Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 32


__ADS_3

Raffael terkejut saat melihat Jelita hendak melepas cincin tunangannya. Dia tidak terima hubungannya kandas begitu saja. padahal hari bahagia itu sudah di depan mata. Dengan cepat Raffael menghampiri Jelita mencegah wanita itu yang akan melepas cincin.


“Tidak! Kamu tidak boleh melakukannya! Kita akan tetap menikah. secepatnya! Aku tidak peduli pada persahabatanku dengan Mario. Aku tidak mempunyai sahabat seorang baj***an seperti dia.” Setelah itu Raffael langsung memeluk erat tubuh Jelita.


Pertahananh Jelita runtuh. Bibirnya bisa dengan mudah mengatakan untuk mengakhiri hubungannya dengan Raffael. Tapi tidak dengan hatinya. Wanita yang sudah lama hidup dalam kesendirian dan tak pernah sekalipun merasakan jatuh cinta pada lawan jenis, Jelita tidak mengerti dengan perasaannya saat ini terhadap Raffael. Meskipun dia perkenalannya dengan pria itu tergolong singkat, namun ternyata berhasil membawa efek tersendiri untuk hatinya.


Jelita menangis terisak dalam pelukan Raffael. Hatinya benar-benar rapuh. Kenapa harus dihadapkan dengan kondisi yang sangat rumit seperti ini. bagaimana nanti tanggapan kedua orang tua Raffael setelah mengetahui semuanya. Mungkinkah Reno dan Abi masih memberi restu padanya, atau justru sebaliknya. Karena setahu Jelita, Papa Raffael itu sahabat baik dari pria yang pernah menjadi atasannya saat magang dulu. Yaitu, Chiko.


Sementara Arvin yang sejak tadi mendengar semua pembicaraan Raffael dan Jelita, termasuk hingga kini kedua insan itu terdiam tanpa kata, Arvin cukup tahu meskipun tidak melihat. Akhirnya dia memilih untuk masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan yang entah.


***


Malam ini di kediaman Reno sedang kedatangan tamu. Tamu itu adalah sahabat baik Reno dan juga istrinya. Siapa lagi kalau bukan Chiko dan Chelsea.


Biasanya baik Reno maupun Abi selalu menyambut hangat kedatangan sahabat mereka itu. tapi, semenjak kejadian kemarin, sikap mereka berdua sedikit berubah. Reno sendiri sebenarnya tidak ingin membenci Chiko. Namun karena ulah Mario lah yang membuatnya bersikap seperti itu. apalagi sejak tadi Chiko dan Chlesea masih diam di hadapan Reno dan Abi.


“Kalau tidak ada yang ingin kalian katakan, lebih baik kalian pulang saja!” ucap Reno yang merasa gemas sendiri pada sahabatnya.


“Raffa kemana, Ren?” tanya Chiko.

__ADS_1


“Untuk apa kamu mencaari Raffa? Dia sedang memperjuangkan cintanya akibat ulah anak kamu.” Jawab Reno dengan tatapan sinis.


“Sudahlah, Ren! Biarlah ini menjadi urusan anak-anak kita. Aku tidak ingin hubungan persahabatn kita anak-anak kita hancur hanya karena masalah ini.” ujar Chiko dengan entengnya.


“Apa maksud kamu Kak Chiko? Mudah sekali bilang seperti itu, tanpa mempedulikan perasaan calon menantuku. Akibat ulah Mario, Raffa hampir kehilangan Jelita.” Abi berkata dengan amarah sudah di ubun-ubunnya.


Reno yang melihat raut ketegangan istrinya, mencoba untuk menenangkannya dengan cara mengusap lembut tangannya. Reno juga tidak terima dengan perkataan Chiko baru saja. bagaimana pun juga ia tetap memihak pada anaknya. Raffael pria yang baik. Begitu juga dengan Jelita, wanita baik, kuat dan tangguh.


“Begini, Vi. Maafkan ucapan suamiku. Mas Chiko tidak ingin hubungan persahabatan kita rusak. Jadi, kedatanganku ke sini ingin bertemu Raffael agar dia bisa melepas Jelita. Biar Mario yang mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Jelita. Apalagi anak Jelita adalah darah daging Mario.” Ucap Chelsea yang semakin membuat Abi meradang.


“Lebih baik kalian pergi saja dari sini! aku lebih rela kehilangan sahabat daripada kebahagiaan anakku. Kalian semua tidak punya hati. Dulu kemana saja Mario setelah berhasil membuat Jelita hancur, hah?” Abi semakin tidak bisa mengontrol emosinya. Bahkan Reno sampai memeluk istrinya agar berhenti meluapkan emosinya.


Chiko dan Chelsea akhirnya pulang dari rumah Reno dengan tangan kosong. Padahal dia datang dengan tujuan baik. Apalagi melihat kondisi Mario yang sangat menyedihkan karena diliputi rasa penyesalan yang begitu mendalam akibat perbuatan masa lalunya.


Chelsea yang sedari awal sudah mengagumi sosok Jelita,ia juga kecewa karena tidak berhasil membawa kabar baik untuk anaknya. apalagi Jelita sudah mempunyai anak yang tak lain darah daging Mario. Otomatis anak Jelita itu adalah cucunya.


“Sudah, jangan bersedih! Memang semua ini tidak mudah. Mario juga bersalah.” Ucap Chiko sambil mengusap lembut lengan istrinya.


“Tapi aku suka dengan Jelita, Mas. Bagaimana pun juga Mario lah yang lebih berhak bertanggung jawab pada Jelita. Apalagi sudah ada cucu kita. Aku juga tidak akan mersetui hubungan Mario dengan Merlyn. Perempuan angkuh itu.”

__ADS_1


Chiko hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia benar-benar bingung menghadapi situasi rumit yang diciptakan oleh anaknya sendiri. Meskipun masa lalunya dulu dengan sang istri hampir mirip dengan Mario, setidaknya dulu ia sangat mencintai Chelsea. Begitu juga sebaliknya dengan Chelsea. Tapi untuk kasus Mario kali ini. jelas berbeda. Mario sebelumnya tidak mengenal Jelita. Dan diantara mereka berdua tidak ada hubungan apapun. Harusnya ia merasa bersyukur saat itu Jelita tidak melaporkan perbuatan bejaat Mario pada pihak berwajib.


Beberapa saat kemudian mobil Chiko sudah sampai rumah. dia dan istrinya segera masuk rumah. ternyata Mario sedari tadi menunggunya di ruang tengah. Berharap kedua orang tuanya membawa kabar yang sedikit melegakan hatinya. Walau kemungkinan kecil itu terjadi.


“Bagaimana Ma, Pa?” tanya Mario dengan suara lemah. Wajahnya pun masih meninggalkan beberapa luka lebam akibat pukulan Raffael kemarin dan tadi pagi.


“Lupakan niat baikmu untuk bertanggung jawab pada Jelita!” jawab Chiko singkat, dan berlalu meninggalkan Mario.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!


 

__ADS_1


__ADS_2