
Mata wanita paruh baya itu menatap lekat mata Jelita. Anak perempuan satu-satunya yang ia miliki. Anak yang telah mencoreng nama baik keluarga, sekaligus penyebab kematian suaminya. sejenak ada rasa rindu menelusup relung hati Bu Sukma. Namun setelah itu teringat kepingan kejadian di mana sang suami meninggal dunia karena ulah putrinya itu.
“Untuk apa kamu datang ke sini lagi?” tanya Bu Sukma dengan suara datar.
Seketika hati Jelita terasa nyeri mendengar suara datar sang Ibu yang sarat akan kebencian mendalam, tidak bisakah wanita yang telah melahirkan dirinya itu sedikit membuka hati dan telinganya untuk mendengarkan dirinya.
“Ibu! Maafkan Jelita, Ibu!”
Jelita langsung bersimpuh di bawah Bu Sukma sambil mencium kaki wanita itu. tidak ada lagi yang bisa Jelita lakukan selain memohon ampun pada Ibunya. Walau kejadian waktu itu bukan salah dirinya sepenuhnya.
“Bundaaa….” Tiba-tiba Ethan yang sejak tadi ada dalam gendongan Raffael berteriak memanggil nama Bundanya saat melihat sang Bunda menangis di bawah kaki wanita yang dia tidak mengenalnya.
Tatapan Bu Sukma nanar tertuju pada sosok kecil yang wajahnya sangat mirip dengan Jelita. Apa maksud kedatangan Jelita membawa anak kecil dan seorang pria yang tidak ia kenal itu. apakah anaknya itu akan menunjukkan padanya tentang kehidupannya selama ini yang sudah bahagia.
“Ibu… tolong maafkan Jelita, Bu! Tolong dengarkan Jelita dulu, Bu!” lirih Jelita dengan posisi masih sama.
Raffael melihat istrinya ikut iba. Namun dia tidak bisa berani berbuat apa-apa. Dia juga tidak tahu banyak tentang masalah keluarga Jelita.
“Mbak, tolong beri kesempatan Jelita untuk bicara!” Kali ini Arvin ikut bicara.
“Jelita bangunlah!” lanjut Arvin membantu Jelita berdiri. Namun Jelita menggelengkan kepalanya. Ia masih menunggu respon ibunya. Lebih tepatnya menunggu pintu maaf dari ibunya.
“Kamu mau membela anak tidak tahu diri ini, Arvin?” tuduh Bu Sukma menunjuk Arvin.
Arvin terkejut dengan bentakan kakak iparnya. Walau selama ini dia jarang berinteraksi dengan kakak iparnya itu, Arvin sangat menyayangkan melihat seorang Ibu yang murka pada anak perempuannya karena tuduhan yang tidak mendasar.
“Jelita bangunlah! Sepertinya kedatangan kamu sangat sia-sia. Biarkan wanita yang kamu panggil ibu ini terus menyalahkan kamu tanpa tahu dengan jelas kalau kehamilan kamu dulu karena korban pemerko_saan.”
Deg
Bu Sukma terhenyak mendengar ucapan Arvin. Wanita itu juga merasakan tangan Jelita yang sedari tadi memeluk kakinya dengan erat kini perlahan melemah seiring dengan isakan yang semakin terdengar pilu.
Lalu suara tangis Ethan yang semakin kencang membuat wanita paruh baya itu seketika dihampiri rasa penyesalan yang sangat dalam. Anaknya hamil akibat diperk_osa. Benarkah itu? bagaimana itu semua bisa terjadi. Bu Sukma teringat kejadian dimana suaminya jatuh pingsan setelah dirinya menemukan alat tes kehamilan yang ditemukan di kamar mandi. tak lama setelah itu suaminya langsung meninggal dunia karena serangan jantung, sebelum mengetahui kejadian sebenarnya yang menyebabkan Jelita hamil.
__ADS_1
Air mata Bu Sukma luruh begitu saja. wanita itu terduduk lemas dengan wajah memucat. Sedetik kemudian tubuhnya limbung ke lantai.
Brukk
“Ibu!!” teriak Jelita dengan panik.
Arvin dan Raffael pun segera membawa Bu Sukma ke kamar. Jelita mengikuti dengan Ethan yang maish merengek. Lalu ia mencari minyak angin untuk dioleskan pada area hidung dan kepala ibunya.
Di dalam kamar itu ada Jelita, Ethan, dan Raffael yang menunggu Bu Sukma siuman. Sedangkan Arvin memilih menunggu di ruang tamu untuk memberi kesempatan Jelita bicara dengan Ibunya.
Beberapa saat kemudian wanita paruh baya itu mulai mengerjapkan matanya. Jelita yang sejak tadi duduk di samping Ibunya dengan menggenggam tangannya lembut seketika merasa lega saat Ibunya sudah sadar.
