MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 66. KEUSILAN DIKI


__ADS_3

Diki diam tak menggubris omelan Raisa, dia dengan telaten mencoba mengganti perban dan mengobati luka Raisa dengan hati-hati. Matanya terfokus pada luka Raisa.


Keheningan melanda, Diki akhirnya memecah kecanggungan di antara mereka.


"Apakah kamu tahu? Adegan yang banyak terjadi di novel ataupun drama-drama, ketika si pria terluka di bagian dada lalu pemeran wanita akan membantu mengobatinya sesaat itu juga mereka akan saling memandang tanpa sengaja lalu jatuh cinta. Tapi posisi kita terbalik, aku harap kamu akan jatuh cinta padaku saat aku membantumu mengobati lukamu,"


"Hah? Apa?" Raisa tercengang, jelas wajahnya merah padam dan asap seperti keluar dari ubun-ubunnya. Dia benar-benar malu, Diki malah menambahinya. "Bermimpilah...!!!"


Raisa merasa sudah tidak tahan, sikap Diki yang tenang tetapi matanya tidak berkedip sedikitpun. Raisa menangkap kesan bahwa Diki seolah Serigala yang lapar.


Setelah hampir selesai, Raisa dengan cepat menutupi dadanya dan memakai bajunya sendiri. Karena terbayang-bayang ucapan cleaning service bahwa Diki ke ruangan dokter Emilia berdua. Emosi Raisa langsung melonjak ditambah Diki dengan sengaja membuka semua bajunya hingga membuat Raisa malu. Lalu Raisa...


"Akhhhh... Raisa?!! Kenapa kamu menggigitku?" Diki meringis saat bahunya digigit oleh Raisa hingga berbekas. "Kamu ini manusia apa bukan?"


"Aku benci tatapanmu," Raisa pun berbalik dengan kekesalannya.


"Aku yang mengobatimu, kenapa kamu malah menyakitiku?" Diki membuka kemejanya dan dia menunjukkan bekas gigitan Raisa. "Lihatlah...! Rasanya sakit sekali..." Diki bertingkah seolah menderita.


"Heh?" Raisa menoleh dan melihat bekas gigitannya seketika dia merasa bersalah tapi dengan angkuhnya Raisa masih membela dirinya, "I–itu... Aku hanya mencoba melakukan pertahanan diri, jikalau ada seorang Serigala lapar mencari mangsa, maka sebelum Serigala itu menyerang, akulah yang harus lebih dulu menyerang..."


Diki hampir saja tertawa mendengar kekonyolan Raisa. Kesan pertama saat bertemu dengan Raisa, Diki tahu wanita macam apa Raisa. "Kamu pikir aku Serigala?"


"Tentu saja, sebab kamu banyak mengambil keuntungan dariku dengan sengaja,"


"Tidak, bukan salah mataku–dia berada di posisinya," Diki menjelaskan tanpa merasa bersalah. Dia bertingkah seperti pria brengsek! Kemudian Diki berpura-pura merasa kesakitan padahal gigitan kecil itu tidak ada apa-apanya bagi Diki yang memiliki fisik kuat. "Bagaimana ini? Kamu sudah melukaiku, kamu tega sekali, Raisa...!"


Raisa frustasi dan panik karena Diki selalu mengeluh, "Te–terus aku harus bagaimana? Pakai obatku saja..."


"Kamu tidak bisa merasakan apa yang aku rasakan," Diki menatap lurus ke mata Raisa dengan serius.


"Itu rasanya sama seperti digigit kucing..."


"Tidak, ini lebih sakit. Aku ingin kamu juga merasakannya agar kita impas,"


"Diki!? Kamu benar-benar ingin membalasku? Kamu kan seorang pria, ini tidak masuk akal." Raisa menolak ide Diki.

__ADS_1


"Berarti kamu curang... ah padahal aku sudah berusaha berbuat baik tapi dirimu membalas seperti ini, pribahasa yang tepat untuk menggambarkan sosok dirimu adalah air susu dibalas dengan air tuba."


Dipenuhi rasa bersalah, mengingat Diki telah banyak membantu dan menolongnya, Raisa dengan terpaksa menyetujui. "Baiklah, silakan kamu membalasnya agar kita impas...!" ujar Raisa dengan sebal dan tidak ikhlas. Wajahnya merengut sambil terpaksa memberi bahunya.


Mendengar itu, Diki tersenyum licik. "Bukalah...!"


