Menikahi Single Mother

Menikahi Single Mother
MSM 81


__ADS_3

Kini Mario sedang berada di dalam mobil. Pria itu menghentikan mobilnya di tepi jalan setelah beberapa saat yang lalu pulang dari café milik Bu Alin.


Mario masih terkejut dan tidak percaya tentang kabar yang baru saja ia dengar dari Bu Alin. Sebenarnya ada masalah apa diantara mereka sampai akhirnya memutuskan untuk bercerai. Terlebih selama ini yang ia lihat dari pasangan Raffael dan Jelita terlihat sangat romantis.


Dan kalau sudah seperti ini, otomatis Mario akan kesulitan bertemu dengan anaknya. apalagi Jelita sudah memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya.


Bolehkah dia egois. Bukan niat hati ingin bahagia di atas penderiataan sahabatnya. namun dengan adanya kabar seperti ini, Mario seolah memiliki kesempatan untuk mendekati Jelita. Apalagi ada Ethan.


“Lebih baik aku cari informasi lagi tentang kandasnya hubungan mereka.” Gumam Mario sebelum akhirnya kembali menyalakan mesin mobilnya pulang.


Keesokan harinya Mario pergi ke kantor Raffael. Pria itu sangat yakin bisa bertemu dengan Raffael. Karena kebetulan kedatangannya karena ada hubungannya dengan pekerjaan. Jadi sekalian nanti ia mencari informasi tentang retaknya hubungan Raffael dan Jelita.


Kini Mario sedang menuju ruangan Raffael. Dia bertemu dengan Livy yang baru saja keluar dari ruangan Raffael.


“Livy! Apa kakakmu ada di dalam?” tanya Mario.


Livy terkejut saat melihat kedatangan Mario. Padahal sebelumnya ia sudah diberi pesan oleh kakaknya kalau tidak menerima tamu siapapun. Kalaupun ada, Raffael meminta dirinya yang mewakilkan.


“Ehm, Kak Raffa tidak,-“


Belum sempat Livy melanjutkan kalimatnya, Mario langsung menerobos masuk ke ruangan Raffael. Dia tidak peduli jika Raffael akan marah padanya.


Dan benar saja. saat Mario baru saja masuk, Raffael terlihat sedang berdiri di tepi jendela. Dia sangat terkejut saat melihat Mario sudah ada di ruangannya.


“Siapa yang menyuruhmu masuk? Apa kamu tidak tahu sopan santun?”


“Maaf, Raff. Kalau tidak begini pasti kamu akan terus menghindariku. Langsung saja, dimana Ethan sekarang?” tanya Mario pura-pura tidak tahu apa-apa.


“Aku tidak tahu. Mereka bukan urusanku lagi. kalau kedatanganmu ke sini hanya untuk bertanya hal itu, lebih baik keluar dari sini sekarang juga!” usir Raffael dengan geram.


“Oh jadi kalian benar-benar bercerai. Ck, aku tidak menyangka jika hubungan kamu dan Jelita sesingkat itu. mungkin Tuhan tahu siapa jodoh Jelita yang sesungguhnya. baiklah, aku sangat berterima kasih dengan adanya kabar ini. jadi peluangku lebih banyak untuk mendapatkan hati Jelita.”


Entah kenapa Raffael tidak terima dengan ucapan Mario baru saja. dia segera menarik kerah kemaja Mario dan hendak memukul wajah pria itu. tapi sayangnya kepalan tangan Raffael tertahan begitu saja. dia sungguh bingung dengan perasaannya sendiri. Marah, karena tidak terima Jelita akan didekati oleh Mario. Tapi bukankah dia sendiri yang sudah memutuskan untuk bercerai dengan wanita itu.

__ADS_1


“Kenapa? Ayo pukul aku! mau kamu pukul sampai babak belur pun aku akan terima. Karena setelah ini aku akan berjuang untuk mendapatkan hati Jelita.” Cibir Mario menatap sinis ke arah Raffael.


“Argghhhh!!! Berengsek!!!”


Raffael menghempaskan Mario begitu saja. beruntung Mario tidak sampai terjatuh ke lantai. Dia masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.


“Jangan pernah sesali apa yang sudah menjadi keputusanmu, kawan! Aku pergi dulu untuk menemui calon istriku.” ucap Mario dan segera pergi meninggalkan Raffael.


