MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 54. BERTEMU TANTE


__ADS_3

Sepulang kerja Raisa menemui pamannya. Tapi sayang Raisa belum juga tahu dimana letak kediaman pamannya. Entah kenapa tante dan pamannya menghindari Raisa.


Sejak kejadian kasus Rian selesai, tantenya tak pernah menghubungi Raisa lagi. Dia menghilang seperti tidak tahu terima kasih dan sekarang tersangkut hutang malah ingin dilimpahkan pada Raisa.


Sebenarnya Raisa kesal pada mereka. Meskipun begitu, mereka masih saudara Raisa jadi nurani Raisa tergerak untuk membantu mereka lagi.


Raisa tidak berencana untuk meminta bantuan Diki karena dia masih memiliki beberapa aset yang diberikan Diki padanya yang berupa mahar. Ia berniat menjual salah satu asetnya untuk membantu tantenya.


Setelah dipikir-pikir Raisa tidak yakin apakah Diki akan menerima idenya?


Kemudian Raisa ingat, dia punya nomor handphone Rian. Jadi dia menghubungi Rian. Beberapa saat setelah diberi tahu oleh Rian, Raisa segera meluncur menemui paman di kediamannya.


Keterkejutan mewarnai wajah Fatma, matanya terbuka lebar. "Ra–Raisa?"


Raisa tersenyum pahit melihat wajah Fatma yang penuh dengan kemunafikan. Ia telah banyak dikecewakan oleh tantenya bahkan terakhir kali dengan tega tantenya menjebaknya pada Revan.


"Aku ada perlu penting, bolehkah aku masuk?" Raisa masih berdiri di depan pintu dan masih mengenakan seragam kerja.


Fatma menyambutnya dengan wajah berseri, memalsukan kegelisahan hatinya. "Oh tentu, ayo sini masuk dulu. Tante senang kamu berkunjung ke rumah tante. Yah, walaupun rumah ini agak sempit"


'Sempit?' Pandangan Raisa menyapu ke sekitarnya, tak ada sesuatu yang membuatnya sesak. Jelas ini terlihat luas. Makna litotes yang diucapkan Fatma membuat Raisa ingin muntah, ia tidak menyukai kepura-puraan. Ok, Raisa tidak mau membahasnya, dia lebih berpusat pada masalah kemarin.


Raisa duduk di sofa kemudian ia disuguhkan minuman segar juga kudapan yang terlihat lezat. Raisa termenung sesaat dan matanya terus berkedip, ia baru merasakan diistimewakan.


Sekali lagi, apa ini karakter Fatma yang sebenarnya? Ia tampak seperti menjilat Raisa karena tahu Fatma membutuhkan bantuannya.


Setelah banyak berpikir, Raisa akhirnya menyesal. Kenapa ia baru mengetahui sifat asli Fatma setelah ia banyak ditipu oleh tantenya itu.


"Aku tidak bisa berlama-lama di sini, hanya ingin konfirmasi mengenai seorang pria yang menelponku. Apakah benar tante memiliki sangkutan dengan seseorang?"


"Maksudmu? Memangnya siapa pria yang menelponmu? Tante tidak tahu"


"Kemarin dia menelponku dan bilang tante memiliki hutang 100 juta. Aku tidak tahu siapa pria itu, dari suaranya saja terdengar mengerikan dan sudah dipastikan ia seperti seorang gangster."

__ADS_1


Fatma ingat, dia memang memiliki hutang pada seorang lintah darat. Sudah dua bulan belakangan pria itu menerornya, Fatma tidak sanggup membayar karena bunganya sangat tidak masuk akal. Oleh sebab itu, dia memutuskan pindah rumah. Meski begitu, dia tetap saja tidak bisa menghindar dari kejaran pria itu yang memiliki banyak anak buah dimana-mana.


Dengan rasa keputusasaan, Fatma sengaja memberikan nomor Raisa pada pria itu. Karena Fatma tahu Raisa memiliki banyak harta semenjak menikah dengan Diki.


"Itu benar," Dengan cepat Fatma tidak menyangkalnya.


Mendengar perkataan tantenya membuat Raisa tercengang, ini diluar prediksi Raisa. Ia kira Fatma akan berkelit.


Apakah tantenya akan menjerat Raisa dengan masalahnya lagi?


"Terus, kenapa tante memberikan nomorku pada dia. Aku kan tidak punya sangkut paut mengenai masalah tante."


