MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 23. RAPATNYA BIKIN TEGANG


__ADS_3

Raisa berkeringat dingin mengucur membasahi keningnya, sesekali ia mengelapnya dengan tangan gemetar.


"Pak Haris, aku mau bicara sebentar di luar. Ini penting" Raisa membisikkan di telinga Haris agar tak terdengar Diki yang duduk di sebelahnya. Raisa gunakan kesempatan ini sebelum Irfan datang.


"Ada apa?"


"Ku mohon, Pak!"


"Baiklah" Haris mengiyakan lalu tubuhnya memutar menghadap Diki, "Maaf, aku ada perlu sebentar"


Diki hanya mengangguk, wajahnya yang tanpa ekspresi masih dengan posisi yang sama.


"Pak, aku mohon jangan bilang kalau aku bekerja di sini, suamiku tidak boleh tau"


Menyadari Raisa yang memelas pada Haris, ada tanda tanya dalam benaknya.


"Apa kamu takut akan dicecar pertanyaan yang sulit saat presentasi nanti?" tebak Haris.


Sebelum Raisa, sudah ada beberapa orang yang jadi korban mulut pedas Diki hingga mereka gugup saat presentasi dan itu terjadi yang sudah-sudah. Haris pikir Raisa ketakutan karena itu.


"Ah iya, Pak. Anda tau sendiri kan karakter dia seperti apa" Raisa jadi mengikuti alur dugaan Haris saja dan menutupi fakta yang sebenarnya.


"Ok, kamu tenang aja. Selama kerjamu bagus, akan aku bantu"


"Ya ampun...terima kasih banyak, Pak" Raisa bernapas lega, seakan beban berat kepanikannya sedikit berkurang, lalu Raisa berkata sebagai balasan atas bantuan Haris, "Aku akan meningkatkan loyalitas kerjaku mulai saat ini dan seterusnya" Raisa pikir itu adalah wujud rasa terimakasihnya jika Haris sungguh menolongnya di saat genting begini.


"Ya...ya... Aku paham kesulitanmu jadi berhentilah menjilat"


"Aku nggak seperti itu kok, Pak" Raisa manyun karena Haris menilai Raisa begitu. Ia tidak terima.


"Raisa...Raisa... aku cuma bercanda" Haris terkekeh.


Raisa kini beralih ke Fitri, ia juga memohon pada rekannya untuk tidak menyebut namanya saat di ruangan nanti. Fitri pun menyanggupinya, ia tidak tahu alasan dibalik itu. Fitri hanya sekedar mengikuti permohonan Raisa saja karena mereka rekan kerja.


Kini orang yang ditunggu telah datang, Irfan agak telat karena memang perjalanannya yang jauh juga cukup memakan waktu.


"Silahkan masuk, Pak!" Fitri yang berada di depan pintu memberi sambutan.


'Tuh, kan. Dia datang' Raisa yang sedang duduk hatinya sungguh tidak tenang. Ia tidak bisa mengontrol jantungnya yang terus berdetak kencang. Jemarinya yang lentik ia ketukan di meja, menenangkan dirinya yang dilanda panik.

__ADS_1


"Maaf, aku datang terlambat. Tadi ada kendala di perjalanan"


Irfan terdiam sesaat ketika berhadapan dengan Diki, ia merasa pernah bertemu. Sedangkan di antara mereka ada Raisa yang sedang menutupi dirinya.


Begitu juga Diki, untuk otaknya yang cerdas ingatan akan pertemuannya dengan Irfan jelas masih membekas ditambah Irfan memiliki keterkaitan dengan Raisa di masa lalu.


"Irfan Mahardika" Masih dengan tatapan lurusnya ke arah Diki, Irfan mengulurkan tangannya.


"Diki Sanjaya," Diki menjabat tangan Irfan, ia tahu Irfan mantan pacar istrinya karena Raisa sudah menceritakannya. Tapi Diki diam, ia bersikap profesional. Sebenarnya ia tidak menyangka bakal bertemu lagi di sini.


"Senang bertemu dengan anda," Meski Irfan tersenyum tapi tersembunyi rasa panas di hatinya.


Diki tetap dengan ekspresi datarnya juga menyimpan rahasia perasaannya yang tak tergambarkan.


Suasana ruangan kian memanas dan menegang. Kedua eksekutif muda yang seakan siap memasang genderang perangnya. Mereka Irfan dan Diki.


Raisa hanya bisa menarik napas dalam-dalam, meyakini dalam hati tidak akan ada masalah. Karena keduanya pasti tidak akan bersikap sembrono karena menyangkut menjaga reputasi masing-masing perusahaan yang mereka pegang.


Pun rapat akhirnya dimulai.


