
Siang ini Raffael menyelesaikan meetingnya lebih cepat sehingga pekerjaannya nanti juga akan cepat selesai jika meetingnya sudah beres.
Pukul setengah empat sore Raffael tampak lega karena semua pekerjaan sudah selesai. dia tinggal memberikan beberapa berkas pada sekretarisnya yang tak lain adalah adiknya sendiri, yaitu Livy.
Raffael keluar dari ruangannya untuk memberikan beberapa berkas pada Livy, sekaligus pulang menjemput istri dan anaknya yang masih berada di café. Entahlah, semenjak menikah, Raffael selalu ingin pulang kerja lebih awal. Rasanya tidak bertemu dengan Jelita beberapa jam saja membuatnya dilanda rindu akut.
“Kalau kerja yang fokus!” Gerutu Raffael saat memasuki ruangan Livy, sedagkan Livy asyik berteleponan dengan seseorang.
Seketika itu Livy langsung memutus sambungan teleponnya karena merasa tidak enak dengan atasannya, meskipun kakaknya sendiri.
Sementara itu Raffael masih sedikit kesal dengan adiknya karena kejadian tadi pagi dimana Livy dijemput oleh Febian tanpa memberitahunya dulu. Kini ditambah lagi, saat berada di jam kerja, Livy malah asyik berteleponan dengan Febian lagi.
“Maaf. Ada apa, Kak?” tanya Livy.
“Berkas ini kamu periksa lagi, kalau ada data yang masih salah, cepat selesaikan!” jawab Raffael dengan nada jutek.
Livy hanya mengangguk saja menerima berkas itu dari kakaknya. Namun Raffael juga tak kunjung keluar dari ruangannya.
“Ingat, Vy! Bukanya Kakak ikut campur urusan pribadimu, tapi bersikaplah professional. Mana pekerjaan dan mana urusan pribadimu.” Ujar Raffael memberi ultimatum.
“Iya, Kak. Maaf!”
***
Kini Raffael sedang dalam perjalanan menuju café Bu Alin. Mood Raffael sejak tadi kurang baik. Apalagi berhubungan dengan Livy. Kini Raffael sudah menemukan obat penghilang mood yang kurang baik itu, yaitu dengan bertemu dengan istrinya.
Beberapa saat kemudian Raffael sudah tiba di halaman parkir Café milik Bu Alin. Setelah memarkirkan mobilnya, ia segera masuk ke café. Meskipun dia tahu kalau istrinya tidak bekerja, namun Raffael ingin masuk ke rumah Bu Alib lewat Café saja daripada lewat pintu samping.
Raffael menghentikan langkahnya saat melihat Ethan tampak antusias dengan mainannya. Tidak. Bukan mainan Ethan yang membuat dada Raffael bergemuruh hebat dengan tangan terkepal kuat. Melainkan dua orang yang sedang duduk menemani Ethan bermain lah yang membuat dada Raffael semakin sesak.
Raffael seolah tidak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya sekarang. bagaimana bisa istrinya sedang duduk bersama Mario dan menemani Ethan. Meskipun dia yakin kalau istrinya sangat mencintainya, tapi melihat Jelita sedang berdua dengan Mario menemani Ethan seperti ikut seketika pikiran buruk melintas dalam benaknya. Mengingat Mario adalah ayah biologis Ethan. Bagaimana jika Mario,..
__ADS_1
“Ayah!!!”
Suara teriakan Ethan memanggil nama ayahnya membuat lamunan Raffael buar seketika. Sedangkan Jelita tampak terkejut dengan kedatangan suaminya. entah sejak tadi atau baru saja. namun yang pasti saat ini dia melihat raut wajah suaminya tampak berbeda.
Raffael mendekati meja pengunjung Café dimana Jelita dan Ethan berada. Tentunya bersama Mario.
“Mas, sudah pulang?” sambut Jelita sambil meraih punggung tangan suaminya dan menciumnya dengan takzim.
Raffael lagi-lagi meleleh dengan sikap patuh istrinya seperti ini. tidak peduli dimana pun tempatnya, Jelita selalu berlaku sebagai istri yang sangat taat pada suaminya.
Sedangkan Mario yang menyaksikan pemandangan itu tepat di hadapannya, seketika hatinya terusik. Ingin sekali memiliki wanita yang sudah melahirkan anaknya namun menjadi istri sahabatnya sendiri.
“Eh, Raff! Aku tadi ke rumah kamu. Kata Tante Abi Ethan ada di sini. jadi aku langsung ke sini saja.” ujar Mario berbasa-basi.
