
Kini semuanya sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama sebelum memulai aktivitasnya pagi ini.
Ethan yang ikut makan di sana menjadi pusat perhatian semua orang. Bocah itu belajar makan sendiri. Namun hal itu justru membuat semua orang tertawa karena wajahnya yang semula segar dengan bedak yang memenuhi pipinya kini berbaur dengan makanan. Seolah seperti tidak melakukan kesalahan apapun, Ethan terus melanjutkan makannya. Bahkan kini sudah tidak lagi menggunakan sendok. Melainkan kedua tangannya. tawa semua orang di ruang makan itu pun menggema hanya tertuju pada satu objek, yaitu Ethan.
Reno dan Abi adalah orang yang paling bahagia menyaksikan pemandangan pagi ini. selama ini memang mereka menginginkan agar Raffael segera menikah agar rumahnya ramai dengan suara celotehan cucu-cucunya. Dan hal itu sudah terwujud. Bahkan sangat cepat. Raffael menikah dengan seorang wanita baik hati dengan anak yang lucu dan menggemaskan.
Jelita menghentikan makannya dan segera membantu Ethan makan. Sepertinya bocah itu memang sudah tidak sabar ingin segera menghabiskan makanannya. Jadi dia menggunakan kedua tangannya untuk makan.
Dengan telaten, Jelita menyuapi Ethan sekaligus membersihkan sisa makanan yang mengotori wajah dan tangan Ethan. Setelah bersih dan makanannya habis, Ethan bersorak senang sambil bertepuk tangan. Seolah dirinya yang menjadi pemenang dalam menghabiskan makanannya dibandingkan degan orang-orang lainnya yang ada di sana.
Livy yang sejak tadi menyimak, semakin lama semakin dibuat gemas dengan tingkah lucu Ethan. Ternyata semenjak kehadiran Ethan di rumah, juga menjadi hiburan tersendiri bagi perempuan berusia dua puluh tiga tahun itu.
Setelah semuanya menyelesaikan sarapannya pagi itu, Jelita mengantar suaminya ke depan yang hendak berangkat ke kantor.
“Mas, aku mau minta ijin nanti siang untuk pergi ke café. Apa boleh?”
“Boleh. Biar nanti diantar sama sopir.”
“Nggak usah, Mas. Aku naik taksi saja sama Ethan.”
“Kamu mau ke café atau tidak sama sekali?” sahut Raffael dengan tenang namun tatapannya dalam tertuju pada Jelita.
“Baiklah.” Jawab Jelita akhirnya.
Kini Raffael dan Jelita sudah berada di teras rumah. Raffael menunggu Livy yang sejak tadi tak kunjung keluar. Biasanya adiknya itu sudah lebih dulu menunggunya. Tapi kenapa sekarang justru dirinya yang menunggu.
Tak lama kemudian Raffael melihat sebuah mobil berhenti tepat di depan gerbang rumahnya. Dia sangat mengenal dengan pemilik mobil itu. kemudian ia menoleh ke dalam rumahnya dimana Livy sedang berjalan ke luar.
“Kak, aku nggak berangkat dulu, ya?” pamit Livy tanpa merasa berdosa pada kakaknya.
Raffael hanya mengeram kesal melihat sikap adiknya. Tidak hanya kesal pada Livy, melainkan pada seseorang yang menjemput adiknya.
__ADS_1
“Nggak tahu sopan santun!” gumam Raffael dan didengar jelas oleh Jelita.
“Apa sih, Mas? Siapa yang tidak sopan?” tanya Jelita penasaran.
“Nggak ada. Ya sudah, aku berangkat dulu ya, Sayang! Nanti kamu hati-hati perginya.” Pamit Raffael kemudian.
Jelita mengangguk. Kemudian ia meraih tangan suaminya dan menciumnya dengan takzim.
***
Seperti yang dikatakan Jelita pada suaminya tadi. kini Jelita dan Ethan sudah berada di café Bu Alin. Café dimana dulu ia mengais rejeki di sana. Bahkan pemilik café itulah yang telah banyak membantunya.
