
Saat ini Raffael dan Mario sedang makan siang bersama di salah satu restaurant yang tak jauh dari kantor Raffael. Sejak tadi Mario sangat penasaran dengan calon istri Raffael. Bisa-bisanya Raffael tiba-tiba bertunangan tanpa memberitahunya. Bahkan kedua orang tua Mario juga tidak tahu menahu perihal ini.
Raffael yang sejak tadi terus ditodong banyak pertanyaan, dia justru bersikap acuh pada Mario. Pria itu malah terlihat asyik menikmati makan siangnya. Akhirnya Mario menyerah. Dia baru ingat kalau sedang makan, memang Raffael tidak suka diganggu. Atau lebih tepatnya kalau perutnya sedang kelaparan.
Usia makan, barulah Raffael menceritakan tentang pertuanangannya. Mario sudah memasang telinga lebar-lebar untuk mendengar cerita sahabatnya itu.
“Bukan maksud aku mendahului kamu, Rio! Hanya saja jodohku lebih dulu datang. masak iya aku abaikan begitu saja.” ucap Raffael tanpa beban.
“Bukan itu saja yang ingin aku tanyakan. Aku ingin tahu, seperti apa wanita yang telah menjadi calon istrimu itu? apa dia cantik? Seksii? Dan, ehm….” Tanya Mario bertubi-tubi.
“Otak kamu sepertinya perlu dicuci biar nggak kotor. Sudah ah, aku mau balik dulu.” Ujar Raffael lalu segera beranjak.
“Hei tunggu dulu! Kamu ini nggak asyik banget sih, Raff? Jauh-jauh aku datang ke sini loh. Dan kamu acuhkan begitu saja? cerita juga nggak lengkap.” Gerutu Mario.
“Acuh yang bagaimana? Makanan ini semua juga kamu habiskan. Jauh-jauh datang ke sini? memangnya rumah Om Chiko sekarang sudah pindah ke Mars? Dan satu lagi, aku bukan pendongeng yang harus bercerita dengan lengkap. Aku kembali dulu.”
Raffael langsung pergi meninggalkan Mario, karena memang ia sedang banyak pekerjaan. Namun ia ingat dengan satu hal yang ingin ditanyakan pada Mario.
“Oh iya, kamu jadi bertunangan kan? Kapan? Nanti akan aku ajak tunanganku datang.” tanya Raffael.
“Ah, nanti saja aku kasih kabar lagi.” jawab Mario dengan kesal.
Sepeninggal Raffael, Mario masih duduk diam. kepulangannya yang tertunda membuat rencana pertunangannya juga itu ditunda. Moodnya benar-benar buruk. Apalagi kekasihnya sampai sekarang masih kesal dengannya. lalu ditambah lagi dengan kabar pertunangan Raffael yang menurutnya sangat mendadak. Sebagai sahabat, Mario masih tidak terima dengan itu semua. Kenapa Raffael seolah melupakannya. Meskipun demikian, dia juga bersyukur kalau Raffael akhirnya bisa menemukan tambatan hatinya. Sejak sama-sama tinggal di luar negeri dulu, Mario sangat tahu kalau Raffael tidak pernah sekalipun terlihat menggandeng seorang wanita. apalagi sosoknya yang sangat sempurna dan selalu digandrungi banyak wanita cantik. Namun Raffael tidak pernah sekalipun tertarik dengan mereka. Berbeda dengan dirinya.
***
Seperti yang dijanjikan pada Raffael pada Jelita, usai jam kantor, Raffael bergegas menuju café. Tidak bertemu beberapa jam saja Raffael sudah merindukan wanita itu. maka dari itu ia ingin segera melangsungkan pernikahannya dengan Jelita.
__ADS_1
Setibanya di café, suasana tampak sangat ramai. Raffael memilih tempat duduk yang yang sedikit lebih nyaman dan jauh dari keramaian. Dia juga melihat kekasihnya sedang sibuk melayani beberapa pengunjung yang kebanyakan anak-anak muda.
Raffael tersenyum melihat Jelita yang selalu terlihat cantik di matanya. dia merasa bersyukur bisa bertemu dengan wanita sederhana seperti Jelita. Meskipun sampai saat ini Jelita belum membalas perasaannya, Raffael sudah cukup bahagia karena lamarannya diterima. Setidaknya ia masih bisa terus berusaha membuat wanita itu jatuh cinta padanya.
Raffael sangat paham dengan Jelita. Memang tidak mudah bagi wanita seperti Jelita yang mempunyai masa lalu kelam dan bisa dengan mudah menerima cinta seseorang. Apalagi kejadian itu masih meninggalkan trauma mendalam di hati Jelita. Raffael berjanji dalam hatinya. Dia akan menyembuhkan trauma Jelita dari masa lalunya.