Raisa terkejut, mendengar Diki memintanya untuk membuka, "Apa kamu bilang? Buka? Kamu sengaja yah cari kesempatan, tidak akan aku buka." Raisa bersikeras.


"Aku tidak suka bajumu tergigit olehku, pasti rasanya pahit."


"Diki...!!!" Raisa mulai gemas dengan tingkah Diki tetapi Diki masih memandang Raisa. "Oke...oke..." Lalu Raisa membuka sedikit baju bagian atasnya, menampakkan bahunya yang mulus. "Jangan gunakan kekuatanmu untuk menggigitku!" Raisa memejamkan matanya, dia takut merasa sakit.


Tapi apa yang terjadi...


Raisa makin terbakar, wajahnya benar-benar merah. Ini tidak seperti bayangannya, dia pun berteriak, "Diki...! Kamu...! Katanya kita harus impas, aku menggunakan gigiku tapi kenapa kamu menggunakan lidahmu?"


Kemudian Raisa menyerang Diki, memukulnya berkali-kali dengan bantal dan Diki tidak bisa menahan tawa. Diki pun tertawa. Meski Raisa kesal dipermainkan olehnya, Diki puas sudah menjahili Raisa.


Raisa tidak bisa membalasnya lagi, panas hatinya hampir meluap, "Kembalilah kamu ke kamarmu, aku mau tidur."


"Raisa..." Diki mendekati Raisa dan duduk tepat di sampingnya. Sesuatu tersorot dari matanya.


"Ada apa? Kenapa kamu masih di sini? Ini kamarku," Kemudian Raisa mengalihkan pandangannya, dia tidak sanggup berhadapan dengan Diki.


"Kamu tidak ingat, tempo hari kita sudah sepakat sebagai pasangan kita harus tidur di kamar yang sama."


"Kapan aku bilang begitu?" Keringat dingin mengucur di dahi Raisa.


"Jadi kamu mengingkari janjimu,"


"Di–Diki, sudahlah jangan berpikiran yang tidak-tidak. Aku harus istirahat, kondisiku masih belum pulih."


"Aku mengerti, sekarang aku juga harus tidur di sini karena kamu tidak mau tidur di kamarku, kita adalah pasangan suami istri."


"Ya, Tuhan..." Raisa tidak tahu lagi, bagaimana harus menghadapi Diki. Dia bertingkah aneh dan tidak tahu malu. "Terserah... Aku mau tidur sekarang," Raisa merebahkan tubuhnya di ranjang dan tidak menghiraukan Diki.

__ADS_1


"Raisa...!"


"Iiihhhh....... Diki, kenapa kamu terus menggangguku?" Raisa merasa risih, Diki terus memanggilnya dalam jarak yang dekat.


Begitu Raisa duduk lalu berbalik menghadap Diki.


"Beri aku kiss!!!" pinta Diki secara spontan.


Raisa melebarkan matanya, "Sejak kapan kamu jadi tidak tahu malu?"


"Kita sudah pernah melakukannya, aku hanya meminta padamu, apa tidak boleh? Haruskah aku meminta pada wanita lain?"


"Ja–jangan...!" Raisa dengan cepat menjawab. Tentu saja Raisa tidak bisa membayangkan Diki melakukannya dengan wanita lain. Apalagi saat ini pikiran Raisa dipenuhi nama dokter Emilia yang membuatnya panas cemburu.


"Aku merasa sudah lama sekali, jadi merindukan hal romantis padamu." Diki menatap Raisa penuh kelembutan, dia menginginkannya malam ini.


Raisa luluh, dia tidak bisa mengabaikan pesona Diki. Bagaimanapun Raisa jadi melupakan kekesalannya yang cemburu pada dokter Emilia.


******


Sederetan mobil hitam mewah perlahan-lahan tidak terlihat dan bersembunyi di bawah kedok malam, pemandangan itu memancarkan sentuhan misteri.


Seseorang mengumumkan dengan hormat, “Tuan, kita telah tiba di kota kecil ini,”


Pintu kursi belakang terbuka, dan kaki ramping membentang keluar dari pintu. Dikelilingi oleh sekelompok pria terlatih, seorang pria dengan penampilan rapi berstelan jas, turun dari mobil. Wajahnya menyimpan sejuta misteri dan kengerian.


Kedatangannya yang sangat dirahasiakan, dia sengaja muncul di tengah malam. Untuk memastikan kondisi dari kabar yang didengarnya.


Pria itu akan melaksanakan tugas yang sudah diperintahkan kepadanya. Sebuah misi rahasia.


----


----


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2