"Kenapa dia memakai masker?" Diki bertanya pada Haris. Suaranya tetap terdengar di telinga Raisa segera berinisiatif untuk berpura-pura batuk.


Diki menanggapinya biasa, dia masih belum menyadari wanita itu Raisa.


Sedang di ujung sana, Irfan memerhatikan mata Raisa. 'Aku tahu kamu menutupi wajahmu dariku, kamu pikir aku nggak tau siapa kamu. Matamu itu jelas menggambarkan siapa pemiliknya dan hanya aku yang tau' batin Irfan.


Mereka memiliki pemikirannya masing-masing begitu juga Raisa.


"Apakah anda sudah melakukan pengukuran dan masih masuk dalam toleransi batas ukur?" Diki mulai melancarkan aksi pertanyaannya.


"Tentu, Pak. Aku sudah mengambil beberapa sampel dan mengukurnya dengan vernier caliper digital juga menggunakan micrometer. Batas ukur toleransi partnya masih masuk dan untuk material sudah lolos uji lab" jawab Raisa tegas.


Lanjut ke pertanyaan berikutnya yang semakin bertubi-tubi Diki lontarkan.


'Ya ampuuun, emang bener deh ini yang dibilang Pak Haris suamiku itu kritis sekali, orang lain pasti tidak akan betah punya atasan seperti dia' Raisa membatin.


Haris tidak percaya Diki melakukan kebiasaanya bahkan yang dia hadapi istrinya sendiri si Raisa. Andai Diki tahu siapa wanita dibalik masker itu. Rasanya Haris ingin sekali menertawainya. Kisah suami istri dalam rapat kerja yang saling serang.


Irfan tahu betapa cakapnya Raisa dalam berbicara, dia memang cerdas. Itulah yang membuat Irfan tidak bisa berpaling dari Raisa. Otak cemerlang Raisa begitu memukau bagi Irfan.

__ADS_1


Bahkan saat rapat Irfan hanya sekedar menjelaskan beberapa keunggulan produk materialnya tidak seperti Raisa yang begitu mendetail hingga Diki kehilangan kata-katanya lagi untuk mengajukan pertanyaan.


"Rapat selesai sampai di sini, jadi material sudah kita putuskan akan bekerja sama dengan perusahaan PT. Jaya Makmur Teknik milik Pak Irfan karena sudah lolos uji kualitas dan masuk dalam standar. Semoga kerjasama di antara kita bisa berkelanjutan" Haris mengakhiri rapatnya.


'Syukurlah' Raisa akhirnya tenang karena rapat yang membuatnya tegang dari awal bisa berkurang sedikit.


"Saya ucapkan terimakasih kepada Bu Ra..." Haris hampir keceplosan melihat kedipan mata Raisa akhirnya tidak ia lanjutkan. Baru juga Raisa bernapas lega, Haris malah membalikkan keadaan lagi.


"Siapa dia?" tanya Diki yang membuat Raisa malah semakin tegang dan panik.


"Eh panggil saja aku Ra" Raisa meneruskan.


"Bu Ra?" Alis Diki terangkat.


"Namaku sangat panjang, Pak. Jadi semua orang memanggilku dengan singkat menjadi Ra, gitu maksudnya. Iya kan Pak Haris? Hehehe"


"Hmm...namamu cukup unik jadi aku bisa mengingatnya"


Semua yang hadir mulai keluar ruangan dan yang masih tersisa, Haris, Diki, Irfan dan Raisa. Raisa merapikan semua peralatan alat peraga yang telah dipakai tadi saat presentasi.


"Waktunya makan siang nih, kebetulan istriku sedang tidak enak badan jadi hari ini ia tidak membuatkan bekal untukku" Haris mengeluh.


Diki acuh tak menghiraukan Haris bicara, perhatiannya mengarah ke Irfan. Jauh di lubuk hatinya, ia ingin bicara mengenai Raisa tapi situasinya tidak tepat.


Sedangkan Irfan malah berinisiatif mendekati Diki, melihat pemandangan itu Raisa jadi dag dig dug lagi. Mau sampai kapan Irfan berhenti membuat ulah.


"Maaf, Pak Diki bisa kita bicara berdua?" Irfan dengan membawa aura mencekam datang dengan keberaniannya menghadapi Diki-suami Raisa.


'Hah??? Astaga!!! Mau apa lagi dia? Jangan bikin masalah di sini. Aku masih karyawan baru. Bener-benar si Irfan ini maunya apa sih? Apa yang mereka bicarakan' Batin Raisa tak hentinya bercuap-cuap.


"Baiklah, ayo kita cari tempat di luar"


'Ini juga Diki kenapa mau aja lagi, aduuuh aku harus bagaimana?' Hati Raisa tak tenang melihat Diki dan Irfan. Rasanya ingin berteriak....


----


----


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2