“Ibu!!”
Air mata Bu Sukma kembali mengalir saat melihat Jelita. Wanita itu benar-benar menyesali perbuatannya. kenapa dia dulu tidak memilih mendengar penjelasan putrinya dulu sebelum mengusirnya.
“Jelita! Ibu… ibu bukan ibu yang baik untuk kamu. Ibu ini wanita jahat yang telah mengusir anak kandungnya sendiri. Ibu tidak pantas dipanggil ib,-“
Akhirnya kedua wanita saling berpelukan. Menangis haru, terutama Bu Sukma yang sangat menyesali perbuatannya dulu. Wanita itu tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan Jelita selama kurang lebih tiga tahun ini. bahkan selama itu pula ia hidup sendiri masih menyimpan rasa benci terhadap putrinya yang telah menyebabkan kematian ayahnya sendiri.
“Bunda…!!”
Lagi-lagi Ethan merengek dalam gendongan Raffael. Bocah itu memang tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi. Dia hanya tahu kalau bundanya sejak tadi menangis tiada henti.
Bu Sukma pun melirik ke arah Ethan dan pria asing yang sejak tadi ikut bersama Jelita. Siapa pria itu. tidak mungkin pria itu adalah ayah kandung dari bocah yang wajahnya mirip dengan Jelita.
“Siapa dia, Nak?” tanya Bu Sukma setelah mengurai pelukannya.
Jelita mengusap air matanya. lalu ia meraih Ethan dari gendongan Raffael. Ethan pun langsung diam dan memeluk Bundanya dengan erat.
“Dia Ethan, Bu! Anak Jelita, cucu Ibu. Maafkan Jelita, jika Jelita yang memilih mempertahankan dia. Dia sama sekali tidak bersalah. Dan dia lah yang menjadi penyemangat Jelita selama ini.”
Bu Sukma semakin tergugu dalam tangisnya. Wanita itu langsung menciumi Ethan. Tidak menyangka kalau setelah Jelita ia usir dari rumah, anaknya itu hidup berdua dengan anaknya saja. sungguh Bu Sukma merasa sangat tidak pantas dipanggil Ibu lagi. menelantarkan anak dan cucunya yang hidup menderita.
__ADS_1
Ethan pun tampak diam saat diciumi oleh neneknya. Jelita sangat lega melihat kebersamaan ini. setelah suasana lebih hangat, Jelita memperkenalkan Raffael.
“Bu, kenalkan dia Mas Raffael. Suami Jelita.” Ucap Jelita.
“Suami? apakah dia ay,-“
“Bukan, Bu! Mas Raffa adalah pria baik yang menerima masa lalu Jelita, Bu. Kami baru menikah kemarin.” Sahut Jelita dengan cepat seolah mengerti ucapan Ibunya kalau mengira Raffael adalah ayah kandung Ethan.
Raffael pun mendekat ke Bu Sukma. Mencium punggung tangan wanita itu dengan takzim.
Meskipun baru pertama kali bertemu dengan Raffael, Bu Sukma bisa tahu kalau Raffael adalah pria baik dan bertanggung jawab. Wanita itu merasa aman kalau anak dan cucunya bersama Raffael.
Cukup lama mereka berbincang-bincang. Jelita menceritakan semuanya pada Ibunya. Mengenai pernikahannya yang dadakan di rumah Arvin, dan tentang kehidupannya selama ini bersama Ethan.
Sayangnya kebersamaan antara Ibu dan Anak yang baru saja bertemu dan kembali menjalin hubungan baik itu harus berakhir. Raffael tidak bisa berlama-lama tinggal di sana. Banyak pekerjaan yang terbengkalai setelah ditinggal beberapa hari. Pria itu juga mengajak ibu mertuanya untuk ikut tinggal bersamanya, namun Bu Sukma menolak dan memilih tinggal di rumahnya sendiri.
Jelita juga sangat berat harus meninggalkan sang Ibu yang hidup sendirian. Tapi sebagai seorang istri, dia juga harus menurut pada Raffael. Terlebih ibunya sudah memberikan restu padanya.
“Kamu jangan khawatir, Jelita. Masih ada aku jika Ibu kamu membutuhkan sesuatu.” Arvin yang sejak tadi diam kini ikut bersuara. Bu Sukma pun mengangguk setuju dengan ucapan Arvin.
Akhirnya sore itu juga Jelita harus pulang dari rumah Ibunya dan akan ikut suaminya. perpisahan yang cukup mengharukan di saat sebuah hubungan baik antara ibu dan anak baru saja kembali terjalin.
“Jaga Jelita dengan baik! Kalau kamu membuatnya bersedih, aku tidak segan merebutnya dari kamu.” Bisik Arvin pada Raffael.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1