
Malam ini Raffael tengah berkumpul dengan keluarganya di ruang tengah usai makan malam. Abi, Reno, dan juga Livy sangat merindukan sosok kecil yang semakin menggemaskan itu. terlebih setelah semingguan lebih berada di luar negeri untuk berlibur.
Mereka baru bisa berkumpul memang seperti sekarang ini. seharian ini Reno dan Livy juga berada di kantor. namun tidak untuk Abi, Si Omanya Ethan. Walaupun sejak kepulangan Raffael siang tadi wanita itu sudah menyandera Ethan, sekarang pun dia seperti tidak rela jika bocah berusia tiga tahun itu dikuasai anak perempuannya, yaitu Livy. Ethan benar-benar seperti primadona dalam rumah itu.
“Sini Ethan! Ganti duduk di pangkuan Opa.” Kali ini Reno yang meminta gilirannya.
Sejak tadi Reno sudah mengalah pada istri dan anak perempuannya untuk menguasai Ethan. Pria itu hanya mencium sekilas cucunya, setelah itu Ethan langsung direbut oleh istrinya. Sekarang pun dikuasai Livy.
“Sebentar dong, Pa! aku sudah lama nggak ketemu sama Ethan. Biar aku puas dulu peluk-peluk dia.” Sahut Livy masih memangku Ethan yang tengah asyik melihat tontonan utube melalui ponsel Livy.
“Memangnya kamu saja yang ketemu Ethan? Papa juga. dari tadi Ethan pindahnya ke Mama kamu dan kamu saja.” dengus Reno tidak terima. Lalu pria itu beranjak dan mengambil paksa Ethan sekaligus ponsel Livy, agar Ethan tidak menangis.
Raffael dan Jelita saling lirik. Sepasang suami istri itu hanya geleng-geleng kepala melihat ulah orang-orang di hadapan mereka yang sedang memperebutkan Ethan. Tapi jujur saja, Jelita sangat bahagia melihatnya. Baanyak sekali orang-orang yang menyayangi putranya, setelah selama ini hidup dengan kekurangan kasih sayang.
Saat sedang asyik-asyiknye bercengkerama, tiba-tiba saja ART Reno datang untuk menyampaikan pada majikannya kalau sedang ada tamu yang sedang menunggu di ruang tamu.
“Siapa, Bi?” tanya Reno.
“Tuan Chiko dan keluarganya, Tuan.”
Jelita tahu kalau kedatangan Mario dan keluarganya karena ingin bertemu dengan Ethan. Sama halnya dengan mertua dan adik iparnya yang sedang merindukan Ethan setelah lama berlibur di luar negeri. jadi, Mario pasti juga merindukan Ethan.
Raffael yang lebih dulu menuju ruang tamu. Lalu diikuti oleh Jelita yang sudah menggandeng Ethan. Bagaimana pun juga Ethan terikat hubungan darah dengan Mario.
**
Kini di ruang tamu penggemar Ethan bertambah lagi. namun kali ini Reno dan istrinya memberikan waktu pada keluarga Chiko untuk melepas rindunya terhadap Ethan, khususnya Mario.
__ADS_1
Mario tidak peduli dengan kemesraan yang seperti sengaja ditunjukkan oleh Raffael di depan matanya. yang penting saat ini dia bisa menikmati waktunya dengan Ethan. Sementara Chiko dan Chelsea tampak berbincang-bincang dengan si Tuan Rumah.
Mario meminta ijin membawa Ethan keluar, demi menikmati kebersamaannya berdua saja dengan Ethan. Jelita menganggukkan kepala memberi ijin.
Raffael tampak mendengus kesal. Pria itu khawatir kalau Mario mendoktrin Ethan dan bicara yang tidak-tidak tentang dirinya, dan akan berujung Ethan membencinya.
Mendengar pembicaraan para orang tua membuat Raffael bosan. Akhirnya ia memilih menyusul Ethan yang saat ini bersama Mario di teras rumah. Jelita hendak mencegah langkah suaminya pun terlambat. Akhirnya mau tidak mau, dia ikut ke teras rumah.
Di sana tampak Ethan sedang bermain dengan mainan baru yang sepertinya baru dibelikan oleh Mario, dan diambil oleh pria itu dari mobilnya saat mengajak Ethan keluar tadi. Ethan sendiri sangat tertarik dengan mainan itu. dan hal itu membuat Raffael tidak suka.
