Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 67


__ADS_3

Tidak jauh dari tempat itu, Sania melihat keromantisan Raffael terhadap Jelita. Perempuan itu mengepalkan kuat tangannya menahan amarah. Bahkan sikap Raffael sangat peduli terhadap Ethan yang jelas-jelas bukan anak kandung pria itu. sungguh Sani tidak habis pikir. Secara fisik, dia lebih cantik dari Jelita. Tapi kenapa sejak dulu Raffael tidak pernah melihatnya. Justru terpikat oleh seorang janda beranak satu, miskin pula.


Sania akhirnya lebih dulu keluar daei restaurant, karena tidak sanggup melihat pemandangan yang menyesakkan dadanya itu. entahlah, saat ini dia masih belum bisa berpikir jernih untuk mencari cara bagaimana membuat Raffael membenci istrinya sendiri, lalu menceraikannya.


***


Raffael sudah pulang beberapa saat yang lalu setelah seharian ini menemani istri dan anaknya liburan. Walaupun liburannya itu hanya dilakukan oleh Ethan. Namun setidaknya ia sangat bahagia akhirnya bisa mengajak istri dan anaknya jalan-jalan.


Raffael sedang berada di ruang kerjanya. Sedangkan Jelita di kamarnya. Dia baru saja mandi dan kini sedang mematut dirinya di depan cermin. Jelita masih ingat pertemuannya dengan perempuan yang bernama Sania sore tadi. terlebih dengan semua ucapan dan ancaman dia. Ancaman terhadap hubungannya dengan Raffael.


Walaupun kenyataannya memang dirinya berbeda status sosial dengan Raffael, bukan berarti Sania bisa merendahkannya. Dia tidak mau kehilangan Raffael, meskipun sekuat apapun usaha Sania untuk memisahkannya. Dia tidak boleh diam dan harus bertindak jika suatu saat Sania atau Sania yang lainnya datang ingin menghancurkan rumah tangganya.


“Apakah sebaiknya aku mengatakan sama Mas Raffa tentang pertemuanku dengan Sania tadi?” gumam Jelita.


Jelita tidak bisa diam begitu saja. mungkin sebaiknya ia bicara jujur dengan suaminya, sekaligus bertanya tentang kejelasan hubungan apa yang pernah terjalin antara suaminya dengan Sania.


Malam telah tiba. Jelita turun ke lantai satu bersama Ethan untuk makan malam. Namun Jelita menitipkan Ethan ke salah satu maid, karena ia akan menyusul suaminya yang sedang berada di ruang kerjanya.


Cklek


“Mas!”


Jelita masuk ke dalam ruang kerja suaminya, dimana saat ini Raffael masih sibuk melakukan panggilan dengan seseorang. Akhirnya ia menunggu sebentar sambil duduk di sofa tak jauh dari meja kerja suaminya.


“Sayang, ada apa? Maaf aku tidak tahu kalau kamu sudah berada di sini.”


“Nggak apa-apa, Mas. Apa kamu sibuk sekali? Ini sudah waktunya makan malam.”


Raffael melirik jam dinding dan ternyata benar. Sudah waktunya makan malam. pria itu segera mematikan laptopnya, lalu mengajak istrinya keluar menuju ruang makan.


Mereka bertiga kini sedang makan malam bersama. Suasana ruang makan itu selalu tampak hangat. Apalagi dengan celotehan lucu dari Ethan yang sangat menggemaskan. Bahkan maid yang berkerja di rumah itu juga ikut bahagia semenjak kedatangan majikan mereka beserta istri dan anaknya.


Usai makan malam, seperti biasa mereka akan menuju ruang keluarga untuk menemani Ethan bermain. Jelita sejak tadi terlihat diam dan melamun, sampai-sampai mencuri perhatian suaminya yang saat ini sedang menemani Ethan bermain.

__ADS_1


Raffael merasa kalau istrinya sedang memikirkan sesuatu yang tidak ia ketahui. Dan dia tidak bisa diam begitu saja. akhirnya Raffael meminta salah satu maidnya untuk menemani Ethan bermain, lalu mengajak istrinya bersantai di taman belakang sambil menikmati kopi.


“Kalau Ethan mencariku bagaimana, Mas?”


“Tidak akan. Ya sudah ayo kita menikmati udara malam di belakang.” Raffael menggandeng tangan Jelita menuju taman belakang.