Setelah kepergian Mario, Raffael kembali marah. Bahkan barang-barang yang ada di atas mejanya sampai ia buat berantakan. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Raffael saat ini. mendengar nama Jelita, rasa benci terhadap wanita itu semakin tinggi. Tapi dia tidak terima jika wanita itu nanti akan dimiliki oleh Mario.


Arghhhhhh!!!!


***


Setelah kejadian tadi pagi di kantornya, sore harinya saat jam pulang kantor, Raffael pulang ke rumah orang tuanya. Semenjak pertemuannya yang terakhir dengan Jelita, Raffael memutuskan tinggal di apartemennya. namun hari ini ia ingin pulang ke rumah.


Raffael baru saja tiba di rumah. perubahan sikapnya terlihat jelas di mata orang tuanya setelah kandasnya hubungan rumah tangganya dengan Jelita.


“Masih ingat jalan pulang ternyata?” sinis Abi saat melihat Raffael baru saja masuk ke ruang tengah.


Pembantu rumah tangga Abi tampak berjalan mengikuti Raffael menuju lantai dua kamarnya. Abi akhirnya ikut naik, karena sangat penasaran.


“Bi, tolong bersihkan semua pakaian atau barang apapun yang berhubungan dengan wanita it. Dan di kamar sebelah juga!” pinta Raffael pada pembantunya.


“Baik, Tuan.”


Abi yang masih berada di luar kamar Raffael sangat terkejut mendengar ucapan Raffael baru saja. dia langsung masuk dan mencegah pembantunya membereskan barang-barang Jelita.


“Raffa! Kamu ini keterlaluan sekali! Jadi kamu pulang hanya ingin membuang barang-barang menantu dan cucu Mama?”


“Mama ini apa-apaan? Mereka bukan lagi keluarga kita. Cepat Bi, bereskan semuanya!”


“Tidak bisakah kamu menurunkan ego kamu, Raff? Coba perbaiki hubungan kalian selama masih ada kesempatan. Sebelum kamu nantinya akan menyesal”

__ADS_1


Ingin sekali Abi bilang pada Raffael kalau saat ini Jelita sedang mengandung anaknya. tapi wanita itu juga ingat dengan janjinya pada Jelita. Abi benar-benar bingung.


“Tidak. Raffa sudah menyewa pengacar untuk segera mengurus perceraian ini.” sahut Raffael dengan enteng.


“Bi, hentikan! Biarkan saja barang menantuku tetap di sini. dan untuk kamu, Raff. Bukankah kamu sudah nyaman tinggal di apartemen? Untuk apa lagi kamu ke sini? Mama tidak mengusir kamu dari rumah ini. dan Mama juga tidak pernah mengusir Jelita dan Ethan. Jadi kalau kamu keberatan, lebih baik tidurlah di kamar tamu jika kamu pulang ke rumah ini.” ujar Abi lalu segera pergi meninggalkan Raffael.


Pembantu rumah tangga itu tentu saja mengikuti perintah sang Nyonya besar. Akhirnya wanita itu ikut keluar dari kamar Raffael, tidak jadi membereskan barang-barang Jelita.


Raffael kembali murka. Dia segera turun dan memilih untuk pulang ke apartemen. Di saat suasana hatinya yang sedang tidak baik-baik saja, ia tidak ingin dekat dengan siapapun, daripada meluapkan emosinya pada orang-orang terdekatnya.


***


Selama beberapa hari tinggal di kota kelahirannya, keadaan Jelita sudah lebih baik. Kesehariannya hanya di rumah bersama Ethan. Beruntungnya akhir-akhir ini morning sicknessnya tidak terlalu mengganggu aktivitasnya. Hanya saat bangun tidur saja dia akan mengalami mual-mual. Setelah itu kembali membaik.


Jelita masih belum memutuskan untuk mencari pekerjaan. Apalagi kondisinya sedang hamil, dan bingung dengan Ethan. Namun yang pasti secepatnya ia akan mencari pekerjaan.


Meskipun Arvin sudah bersedia membantu memenuhi kebutuhannya, tapi Jelita tidak mau terus mengharapkan pemberian Omnya.


Tok tok tok


Jelita saat ini sedang menemani Ethan bermain di ruang tengah. Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu. Dia segera membukanya.


Cklek


“Mario!”


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


 


__ADS_2