Bu Alin sangat senang dengan kedatangan Jelita dan Ethan. Begitu juga dengan teman-teman Jelita yang tak lain karyawan Bu Alin. Mereka sangat merindukan Jelita. Meskipun mereka semua sudah tahu kalau Jelita sudah menikah dengan seorang pengusaha kaya raya, namun sikap Jelita masih sama seperti dulu. Tidak sombong dan sangat humble dengan semua teman-temannya.
Bu Alin tak henti-hentinya menciumi Ethan. Wanita itu ingin sekali datang ke rumah Reno agar bisa bertemu dengan bocah yang sudah dianggap seperti cucunya. Hanya saja akhir-akhir ini badannya kurang sehat.
“Bagaimana tinggal di rumah Raffa, Lita? Apa semua keluarga Raffa memperlakukanmu dengan baik?” tanya Bu Alin.
“Iya, Bu. Mertua Lita sangat baik. Mereka juga sangat menyayangi Ethan seperti cucunya sendiri.”
“Sebenarnya Lita juga masih ingin bekerja di sini, Bu. Mas Raffa dulu juga sempat membahas ini. tapi Lita belum bertanya lagi. apakah masih boleh bekerja atau tidak.”
“Nggak apa-apa, Lita. Ibu tidak memaksa kamu. Apapun keputusan suami kamu nanti, kamu harus mematuhinya.”
“Iya, Bu. Ibu jangan khawatir. Kalaupun Mas Raffa tidak mengijinkan, Lita janji akan sering main ke sini.” ujar Jelita membuat Bu Alin tersenyum lega.
Jelita menghabiskan waktunya di café. Meskipun tidak bekerja, tapi dia cukup ikut membantu membuat beberapa pesanan kue di dapur. Dia tidak ikut melayani pembeli di luar.
Jelita juga sudah mengatakan pada Raffael kalau masih berada di café. Bahkan suaminya itu mengatakan akan menjemputnya saat nanti jam pulang kantor. itu tandanya Jelita dan Ethan masih punya banyak waktu di café bersama teman-temannya dan juga Bu Alin.
Jelita tampak sumringah melihat hiasan kue Black Forest buatannya. Kue itu akan dia bawa pulang. mengingat suaminya sangat suka sekali dengan kue itu.
__ADS_1
“Ethan kemana, Bu? Apa dia masih bermain?” tanya Jelita setelah mengemas kuenya ke dalam box khusus.
Bu Alin pun terkejut mendapati pertanyaan Jelita. Pasalnya wanita itu tadi tidak melihat Ethan saat hendak menuju dapur.
“Lita, Ethan di luar sedang bersama seorang pria. Siapa dia? Aku takut orang itu akan menculik Ethan.” Seru salah satu teman Jelita dengan menunjukkan raut wajah cemas.
Jelita dan Bu Alin pun segera keluar. Dia ingin melihat pria yang sedang bersama Ethan. Pasalnya Ethan tidak pernah dekat dengan siapapun yang belum dikenal. Dan sesampainya di luar, Jelita menghembuskan nafasnya lega. Ternyata yang bersama Ethan adalah Mario.
“Siapa dia, Lita?” tanya Bu Alin penasaran.
“Dia Mario, Bu. Papanya Ethan.”
Bu Alin pun ikut lega mendengarnya. Sebelumnya wanita itu sudah diberitahu oleh Jelita tentang Mario. Hanya saja belum pernah bertemu.
Akhirnya Jelita menghampiri meja pengunjung café dimana Ethan sedang membawa mainan yang sepertinya baru dibelikan oleh Mario.
“Ehm!”
“Eh, Jelita. Maaf, aku datang ke sini untuk bertemu Ethan. Tadi aku ke rumah Raffael. Kata Tante Abi, kamu dan Ethan ada di sini.” ucap Mario.
Jelita hanya mengangguk. Kemudian ia ikut duduk. Rasanya tidak sopan jika membiarkan Mario hanya bersama Ethan saja. bahkan ada sedikit rasa khawatir dalam dirinya jika Mario nanti akan membawa kabur Ethan.
Tak jauh dari tempat Jelita duduk bersama Mario dan Ethan, seorang pria berdiri dengan tangan terkepal kuat dan dada bergemuruh hebat menyaksikan pemandangan yang sangat menyesakkan itu.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!