MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 19. RUMAH RAISA


__ADS_3

"Kita tidak perlu membahas ini, aku tidak suka" raut wajah kesal terpampang nyata dan Raisa melihat itu.


"Baiklah" Raisa mengalah, ia lebih tidak mau membuat suasana di antara mereka jadi tidak nyaman sedangkan ini baru permulaan.


Raisa memasuki rumahnya yang sudah lama tidak ia injak. Aroma rumah itu mengingatkannya pada kenangan masa kecil Raisa. Bahkan setiap sudut rumah itu memunculkan memori kebersamaannya dengan almarhumah ibunya. Kesedihan muncul menyapu perasaan Raisa. Raisa takkan pernah bisa melupakan itu.


Diki yang masih diselimuti perasaan kesalnya terus melangkah ke kamar lalu menaruh semua barang-barang yang dibawanya.


"Ada tiga kamar di sini, kamu pilih yang mana?" Diki memberi kebebasan memilih pada Raisa jika Raisa harus memilih kamar yang sedang ditempatinya dengan terpaksa Diki akan pindah.


Raisa masih melihat raut wajah Diki yang kurang bersahabat. Apakah ia masih marah padanya, ini terasa menegangkan bagi Raisa. Meski sudah sering menghadapi sikap Diki tapi kali ini benar terasa berbeda. Apakah kemunculan Irfan tadi mengusiknya? Raisa tak tahu.


"Aku pilih yang tengah" Raisa tahu kamar depan adalah milik Diki.


"Ok, taruh barang-barangmu di sana" Diki menunjuk. Mereka memiliki kesibukannya sendiri tanpa ada percakapan apapun.


Tak ada yang berubah dengan isi rumah Raisa, hanya perabotannya yang mungkin diganti oleh Diki. Raisa memaklumi itu.


"Hmm... apa kamu lapar?" Raisa hanya mencoba memecah kecanggungan di antara mereka. "Aku bisa buatkan makan sekarang juga" tidak ada salahnya ide Raisa muncul untuk merayu Diki dengan masakannya agar Diki berhenti membuat Raisa tidak nyaman karena sikapnya.


Diki diam sejenak, membuat Raisa kikuk. Ia tak bisa baca pikiran Diki. Raisa menghela napas berat.


"Bahan makanan ada di kulkas" celetuk Diki dengan wajah datar. Jawabannya yang tiba-tiba itu tentu mengagetkan Raisa dan ia berbalik ke arah Diki. Itu artinya Raisa diperbolehkan memakai dapurnya untuk memasak. Diki juga pasti sama dengannya lapar. Hahaha, gelak tawa dalam benak Raisa melihat tingkah Diki yang gengsi.


"Oh...Ok, aku akan memasak" Raisa menuju dapur. Ia begitu gesit mengeluarkan jurus ampuhnya yang kompeten di bidang memasak. Sayang Raisa tidak memilih profesi sebagai chef.


Lidah Diki pasti teringat akan makanan yang pernah diberikan Raisa beberapa waktu lalu. Jadi ia tidak meragukan kemampuan masakan Raisa. Hmm...setidaknya Raisa membanggakan dirinya sebagai istri yang jago memasak.


"Aku rasa ini porsi yang cukup untuk kita berdua" Raisa menghidangkannya di meja makan. Di sana sudah ada Diki yang menunggu.


Hubungan pengantin baru yang kaku dan aneh. Sebenarnya Raisa ingin menertawainya sendiri. Betapa konyolnya idenya untuk menikah dengan Diki hanya karena ingin memiliki rumahnya kembali. Mental Raisa pun mulai diuji menghadapi Diki ke depannya dimulai saat ini juga.


"Perutku juga tidak bisa menampung banyak makanan jika kau menghidangkan untukku terlalu berlebihan"


"Iya aku tahu, kamu selalu memerhatikan berat badan idealmu kan?" dengus Raisa.


Raisa ingat Diki pernah pulang dalam keadaan berkeringat saat itu hingga matanya ternodai melihat siluet tubuh Diki dari jerseynya yang ketat. Raisa tahu mungkin Diki senang berolahraga tergambar dari bentuk tubuhnya yang berisi padat. Tidak seperti dirinya yang malas.

__ADS_1


"Baguslah jika kau selalu tau tentang apa yang aku pikirkan, rasanya aku nggak perlu repot-repot menjelaskannya lagi padamu"


"Tentu saja, SUAMIKU" ejek Raisa.


Raisa mempertegas kata 'Suamiku' meski ia sendiri geli mengucapkannya. Padahal sebelumnya Diki menyebut Raisa 'istriku' di depan Irfan, ada kepuasan sendiri bagi Raisa yang mendengarnya. Irfan pasti terkejut mengetahui Raisa sudah menikah. Tanpa harus Raisa menjelaskannya, Diki sudah menggertaknya. Raisa suka tindakan Diki saat itu.


Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut Diki. Tak ada komentar yang keluar, artinya Raisa berhasil menggugah selera makannya. Raisa tersenyum, ia merasa berhasil.


"Bagaimana masakanku?" tanya Raisa yang ingin mendapat penilaian dari Diki atas kerja kerasnya memasak setelah menyelesaikan makannya.


"Lumayan, aku jadi tidak kelaparan"


"Cih... cuma itu? Maksudku enak apa nggak?" Raisa berdecak.


Raisa merasa penilaian dari Diki itu penting setidaknya ia akan tahu jika Diki memberinya nilai positif artinya Raisa bisa gunakan trik masakannya untuk meredakan emosi Diki dikala sedang memuncak nanti.


"Apakah kamu ingin aku memujimu?"


Raisa tersenyum lebar.


"Begitulah wanita paling senang dipuji, tapi jangan berharap banyak dariku"


Besok Raisa sudah memulai aktivitasnya bekerja jadi hari ini juga ia harus selesai membereskan barang-barang bawaannya. Di kos-an masih ada barangnya yang tertinggal meski tak banyak Raisa ingin mengambilnya sekarang.


"Aku keluar dulu mau ambil beberapa barangku yang masih ada di kos-an" pamit Raisa


"Ya" Diki mengijinkannya.


Raisa menuju kos-annya, di sana ia disambut salah satu penghuni yang tinggal bersebelahan dengannya.


"Lho, Raisa! Pengantin baru kok udah nongol"


"Hehe...Mbak Widi, rencana ini aku mau ambil barang-barangku"


"Kamu mau pindahan sekarang?"


"Iya, tadi aku udah bilang sama ibu kos, aku akan tinggal dengan suamiku"

__ADS_1


"Aku kira kamu lagi honeymoon, cepet banget udah balik lagi"


"Aku cuma ambil cuti istimewa aja, aku masih karyawan baru jadi nggak bisa minta tambahan cuti lagi"


"Iya, juga. Apa perlu aku bantu bawain?"


"Nggak usah, nggak banyak kok barang-barang punyaku cuma sedikit. Mbak Widi nggak kerja?"


"Minggu ini aku shift malam"


"Oh..." Setelah percakapannya itu, Raisa memasuki kos-an mengepak semua barangnya yang hanya beberapa baju saja dan tak ada barang berat lainnya yang harus dibawa selain kasur lantai.


"Mbak Widi, aku pamit lho ya. Minta maaf kalau selama ini ada salah"


"Iya, Raisa sama-sama. Tapi jangan lupa main lagi ke sini!"


"Pasti dong, lagian deket tempat tinggalku kan di depan cuma beberapa langkah dari sini, Mbak Widi aja yang maen ke tempatku"


"Sungkan,"


"Hah?" Sekian detik Raisa tercengang "Kenapa mesti sungkan? Boleh kutebak pasti karena suamiku yah" Raisa tahu semua orang sungkan padanya karena sikap dingin dan angkuhnya si Diki membuatnya begitu.


"Hehehe...iya. Hebat yah kamu bisa naklukin dia" Widi mengacungkan jempolnya lalu sedikit memelan suaranya, "Padahal lho ya kalau kamu pengen tau sebelum menikah denganmu gadis-gadis di sini sering membicarakannya kalau mereka lewat dan tidak sengaja berpas-pasan dengan suamimu mereka semua caper. Sayang nggak sedikit pun suamimu itu melirik mereka"


"Ah masa'?"


"Iya, makanya semua gadis di sini sedang patah hati massal. Ya ampun mereka tuh yah nggak ada habisnya ngomongin kamu bisa mendapatkannya dengan mudah padahal masih baru tinggal di sini. Intinya mereka kecewa dan iri, tapi jangan khawatir itu cuma sesaat. Mereka semua baik kok dan sadar diri kalau idolanya sudah menikah" Widi terkekeh.


"Iya, Mbak"


Wah, Raisa tidak menyangka Diki ternyata populer. Mereka yang ngefans diam-diam dengan Diki hanya melihat tampangnya saja tidak tahu karakternya. Raisa menghela napas, hanya dia yang tahu.


Selain menguatkan mentalnya menghadapi Diki, Raisa juga harus menguatkan hatinya juga. Ia tahu suaminya itu adalah pria tampan dan kaya incaran para wanita. Tapi bukan itu yang diincar Raisa, sejak awal tujuannya hanya ingin mengambil kembali rumahnya.


Raisa melangkah kembali ke rumahnya.


---

__ADS_1


---


Bersambung


__ADS_2