MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 22. KEJUTAN


__ADS_3

Dentang jam terus berputar hingga waktu subuh tiba. Raisa menggeliat, ia sedikit terkejut ketika mendapati dirinya masih tertidur di sofa. "Apakah Diki masih belum pulang?"


Raisa masih menguap lalu menuju kamar mandi sepintas pandangannya teralihkan dan tertuju pada meja makan. Hanya ingin mengecek, makanan yang sudah ia buat sudah basi atau belum. Raisa yang kelelahan saat itu, setelah makan malam sendiri langsung tertidur pulas hingga ia lupa menghangatkan makanan.


"Makanan yang tersaji di meja sudah berkurang, apakah semalam dia pulang lalu makan?"


Raisa mengetuk pintu kamar Diki, memastikan dugaannya saja.


Suara ketukan pintu terasa bising di telinga, Diki terbangun karena mendengar suaranya.


Diki membuka pintu dengan wajah setengah mengantuk, biasanya alarm yang akan membangunkannya sekarang alarm itu telah berganti tugas jadi ketukan pintu yang dilakukan Raisa.


"Kamu pulang jam berapa? Kok aku nggak tahu, kenapa nggak bangunin aku?" Masih pagi buta, mulut Raisa sudah mulai mengomel.


"Masih subuh, udah nyap-nyap. Aku pulang tengah malam. Aku pikir kamu tidur dengan nyenyak jadi mana mungkin aku bangunin" Diki masih mengucek matanya.


"Iya...tapi kan seenggaknya..." Terbayang dalam benaknya Raisa, sosok pria yang bersikap manis akan memindahkannya ke kamar seperti kebanyakan cerita di TV tapi realita tak seindah bayangan. Raisa tidak boleh berharap banyak pada pria semacam Diki. "Ya sudahlah..."


"Kenapa?"


Wajah tanpa dosa itu kenapa Raisa melihatnya jadi kesal sekali, "Kamu tega biarin aku tidur di sofa, bukannya bangunin kan aku bisa pindah sendiri ke kamar" Raisa menghentakkan kakinya.


"Heh???" Diki tak mengerti maksud Raisa. Dalam pikirannya, dia sudah berbuat baik tidak membangunkan Raisa karena kasihan tapi Raisa menilai itu sebaliknya. Itulah Diki, pria yang tidak memahami wanita.


Aktivitas Raisa yang akan menjadi rutinitas, ia harus memasak di pagi hari. Begitu juga dengan Diki yang tidak akan meninggalkan kebiasaannya berjogging.


Sikap diamnya Raisa membuat Diki jadi tidak nyaman, karena memang ia tidak merasa bersalah akhirnya ia putuskan diam juga lanjut menikmati makannya.


'Di depanku ini sesosok suami yang tidak peka, apakah sebelumnya ia tidak pernah menjalani hubungan dengan seorang wanita jadi tidak bisa memahamiku?' Raisa berceloteh dalam hati.


Tatapan tajam Raisa terus mengarah ke Diki yang enjoy menikmati sarapan. Dalam diamnya Raisa, dihatinya penuh dengan umpatan.


Ini masih awal, Raisa tidak boleh menuntut banyak apa yang diharapkan selain belajar sabar.


****


"Bu Raisa, nanti siang ada rapat membahas hasil audit kemarin" Via-sekretaris Haris- menghampiri Raisa sambil memberi memo undangan rapat.


Sebelum menggangguk, Raisa terhenyak sesaat pikirannya langsung mengarah ke Irfan.

__ADS_1


'Apakah Irfan akan datang kemari?' benaknya berkata. Soalnya dia masih ada keterkaitan karena masalah pekerjaan. Kalau bukan karena perusahaan Irfan suppliernya, mungkin Raisa tidak akan secemas ini. Jujur Raisa selalu merasa tidak tenang setiap pekerjaannya melibatkan nama perusahaan Irfan.


Apanya yang menghapus jejak Irfan dalam hidupnya ini malah justru dipertemukan. Raisa mengeluhkan nasibnya.


"Ah iya... makasih udah kasih tahu" jawab Raisa, "Ruang rapat sebelah mana yang akan dipakai?" tanyanya kemudian.


"Yang sebelah kanan dekat pintu lobi,"


"Oh... Ok"


Sementara Raisa menemui Fitri yang sebelumnya ditugaskan dengannya saat itu.


"Fit, apa laporan hasil audit sudah kamu rangkum?"


"Sudah, Bu. Aku juga sudah menyiapkan untuk tampilan PowerPointnya, Bu. Jadi bisa langsung dipresentasikan di rapat nanti"


"Bagus, kamu sangat bisa diandalkan. Aku belum sempat membuatnya. Maaf, yah"


"Tidak masalah, kita kan bekerjasama" ucap Fitri penuh pengertian.


