ethan masuk agar bocah itu tidak ikut campur urusan orang dewasa.


Raffael ikut masuk menyusul Jelita, walau tidak dipersilakan si pemilik rumah. dia menatap punggung Jelita yang sedang membawa masuk Ethan ke dalam kamar. tak lama kemudian Jelita menutup pintu kamar dan menemui mantan suaminya.


Jelita duduk di sofa ruang tamu. Raffael juga ikut duduk di sana. Di depan Jelita.


Tatapan Jelita sejak tadi menunjukkan tatapan dingin seolah enggan bertemu pria yang sudah cukup menorehkan luka. Apakah kedatangan Raffael ingin membahas masalah surat gugatan cerainya.


Bibir Raffael kelu tidak bisa membalas ucapan Jelita. Benarkah hati wanita itu benar-benar mati setelah dirinya menyesali apa yang telah diperbuatnya selama ini.


“Jelita, maafkan aku. aku salah. Aku menyesal. Apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku, Jelita. Aku baru tahu tentang semua kebenaran itu. kumohon, maafkan aku Jelita.”


Raffael tidak tahu lagi bagaimana caranya meminta maaf pada Jeita. Meskipun sangat sulit, tapi dia berharap Jelita mau memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya itu.


Sedangkan Jelita semakin menatap sinis Raffael. Rasanya ia ingin mencabik-cabik mulut pria di hadapannya itu. rasa sakit hati yang selama ini ia sembuhkan seorang diri, kini kembali menganga saat Raffael datang tanpa permisi dan bilang sesukan hati untuk meminta maaf.


Belum juga mulut Jelita mengumpat Raffael dan mengusir pria itu, tiba-tiba saja perutnya terasa kencang sekali. Dia juga tidak tahu ada apa dengan kandungannya. Biasanya tidak pernah seperti ini.


Sshhh….

__ADS_1


“Jelita! Ada apa? Apa yang terjadi dengan kandungan kamu?” Raffael sangat takut saat melihat Jelita menahan sakit di perutnya. Bahkan terlihat jelas Jelita sedang menahan kesakitannya sambil mengusap perutnya.


“Jangan mendekat!” seru Jelita dengan suara lirih namun tegas.


Jelita tidak ingin tahu banyak dari mana Raffael mengetahui tentang kehamilannya. Saat ini dia sedang fokus pada perutnya yang tiba-tiba terasa kencang dan menyakitkan.


“Pergi dari sini sekarang juga! bahkan bayi ini saja tidak mau melihat kehadiranmu.” Jelita memgusir Raffael dengan tatapan tajam namun menahan rasa sakit.


“Jelita, maafkan aku! aku tahu kesalahnku sangat fatal. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Kamu harus segera dibawa ke rumah sakit. Aku khawatir dengan kandunganmu.” Raffael ingin sekali mendekat dan membawa Jelita ke rumah sakit. Namun tatapan wanita itu semakin lama semakin penuh kebencian.


“Cepat pergi dari sini sekarang juga! aku dan bayi ini sangat membenci kehadiranmu.”


Jelita segera beranjak dan hendak masuk ke dalam kamar demi menghindari Raffael, karena sepertinya janin itu benar-benar tidak suka dengan kehadiran Ayahnya.


Tubuh Jelita terhuyung hampir jatuh. Namun Raffael dengan sigap menangkapnya. Dan di saat itu pula Arvin datang. pria itu sangat terkejut saat melihat keberadaan Raffael di sana. Dan lebih terkejut lagi saat melihat wajah pucat Jelita.


“Apa yang kamu lakukan? Lepaskan Jelita!” Arvin segera menarik Raffael agar menjauh dari Jelita.


“Om perutku sakit sekali.” Lirih Jelita dengan mata yang sudah hampir terpejam.


Arvin segera membawa Jelita ke rumah sakit. Dia sangat khawatir dengan kandungan Jelita. Karena tanpa ia sadari, saat menggendong Jelita ke dalam mobil, ia melihat noda darah pada bajunya.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2