Dengan wajah sedih dan muram, Fatma menunjukkan sikap ingin dikasihani, "Raisa, ehm... bagaimana yah tante mau menjelaskannya"


Fatma memalingkan wajahnya seolah dia berat untuk menceritakannya. Ia berakting penuh derita.


Raisa yang terlihat muak, langsung bicara ke intinya. "Jelaskan saja tante, tidak perlu menyembunyikannya lagi. Aku ingin tahu yang sebenarnya"


"Tante hanya berhutang sedikit tapi karena terlambat bayar bunganya semakin membengkak dan itu diluar kemampuan tante. Tante menyesal sudah berhutang pada lintah darat. Padahal saat itu tante butuh uang karena pamanmu banyak berhutang ke sana kemari"


"Iya, silakan kamu tanyakan pada pamanmu. Raisa, kondisi keuangan keluarga tante sedang tidak baik-baik saja. Mungkin dari luar terlihat tidak ada masalah tetapi kita ini sedang kesulitan. Gaji pamanmu selalu habis sebelum gajian lagi ditambah biaya sekolah Rian. Aduh tante pusing sekali mengaturnya" Fatma berdrama dan matanya berusaha keras untuk menitikkan air mata.


Mendengar kondisi ekonomi tantenya, Raisa seakan dibuat lupa lagi bahwa ia akan dijerat oleh masalah tantenya. Sekelebat rasa iba mulai menghinggapi hati Raisa. Ia teringat dirinya sendiri yang memiliki pengalaman sama saat kondisi keuangan keluarga memburuk, betapa itu membuatnya semakin sadar untuk selalu bijak menggunakan uang.


"Baiklah, aku mengerti. Aku akan membantu tante semampuku."


"Oh... Raisa. Kamu sangat bermurah hati, terima kasih mau membantu tante"


Walau awalnya Raisa muak dengan muka tantenya, tetapi ia masih ingat kebaikkan pamannya bahwa dulu pamannya sangat menyayanginya. Jadi Raisa memikirkan nasib pamannya dan juga Rian.


"Kalau aku boleh tahu siapa pria itu?"


"Tedi–seorang lintah darat yang terkenal. Tante mengenalnya dari seorang teman. Jadi tante tidak begitu tahu orangnya secara langsung. Tante meminjam melalui teman tante. Kalau kamu mau melunasinya melalui tante saja nanti uangnya akan tante kasih ke dia. Kamu tidak perlu bertemu langsung karena dia orangnya begitu kejam. Tante cemas kamu akan terjebak olehnya"

__ADS_1


"Tidak, aku ingin menemuinya langsung dan memberi peringatan padanya untuk tidak lagi meneror keluarga tante dan paman. Juga dia harus menjauh dariku, aku tidak mau melibatkan suamiku"


"Begitu, baiklah. Nanti akan tante antar kamu, tapi teman tante pasti minta komisi. Bagaimana?"


"Tidak masalah,"


"Kalau kamu setuju, bagaimana kalau tante yang akan menemanimu?"


"Ya. Nanti aku akan atur waktunya"


Setelah kesepakatan dibuat, Raisa pamit pulang. Jejak kepergiannya tercium oleh Diki. Seseorang telah menguntit Raisa sejak Raisa pulang kerja. Lalu ia melaporkan pada Diki.


"Sudah aku duga, ia akan bertindak sendiri." Diki bergumam. Kilatan rumit melintas di matanya.


Terdengar suara pintu, itu pasti Raisa sudah pulang. Diki mengakhiri pembicaraannya di telepon.


"Maaf, aku pulang terlambat. Tadi ada beberapa hal yang harus aku urus." Raisa langsung menjelaskan tanpa ditanya.


Diki mengangguk lalu bertanya, "Apa kamu sudah menemui pamanmu?"


"Tentu saja, sayangnya paman belum pulang kerja tapi tadi aku sudah berbicara dengan tante."


"Lalu..." Diki menatap lurus Raisa yang tampak kikuk.


Ditatap Diki begitu, Raisa tanpa daya menceritakan yang sebenarnya. "Memang benar tante memiliki hutang pada lintah darat. Namanya Tedi"


Tak ada respon keterkejutan dari Diki, Raisa keheranan. Diki terlihat tenang dan santai. Raisa pikir Diki akan bereaksi seperti biasanya, marah atau kesal. 'Hari ini ada apa dengannya?' Raisa bertanya-tanya dalam hati.


Raisa mengalihkan topik, "Karena aku pulang terlambat jadi tidak bertemu dengan Rio, bagaimana pengerjaan renovasinya?"


"Kamu bisa mengeceknya langsung"


----

__ADS_1


----


Bersambung...


__ADS_2