Sambil menunggu rapat, Raisa berusaha menenangkan kecemasan dirinya. Semoga Raisa bisa mengendalikan dirinya meski ia sendiri tak yakin.


Raisa hampir saja menyemburkan minuman coklatnya karena dirinya terkejut. Matanya membulat ketika menangkap sesosok pria yang berjalan dengan tegap, jika Raisa tidak salah lihat, dia adalah DIKI??? Yah dengan jelas itu Diki. Gestur jalannya yang khas tidak diragukan lagi.


Apakah suaminya juga punya keterkaitan kerjasama dengan perusahaan ini? Raisa tidak tahu. Raisa memang belum mengenal tentang Diki dan pekerjaannya. Untuk menanyakannya saja, Raisa sudah enggan karena sikap acuh dan dinginnya Diki saat di rumah.


Semakin Diki berjalan mendekat dan arah jalannya melewati depan pandangan Raisa. Raisa mencoba menutupi wajahnya dengan apapun agar tak terlihat Diki. Raisa juga salah tidak menceritakan dimana tempatnya bekerja, jadi sepertinya Diki juga tidak tahu Raisa bekerja di sini.


Jantung Raisa terus berdebar, kecemasan dia makin bertambah. Suami dan mantan kekasihnya akankah bertemu di tempat yang sama?


Situasi macam apa ini yang akan dihadapi Raisa. Sungguh tidak masuk akal.


Raisa bersiap dan ingin rasanya berlari jauh hingga ke ujung dunia kalau perlu. Suasana tidak menyenangkan siap menyambutnya.


"Fit, apa nggak sebaiknya kamu aja yang hadir di rapat nanti, rasanya aku sedikit merasa tidak enak di perutku. Khawatir akan sering bolak balik ke kamar mandi" Raisa mulai beralasan tidak hadir.


"Apa Bu Raisa diare? Kalau Bu Raisa merasa perlu obat, aku bisa telpon ke klinik perusahaan sekarang, kita perlu hadir karena kita yang waktu itu terjun langsung di lapangan dan Pak Haris pasti tidak mau kita diwakilkan dengan orang lain"


Aduuh... Fitri ini tidak mengerti situasi dan kondisi perasaan Raisa saat ini. Andai Raisa bisa menceritakannya, apakah Fitri akan bersikap pengertian lagi.

__ADS_1


"Baiklah, tidak usah repot-repot. Aku bisa atasi sendiri" Raisa mencari ide lain.


"Tiga puluh menit lagi, ayo Bu Raisa! Kita harus sudah di ruangan sekarang sebelum para atasan datang"


Raisa manggut-manggut, sambil berjalan Raisa menata ekspresinya dulu agar tak terlihat canggung.


"Raisa, kenapa kamu memakai masker?" Nada Haris agak menahan tawa.


Haris adalah orang yang tahu bahwa Raisa istrinya Diki, Haris menebak Raisa menutupi wajahnya dengan sengaja. Sebelumnya Haris memerhatikan tingkah Raisa yang berusaha menutupi dirinya saat Diki akan melewati di hadapan Raisa.


Apa yang dipikirkan Raisa, Haris tak mengerti. Seharusnya Raisa bangga menunjukkan dia adalah istri dari Diki seorang CEO PT. Golden Life agar para wanita di sini tidak berusaha mencari perhatian Diki tapi sikap Raisa malah sebaliknya malah menutup diri.


"Aku rasa tiba-tiba terkena flu, tidak enak jika aku bersin bisa dituduh menyebarkan virus saat di ruangan, Pak" alasan Raisa yang nyeleneh.


Haris menerima alasan itu, "Lain kali jaga kesehatan jadi kamu nggak perlu lagi memakai masker"


"Iya, Pak. Makasih atas perhatiannya"


'Dasar, tingkah istri Diki ini ada-ada saja' gumam Haris.


Diki sampai depan ruangan dengan didampingi Rio yang mengekor di belakangnya.


Raisa terus dilanda panik berharap Diki tidak menyadarinya apalagi kini Diki sudah duduk di posisinya. Raisa terus berpura mencari kesibukan sebelum rapat dimulai, badannya ia palingkan dari pandangan Diki.


"Maaf, Pak Irfan baru sampai dia sedang dalam perjalanan menuju kemari" Haris memberitahu Diki dan dengan jelas Raisa mendengar itu.


'Apa?' Teriak batin Raisa. Seketika tubuh Raisa mulai terasa kaku.


Betapa gawatlah situasi ini, jadi benar Irfan juga akan ke sini???


Raisa tidak tahu harus bersikap apa, suami dan mantan kekasihnya berada dalam ruangan yang sama.


Raisa langsung memanjatkan doa dalam hati,


'Ya, Allah tolonglah hamba-Mu ini'


----


----

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2