MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 10. ANNIVESARRY


__ADS_3

Raisa yang terburu-buru berangkat karena pagi ini ia akan wawancara kerja di perusahaan baru dikejutkan oleh seseorang di ujung gang keluar. Dialah Diki yang berdiri seakan sedang menunggu kedatangannya dan menghadangnya.


"Raisa!" panggilnya


Raisa yang masih membetulkan salah satu sepatu pantofelnya yang belum terpasang sempurna sambil berjalan pincang datang menghampiri. Sebenarnya pagi ini Raisa sedang malas meladeni Diki, ia tidak punya waktu luang kini dirinya sudah mulai sibuk.


"Maaf lain kali kita ngobrolnya yah, aku tidak punya cukup banyak waktu luang. Aku sedang terburu-buru"


"Sekarang kamu mau kerja? Ck, kamu nggak ingat? Tempo hari juga kamu melakukan hal yang sama denganku menghalangi aku berangkat dengan tingkah konyolmu"


"Jadi kamu dendam? Bisakah balas dendamnya nanti aja"


"Nggak bisa, ini menyangkut orang tuaku yang tiba-tiba mendiamkanku padahal aku anaknya. Ini pasti ulahmu"


"Ok, jika kamu maksa ingin kita bicara bagaimana kalau aku menumpang di mobilmu sekalian antarkan aku. Nanti kita bisa bicara di mobil selama perjalanan, bagaimana?" Raisa menawarkan sebuah pilihan sulit padahal sudah tentu akan Diki tolak.


"Semalam kamu bilang lewat hp tapi aku menghubungi susah sekali trus kamu mau menumpang? Eh? Yang benar saja," Diki berdecak dengan angkuhnya.


"Ya udah berarti lain kali aja kita bicara, aku sibuk" Raisa berjalan cepat meninggalkan Diki yang masih mengoceh.


"Hei! Tunggu!"


Raisa terus berjalan tanpa memedulikan Diki, sambil menunggu ojek online yang sudah dipesannya datang menghampirinya.


Diki berdecak kesal ditinggalkan begitu saja, ia kembali ke rumah dan segera membawa mobilnya mengejar Raisa. "Ya ampun, dasar gadis itu bikin jengkel" Diki mendengus kasar.


Sayang sekali Diki kalah cepat, Raisa sudah pergi dengan ojek online saat Diki mau menghampiri Raisa yang sedang berjalan. Diki pun yang kesal langsung memukul stirnya. "Aish...cepat sekali tuh cewek" Diki mengumpat, "Tunggu sebentar, dia kerja dimana? Apa aku perlu cari tahu tentangnya" Tanpa sadar Diki mengikuti kemana arah yang Raisa tuju.


Dalam perjalanan tiba-tiba ada telpon masuk, Diki pun menghentikan mobilnya dan menepi sebentar. Seketika dirinya tersadar, "Astaga kenapa aku harus repot-repot mengikuti gadis macam dia, bisa ke-PD-an dia kalau tau aku di belakangnya. Aku juga punya kesibukan sendirilah. Baiklah aku akan menemuinya nanti saja" Diki pun mengangkat telpon yang masuk.


******


Sepulang kerja Raisa juga sulit untuk ditemui, kesibukan masing-masing yang membuat mereka jarang bertemu akhir-akhir ini.


Kesibukan Diki membuatnya jadi melupakan masalahnya dengan Raisa karena Diki sedang mempersiapkan annivesarry untuk perusahaannya serta launching produk baru yang acaranya sekaligus disatukan.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Diki, orang tua Diki menemui Raisa untuk mengundangnya datang ke acara annivesarry perusahaan Diki. Karena orang tua Diki ingin memberi sebuah kejutan untuk anaknya dan Raisa tanpa pikir panjang menyetujui permintaan orang tua Diki.


Kini hari itu telah tiba, sebuah pesta perayaan annivesarry company Diki diadakan dengan tema formal. Dan tentu Diki mengundang klien, rekan bisnis dan investor untuk hadir di acaranya karena acara ini disatukan dengan acara peluncuran produk baru.


Semua tamu undangan berdatangan mulai berdatangan menempati tempat duduk yang sudah disediakan. Suasana riuh menggema dalam ruangan aula. Tamu-tamu penting pun turut hadir, mereka semua berpenampilan elegan dan berkelas.