“Hmm…” jawab Raffael singkat terkesan tak peduli.
Jelita pun bingung dengan situasi saat ini. apalagi raut wajah suaminya masih terlihat menyeramkan seperti singa kelaparan.
Raffael hanya mengangguk samar. Namun tatapannya tertuju pada Ethan yang kembali sibuk dengan mainan barunya. Dia yakin kalau mainan baru itu pasti dibelikan oleh Mario. Padahal tadi Ethan terlihat antusias saat melihat kedatangannya. Kini perhatiannya tertuju dengan mainan barunya.
“Kamu jangan memanfaatkan Ethan. Aku tahu apa yang ada dalam pikiran kamu.” Ucap Raffael yang tertuju pada Mario.
Semenjak mengetahui bahwa Mario adalah ayah biologis Ethan, sikap Raffael sudah tidak ramah lagi pada Mario. Terlebih tentang masa lalu Mario bersama Jelita.
“Apa sih, Raff maksud kamu? Aku tidak mengerti.” Jawab Mario tampak tenang. Meskipun sebenarnya dia tahu ke mana arah pembicaraan Raffael.
“Ck, jangan pura-pura bodohh! Aku memberimu kesempatan untuk bertemu dengan Ethan. Tapi aku harap kamu tidak memanfaatkan itu semua dengan mencari perhatian dari istriku.”
Mario terdiam. Dia bingung menjawab pernyataan sahabatnya. karena memang yang dikatakan oleh Raffael benar adanya.
“Kamu jangan berpikir yang macam-macam. Aku memang ingin bertemu dengan Ethan. Apa salah aku bertemu dengan anak kandungku sendiri? Darah dagingku sendiri?” ujar Mario dengan suara tegas seolah menantang Raffael.
__ADS_1
Raffael mengepalkan kuat tangannya. ingin sekali ia melayangkan pukulan tepaat di wajah Mario. Tapi dia berusaha kuat menahannya. Kalau dia marah dan terpancing emosi atas ucapan Mario, justru itu akan membuat Mario senang dan menang darinya.
“Ayo, Mas! Kita pulang ssekarang.” Ajak Jelita yang tiba-tiba datang dengan membawa box kue Black Forest.
Raffael beranjak dari duduknya tanpa menanggapi lagi ucapan Mario. Setelah itu ia mengajak Ethan pulang. beruntungnya anak itu tidak protes, walau kegiatan bermainnya sedikit terganggu. Raffael mengangguk samar pada Bu Alin darijauh setelah itu berpamitan pulang. sedangkan Mario, ia biarkan begitu saja. meskipun tadi istrinya sudah meminta Ethan untuk menyalim tangan Mario sebelum pulang.
Kini Jelita sudah berada di mobil. Memangku Ethan yang masih sibuk dengan mainannya. Bahkan ia tidak berani meilirik ataupun mengajak suaminya bicara karena Raffael sudah kembali lagi ke mode menyeramkan.
Setibanya di rumah, Ethan langsung menghampiri Oma dan Opanya yang sedang bersantai di ruang tengah. Sedangkan Jelita menaiki tangganya masuk ke kamar untuk menyiapkan air hangat untuk suaminya.
Jelita selesai menyiapkan air untuk Raffael. Namun saat keluar kamar mandi, ia tidak melihat suaminya di dalam kamar. ternyata Raffael sedang berada di balkon kamar sambil merokok.
“Mas, air hangatnya sudah aku siapkan.” Ucap Jelita menghampiri suaminya.
Raffael mematikan rokoknya lalu beranjak masuk tanpa menjawab istrinya. Jelita pun berjalan mengekori Raffael karena merasa tidak enak diabaikan oleh suaminya.
“Mas! Kamu marah sama aku?” tanya Jelita.
Raffael menghentikan langkahnya. Apalagi samar-samar ia mendengar suara isakan kecil. Kemudian ia berbalik badan menatap istrinya yang sudah mengeluarkan air mata.
“Aku bingung, Mas. Aku tahu kamu marah saat melihatku menemani Ethan dan Mario tadi. aku tidak tahu aku harus bagaimana? Apakah aku harus membiarkan Ethan bersama Mario? Aku takut, jika dia membawa pergi Ethan.” Ucap Jelita menjelaskan kegundahan hatinya.
Raffael yang tidak tega melihat istrinya menangis, segera menarik Jelita ke dalam pelukannya. Ada rasa sesal dan cemburu berbaur jadi satu dalam hatinya. Ucapan Jelita ada benarnya juga. Lalu bagaimana dengan perasaannya?
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!