
Keesokan harinya Jelita dan Raffael bangun kesiangan. Padahal mereka sudah berencana pagi-pagi sekali akan pergi ke Villa untuk menjemput Ethan. Namun sayangnya, pukul sembilan keduanya baru membuka mata. Jelita yang terkejut saat menyadari sinar matahari sudah meninggi, ia bergegas bangun. Tapi sayangnya ia menahan pergerakannya saat merasakan tubuhnya remuk dan bagian intinya sedikit ngilu. Wajar saja karena Jelita hanya pernah melakukannya sekali. Meskipun dulu saat melahirkan Ethan secara normal, tetap saja intinya sempit karena tidak pernah ada yang bertamu.
Jelita meringis tertahan. Mencoba untuk bangun dengan perlahan. Baju-bajunya juga sudah berserakan di bawa tempat tidur. Hendak memungutnya pun rasanya tidak sanggup. Namun tiba-tiba saja tubuhnya seperti melayang saat tiba-tiba Raffael mengangkatnya dan membawanya masuk ke kamar mandi.
Jelita akhirnya pasrah berada dalam gendongan suaminya. apalagi keadaan mereka berdua sama sekali tidak memakai sehelai benang pun.
Raffael menurunkan Jelita sebentar sambil mengisi bathtub dengan air hangat. Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam bathub.
“Mas, aku bisa mandi sendiri.” Ujar Jelita merasa tak enak saat Raffael sudah mulai menggosok punggungnya dengan sabun.
Raffael tidak menanggapi ucapan istrinya. Dia benar-benar fokus dengan kegiatannya itu. bahkan ia masih mengingat dengan jelas pergumulannya semalam. Ingin mengulanginya pagi ini, namun sepertinya Jelita tidak nyaman.
Cup
Raffael mengecup punggung mulus istrinya yang sudah wangi. Darahnya berdesir dan intinya perlahan menggeliat. Jelita yang sejak tadi menahan diri agar suaminya tidak mengulanginya dulu karena memang posisinya tidak membuatnya nyaman. Akan tetapi setelah merasakan pergerakan sesuatu di bawah sana, membuatnya cukup paham kalau suaminya ingin melakukannya lagi.
“Mas boleh melakukannya lagi kalau mau.” Ujar Jelita dengan tenang. Bukankah sebagai seorang istri harus seperti itu. menawarkan diri sebelum suaminya meminta. Biarlah Ethan bersama Oma dan Opanya. Toh mertuanya pasti juga paham dengan apa yang dilakukan oleh anak dan menantunya.
Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Raffael pun kembalimenuntaskan hasratnya. Dia memberikan pemanasan pada Jelita masih dengan posisi di dalam bathtub. Untuk kegiatan intinya, nanti Raffael akan membawa istrinya ke dalam kamar saja. dia cukup memaklumi kalau istrinya masih awam untuk diajak berekplorasi dengan berbagai macam gaya dan posisi.
Pagi itu kedua insan yang tengah dimabuk asmara kembali mengulang kegiatan panasnya. Sungguh Raffael sama sekali tidak ingin berhenti. Ia ingin terus menyentuh tubuh istrinya yang telah membuatnya candu. Ini juga pengalaman pertamanya.
Jelita tergolek lemah di atas ranjang. Namun sebuah senyum tipis mengukir di bibirnya kala melihat suaminya tersenyum puas.
__ADS_1
“Tunggulah di sini, aku akan mengambil makan untuk kita.” Ujar Raffael penuh pengertian.
Jelita hanya mengangguk. Jujur, dia juga sangat lapar setelah semalam bekerja keras, pun dengan pagi ini. tenaganya terkuras banyak dan butuh asupan.
Sepeninggal suaminya, Jelita menelisik kulit tubuhnya yang penuh dengan tanda cinta dari suaminya. dia tidak menyangka setelah pertemuannya semalam dengan Mario, ternyata rasa trauma yang selama ini ia rasakan musnah begitu saja.
“Bundaaa!!!!”
Jelita terkesiap saat tiba-tiba Ethan berlari masuk ke dalam kamarnya. Karena saat ini ia sedang tidak memakai baju. Hanya selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Raffael sepertinya juga lupa menutup pintu. Alhasil Ethan masuk ke kamarnya dengan mudah.
“Bunda sakit kah?” tanya bocah itu dengan polosnya.
Jelita bingung menjawab. Dia hanya mengangguk lemah seolah meyakinkan kalau dirinya sedang sakit.
Tak lama kemudian Raffael masuk ke kamar dengan membawa nampan berisi makanan. Dia tadi juga terkejut saat Mama dan Papanya sudah pulang. dia pikir Ethan masih di bawah. Ternyata Livy membawanya naik dan membiarkan Ethan masuk ke kamar orang tuanya.
Setelah selesai, Raffael kembali ke kamar dan makan bersama istrinya. Sedangkan Ethan ia biarkan bermain di sana.
“Apa Jelita baik-baik saja?” tanya Abi yang sudah masuk ke kamar.
Abi tadi melihat Raffael membawa makanan ke atas. Dia pikir Jelita sakit setelah semalam habis bertemu dengan Mario.
“Ehm.. baik, Ma.” Jawab Jelita bingung.
__ADS_1
“Kalau istri kamu sedang kurang sehat, lebih baik kamu antar ke dokter saja, Raff,- astaga!!!!”
Abi tiba-tiba terpekik saat melihat leher Jelita penuh dengan tanda cinta hasil perbuatan anaknya. padahal ia sudah cemas dengan keadaan menantunya itu. ternyata semalam anaknya sudah menghajar Jelita habis-habisan.
Jelita pun seketika tertunduk malu saat pandangan ibu mertuanya tertuju pada leher jenjangnya. Sementara Raffael hanya tersenyum kaku sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Mama kayak nggak pernah muda saja, hehehehe…”
Skakmat buat Abi. wanita paruh baya itu akhirnya salah tingkah sendiri. Ternyata sikap Raffael tak jauh berbeda dengan suaminya. akhirnya wanita itu keluar dari kamar Raffael, membiarkan anak dan menantunya menyelesaikan sarapannya.
“Mama tunggu kabar baiknya saja dari kalian.” ujar Abi penuh arti sebelum keluar dari kamar.
“Tentu saja, Ma. Sebentar lagi Raffa junior akan hadir. Mama tenang saja!” sahut Raffael.
Abi hanya menggelengkan kepalanya. Tapi dia juga senang jika secepatnya Jelita memberikannya cucu lagi. lalu wanita itu kembali menghentikan langkahnya saat teringat sesuatu.
“Oh iya, Jelita. Nanti kalau suami kamu punya waktu luang, Mama dan Papa ingin berkunjung ke rumah Ibu kamu. Kami ingin bersilaturahmi dengan Ibu kamu.” Ujar Abi cukup membuat Jelita bahagia.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!