“Lain kali kalau mau bertemu dengan Ethan tidak perlu membawa mainan baru. Aku bisa membelikannya. Lebih banyak dan lebih bagus dari itu.” sinis Raffael melirik Mario.
“Mas!” Jelita menyenggol lengan suaminya agar tidak bicara seperti itu.
“Sorry, Raff! Memang hanya ini yang aku bisa. Jadi, tolong jangan larang aku untuk membahagiakan Ethan dengan cara seperti ini. lagi pula kami juga bisa bertemu dengan cara seperti ini. masih beruntung kamu karena aku tidak melakukan hal lainnya.”
“Apa maksud kamu, hah?”
“Jangan Jelita! Please, maafkan aku!” ujar Mario memohon.
Jelita melirik suaminya yang sedang membuang pandangannya ke samping. Raffael tidak mengiyakan juga tidak melarangnya. Akhirnya ia menurunkan Ethan kembali dan membiarkan anak itu bermain dengan Papanya.
Ketiga orang dewasa itu kini saling diam. hanya Mario saja yang lebih aktif mengajak bicara Ethan. Namun setelah itu Raffael memilih berbincang-bincang dengan istrinya. Membiarkan Mario asyik dengan Ethan yang saat ini sedang seru bermain.
Waktu sudah malam. Mario melihat Ethan yang sejak tadi bermain akhirnya terpaksa mengambil mainan anaknya itu dan memintanya untuk segera tidur. Apalagi dia juga tahu kalau tadi siang Ethan baru saja pulang dari perjalanan liburannya bersama orang tuanya.
“Ethan, sekarang tidur ya? Besok Papa ke sini lagi dan bermain sama Ethan lagi.” ujar Mario sambil mencium pipi Ethan bergantian.
__ADS_1
Ethan hanya mengangguk lemah, karena sepertinya bocah itu sudah mengantuk. Mario sendiri sebenarnya ingin sekali bisa tidur bersama anaknya itu. memeluknya sepanjang malam menemani Ethan menyelami mimpinya. Namun sayangnya semua itu hanya mimpi baginya. Tidak akan pernah terwujud sama sekali. Tapi entahlah. Mario berharap suatu saat nanti dia bisa memeluk Ethan layaknya seorang ayah kandung dengan anak laki-lakinya.
Jelita menerima Ethan dari gendongan Mario. Wanita itu bisa melihat bagaimana perasaan Mario saat harus berpisah dengan Ethan. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Memang kenyataannya harus seperti ini. dirinya juga belum tega jika harus memberikan banyak waktu untuk Mario dan keluarganya membawa Ethan.
Tanpa mengucapkan sesuatu, Raffael masuk ke rumah begitu saja mengikuti istrinya dan meninggalkan Mario begitu saja. sesampainya di ruang tamu, Chiko dan Chelsea mencium Ethan yang sedang dalam gendongan Bundanya, karena mereka juga akan pulang.
“Kami pulang dulu ya, Jelita! Terima kasih atas waktunya.” Ujar Chelsea dengan tulus.
Ucapan terima kasih Chelsea ia tujukan untuk Mario. Karena sejak tadi Mario lah yang lebih banyak memiliki waktu dengan Ethan. Walaupun dia dan suami juga masih ingin bersama dengan Ethan.
“Sama-sama, Tante. Kalau Om dan Tante masih ingin bertemu dengan Ethan, besok atau kapan saja bisa main ke sini.” jawab Jelita dengan sopan.
Chiko menganggukkan kepalanya. Setelah itu berpamitan pulang. Mario juga masuk sebantar untuk berpamitan pada Reno dan Abi.
Mario mengemudikan mobilnya kelouar dari halaman rumah Reno. Dia merasa cukup lega setelah bercengkrama dengan putranya. Namun tiba-tiba saja pandangan Mario teralihkan pada sebuah mobil yang sedang berhenti tak jauh dari rumah Reno. Mario sangat hafal dengan mobil itu.
Ckiiittt
“Rio! Apa-apaan kamu ini?” pekik Chelsea terkejut saat Mario menginjak remnya mendadak.
Bukannya mempedulikan kekesalan Mamanya, Mario justru keluar dari mobilnya dan menghampiri mobil itu sebelum dia kecolongan.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!