Tak luput dari jauh nampak Raisa baru datang dengan mengenakan gaun yang sederhana, ia tidak suka yang terlalu mencolok dan menimbulkan perhatian orang-orang yang melihatnya. Diki belum menyadari kedatangan Raisa, dirinya sibuk menyambut para tamu dan menemaninya.


"Raisa!" Terdengar suara seorang pria yang memanggilnya. Raisa pun menoleh mencari sumber suara itu.


Saat badannya berbalik, "Pak Haris?" Atasan Raisa di tempat kerjanya yang baru.


"Kamu ada di sini?" tanya Harin terheran-heran.


"Ah iya Pak, seseorang telah mengundangku. Pak Haris juga diundang, berarti Pak Haris tamu penting"


"Cuma rekan bisnis karena memang perusahaan kita kerja sama mensupply spare part ke perusahaan ini"


"Oh aku baru tau. Ehm Pak Haris datang sendiri?"


"Sama istriku, dia sekarang sedang ke toilet"


"Sayang, siapa dia? Teman kerjamu?" Dari jauh istri Haris langsung bertanya. Istri Haris melirik ke arah Raisa dengan tatapan sinis.


"Oh kamu udah selesai, kenalin dia anak buahku, karyawan baru" Haris menunjukkan Raisa dan memperkenalkan pada istrinya.


"Raisa," Saat Raisa mengulurkan tangannya untuk berjabat, dengan dingin istri Haris mengacuhkannya. Melihat sikapnya yang seperti itu Raisa jadi menarik kembali tangannya.


"Kok bisa yah, karyawanmu tuh datang ke acara seperti ini kalau bukan datang karena undangan khusus. Ini kan bukan acara biasa, semua yang hadir di sini juga bukan orang sembarangan" ucap istri Haris meremehkan Raisa karena melihat penampilan Raisa yang sederhana tak seperti dirinya yang glamour.


Raisa terdiam tidak mengerti maksud ucapannya, otaknya masih mencerna.


"Sayang kamu ngomong apa sih," bisik Haris menghentikan ucapan istrinya yang terkesan sinis takut membuat Raisa tidak nyaman. "Seseorang yang dia kenal yang sudah mengundangnya," lanjutnya.


"Benarkah? Bukan kamu?"

__ADS_1


"Tentu saja bukan" Haris mencoba meyakinkan istrinya.


"Awas lho kalau kamu bohong sama aku dan berbuat macam-macam di belakangku"


"Berarti dari tadi kamu cemburu sama aku?" Haris pun tertawa sambil mencubit gemas pipi istrinya.


Raisa yang melihat percakapan Haris dengan istrinya, hanya diam tak ikutan bicara karena rupanya istrinya sedang cemburu padanya.


Bu Lidia mendekati Raisa yang terlihat sedang berbincang. Bu Lidia senang Raisa memenuhi undangannya untuk hadir di acara penting Diki. "Raisa, tadi Tante nunggu di depan kirain nggak datang eh nggak taunya udah ada di sini" sapa Bu Lidia dari belakang Raisa hingga membuat Raisa berbalik badan mengarah ke Bu Lidia.


"Hehehe iya Tante, belum lama juga sih datangnya. Tadi juga aku nggak liat Tante di depan"


"Masa? Apa pas Tante ke dalam sebentar itu kali ya?"


Haris bengong saat Bu Lidia bicara dengan Raisa seolah sudah mengenal jauh Raisa. 'Ada hubungan apa mereka?' Haris Bertanya-tanya dalam hati.


Bu Lidia dan Raisa asyik berbincang melupakan kehadiran Haris dan istrinya yang dari tadi bengong memerhatikan mereka.


"Oh ya ampun sampai lupa ada Pak Haris dan istrinya toh," ujar Bu Lidia


"Hehehe iya"


"Maaf kalau tadi kita cuekin"


"Nggak apa-apa, oh ya ngomong-ngomong Raisa kenal sama Bu Lidia?"


"Tentu saja, aku yang mengundangnya langsung"


Haris dan istrinya terkejut mendengar Bu Lidia mengundangnya secara khusus berarti Raisa juga tamu penting. Sungguh Haris tidak menduganya dan istri Haris pun jadi malu telah salah menyangka juga sikapnya tadi sudah keterlaluan pada Raisa.


"Kalian tau nggak, Raisa itu ca..." perkataan Bu Lidia terpotong saat pembawa acara telah naik ke atas panggung dan acara sudah akan dimulai. Atensinya tertuju pada panggung acara.


"Ca... apa Bu Lidia?" Haris penasaran


---

__ADS_1


---


Bersambung...


__ADS_2