Raffael tidak ingin tahu lebih banyak mengenai siapa pria baj***an yang telah merusak masa depan Jelita dulu. Yang terpenting saat ini dirinya adalah masa depan Jelita yang akan selalu berada di sisi wanita itu, baik dalam keadaan suka maupun duka.
Tak lama kemudian Jelita datang menghampiri Raffael. Dia bersikap seperti karyawan lainnya. Mencatat menu pesanan pengunjung Café lalu memintanya untuk menunggu.
“Aku pesan pelayannya saja. duduk di sini, temani aku ngobrol.” Seru Raffael sambil tersenyum menatap Jelita.
“Mas, aku sedang bekerja. Jangan seperti ini!” ucap Jelita dengan suara setengah berbisik.
Raffael juga tidak ingin membuat Jelita menjadi bahan gosip oleh teman-temannya. Akhirnya ia mengalah dan membiarkan kekasihnya itu melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Raffael memilih masuk ke rumah Bu Alin untuk menemani Ethan bermain.
Pukul tujuh malam Jelita baru selesai dengan pekerjaannya. Ia segera masuk ke rumah Bu Alin menjemput Ethan. Namun tiba-tiba langkah Jelita terhenti saat melihat interaksi Ethan dengan Raffael yang begitu dekat.
Tanpa sadar Jelita menitikan air matanya. mungkinkah selama ini ia salah karena tidak pernah memberitahu pada Ethan tentang keberadaan sosok Ayah. Di usianya yang masih kecil, jelas Ethaan sangat membutuhkan sosok Ayah yang akan menemani dan membimbing anak laki-lakinya.
“Jangan bersedih, Lita! Ibu tahu apa yang sedang kamu pikirkan saat ini. dan keputusanmu menerima Raffa menjadi calon suami kamu sekaligus calon ayah Ethan tidak salah. Kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Ibu tahu kalau sampai saat ini kamu belum menerima kehadiran Raffa di hati kamu, karena memang sangat sulit. Tapi, dengan menerima dia sebagai ayah untuk Ethan, Ibu yakin dengan perlahan kamu akan jatuh cinta pada Raffa.” Tutur Bu Alin panjang lebar.
Jelita hanya diam dan terus melihat interaksi Raffael dan Jelita. Semua ucapan Bu Alin benar. Baginya yang terpenting adalah kebahagian Ethan. Karena Ethan adalah harta paling berharga yang selama ini ia miliki.
“Sudah selesai?” tanya Raffael menghampiri Jelita.
“Sud..sudah.” jawab Jelita kemudian membuang muka dan mengusap sisa air matanya.
__ADS_1
Ethan pun berlari mendekati Bundanya. Bocah itu berteriak kegirangan saat melihat kedatangan Bundanya. Ethan seperti anak yang sudah lama ditinggal pergi oleh Ibunya. Padahal Jelita hanya bekerja beberapa jam saja.
Jelita langsung mengajak Ethan pulang ke rumahnya. Tak lupa Raffael juga mengikutinya. Karena memang tujuannya datang untuk bicara empat mata dengan Jelita.
“Maaf Mas menunggu lama!” ucap Jelita menghampiri Raffael yang sejak tadi menunggunya di ruang tamu. Sedangkan Ethan baru saja tidur.
“Nggak apa-apa. Apa kamu sudah makan?”
“Belum. Sebentar lagi. kalau Mas mau, aku akan siapkan sekalian.”
“Ya, nanti saja. aku ingin bicara serius dulu denganmu, Jelita.”
“Bicara apa, Mas?”
Raffael menarik nafasnya dalam sebelum bicara dengan Jelita mengenai niatnya yang ingin mempercepat pernikahan. Walaupun Raffael sudah menyiapkan hatinya kalau saja Jelita menolak rencana itu. namun ia tetap berharap Jelita menerimanya.
“Aku ingin mempercepat pernikahan kita, Jelita. Bagaimana?”
Raffael terdiam setelah memberikan pertanyaan itu. begitu juga dengan Jelita yang terlihat sedang berpikir. Tidakkah itu terlalu cepat jika dirinya menerima ajakan Raffael untuk mempercepat pernikahan? Tapi melihat Ethan yang tampak ceria saat bersama Raffael, sepertinya tidak ada salahnya juga jika ia menyetujui ajakan Raffael.
“Ehm, terserah Mas saja. aku ngikut.” Jawab Jelita sambil menundukkan kepalanya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!