Kini mereka sudah duduk berdua sambil menikmati kopi yang baru saja dibawakan oleh maid. Jelita sangat menikmati udara malam hari ini. apalagi ia bisa melihat gemerlap lampu yang menyinari kota.


“Apa kamu betah tinggal di sini?” tanya Raffael setelah menyeruput kopinya.


“Betah, Mas. Tapi bukan berarti kita akan tinggal di sini terus kan?”


“Kalau aku memutuskan tinggal di sini bagaimana? Bukannya sebagai seorang istri yang patuh terhadap suaminya, kamu harus ikut kemana pun aku tinggal, hem?”


Jelita terdiam, mencerna ucapan suaminya. walau kenyataannya memang benar. Tapi dia tidak ingin tinggal di negara yang masih sangat asing baginya. Apalagi harus berjauhan dengan Ibunya.


Niat Jelita tadi ingin mengatakan pada suaminya tentang pertemuannya dengan Sania, kenapa sekarang justru membahas tempat tinggal begini sih.


“Sayang, kenapa diam? apa ada sesuatu yang mengganjal hatimu?”


Raffael sebanarnya tidak serius untuk mengajak istrinya tinggal menetap di sini. apalagi sekarang ia sudah menjadi CEO di perusahaan Papanya. Namun dia sangat penasaran dengan alasan istrinya atas penolakan itu.


“Memangnya kenapa?”


“Maaf, Mas sebelumnya. Alasannya karena Ibu. Apalagi Om Arvin,-“


“Cukup! Jangan sebut pria lain saat kita sedang berdua. Dan jangan sampai di pikiran kamu ada pria lain selain suami kamu.” Sahut Raffael tiba-tiba emosi. Padahal Jelita belum menyelesaikan kalimatnya, namun suaminya sudah marah-marah.


Jelita memilih membuang pandangannya. Dia sangat malas bicara dengan suaminya. padahal sejak tadi dirinya yang sudah dibuat bad mood akibat pertemuannya dengan Sania, kini suaminya malah menambahi masalah lagi.


Raffael hanya menghembuskan nafasnya kasar melihat istrinya membuang muka. Dia sadar kalau Jelita juga kesal dengannya yang lagi-lagi tidak bisa menahan emosinya.


“Aku masuk saja, Mas!” ucap Jelita segera beranjak.

__ADS_1


“Sayang! Jangan pergi! Maafkan sikapku baru saja. duduklah! Aku akan mendengarkanmu.” Cegah Raffael menatap istrinya penuh penyesalan.


Jelita duduk kembali dengan malas. Terlebih malas dengan sikap suaminya yang sampai sekarang belum juga berubah.


“Aku janji tidak akan marah-marah lagi.” ujar Raffael meyakinkan.


Jelita melirik suaminya sekilas. Lalu ia menjelaskan tentang alasan penolakannya untuk menetap tinggal di negara ini.


“Ibu sakit. Beliau tidak pernah cerita denganku atas penyakitnya itu. dan hanya Om Arvin yang selama ini peduli dengan Ibu, Mas. Makanya, sebelum kita pulang dari rumah Ibu waktu itu, aku mengajak bicara Om Arvin untuk menitipkan Ibu sekaligus mengucapkan terima kasih.”


“Kenapa kamu tidak bilang, Sayang? Kenapa baru bilang sekarang?”


“Memangnya kamu memberiku kesempatan untuk mengatakan semuanya? Belum apa-apa emosi kamu dulu yang keluar kalau membahas Om Arvin.” Sindir Jelita.


“Iya. aku salah. Jadi ini alasan kamu menolak tinggal menetap di sini? apa sebaiknya Ibu diajak tinggal bersama kita saja dan kita bisa mengobatkannya.”


“Aku sudah bilang seperti itu pada Ibu. Tapi Ibu menolaknya. Om Arvin juga mengatakan kalau kesehatan Ibu saat ini sudah membaik.”


Raffael akhirnya mengerti alasan istrinya. Lagi pula ia bukan seorang suami yang otoriter. Dan pastinya sangat mengerti istrinya jika memang Ibu alasan Jelita menolak tinggal di sini. terlebih hubungan mereka baru saja membaik seteah sekian lama terjadi kesalah pahaman.


“Sekarang ada ingin aku tanyakan padamu, Mas.” Lanjut Jelita.


“Apa? Katakan saja!”


“Apa kamu pernah menjalin hubungan special dengan perempuan yang bernama Sania?”


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2