MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 24. KEHILANGAN JEJAK


__ADS_3

"Haruskah aku menahan mereka?" Raisa bermonolog samnil memandang Diki dan Irfan yang melangkah keluar bersama.


"Raisa!"


"Iya, Pak" Raisa berbalik dan mendapati Haris tengah memanggilnya. Panggilan Haris menahan Raisa yang hendak menguntit Diki dan Irfan. Sayang sekali kesempatan hilang gara-gara Haris. Raisa jadi kesal.


"Data hasil pengecekan material yang sudah kamu kerjakan tolong copy-an nya email ke aku, yah?"


"Iya, Pak"


"Oh iya satu lagi..."


"Apa lagi Pak?" Raisa sudah sangat menahan kekesalannya.


"Laporan mingguan, jangan lupa ke ruanganku setelah jam makan siang, yah?!"


Raisa mengangguk gemas dan merapatkan bibirnya dengan erat karena Haris yang terlalu lama menahannya. Raisa takut kehilangan jejak Diki dan Irfan.


Dan benar saja, tak terkejar oleh Raisa. Betapa emosinya sudah naik ke ubun-ubun kesal dengan Haris, Raisa jadi kehilangan jejak Diki dan Irfan.


"Mereka cepat sekali menghilangnya" keluh Raisa dengan napas tersengal-sengal.


Raisa mencari ke sana kemari belum juga melihat mereka. Rasa penasaran yang belum hilang, Raisa terus melakukan pencarian. Hatinya tidak akan tenang sebelum menemukan Diki dan Irfan.


Ada tiga karyawan yang kebetulan lewat yang berlawanan arah dengan Raisa. Tak sengaja obrolan mereka terdengar oleh Raisa yang telah melewati mereka.


"Kamu tau, dua bos muda yang tadi lewat? Masih muda yah?"


Dua? Apakah yang mereka bicarakan Diki dan Irfan? Raisa menahan langkahnya sambil memasang telinganya untuk mencuri dengar obrolan mereka.


Raisa berbalik arah memutuskan untuk mengikuti mereka dan bertanya.


"Usianya mungkin nggak jauh beda dengan kita kayak nya" ujar salah satu karyawan di sebelah mereka.


"He'eh, mereka keren"


"Mereka masih single nggak yah?"


"Kalau yang aku tau sih masih single deh" karyawati itu tidak tahu Diki sudah menikah karena memang belum mengadakan resepsi jadi tidak semua orang yang tahu.


"Wah, kita masih ada kesempatan dong, Siapa tahu jodoh, iya kan?"


"Eh Pak Diki mah dingin orangnya susah didekati beda sama yang satunya. Aku sih pilih yang satunya lebih terlihat humble"


Tuh kan, tebakan Raisa bener. Mereka sedang membicarakan Diki dan Irfan.


"Tapi aku suka tipe seperti Pak Diki lebih menantang untuk mendekatinya"


"Sama aku juga, aura dingin dan pendiamnya tambah keren"

__ADS_1


Yang nge-fans Diki tertawa cekikikan, senangnya mereka seperti sedang bergosip tentang seorang idola.


'Ehei...enak aja yah pada niat menggoda suami orang mereka ngga tau aku ini istrinya? Macem-macem, aku bejek-bejek biar tau rasa,' umpat Raisa yang berada di belakang mengikuti mereka. Wajahnya merengut kusut mendengar obrolan para karyawati itu.


'Haruskah aku melabrak mereka? Tapi aku kan sedang dalam mode penyamaran' Raisa dilema.


"Daripada susah-susah mah ngedeketin pria model begitu yang tingkatannya jauh di atas kita pake cara halus aja"


"Cara halus apa maksudnya?"


"Pelet...aja"


Mereka tertawa semua karena memang hanya bergurau tapi Raisa menanggapinya serius.


HAH!!! Raisa tercekat. Mereka makin kurang ajar, emosi Raisa hampir meledak. Asap hampir mengebul di kepalanya. Tidak bisa dibayangkan jika itu terjadi artinya Diki akan jadi milik orang lain begitu juga dengan rumahnya yang sudah menjadi incaran Raisa.


Raisa tidak akan biarkan itu terjadi. Ia segera mempercepat langkahnya menghampiri mereka. Ia sangat penasaran seperti apa wajah mereka yang dengan beraninya memiliki niat merebut Diki darinya.


TRRRT...


Ponsel Raisa bergetar di sakunya. Lagi Raisa menghentikan langkahnya karena ponsel tidak berhenti bergetar dengan terpaksa Raisa mengangkatnya.


[Siapa?] Tertera nomor baru.


[Aku Rian, Kak Raisa]


[Rian? Ada apa?] Sepupu Raisa yang masih SMA, anak dari Tante Fatma.


[Emangnya ada masalah apa?]


[Tapi janji yah jangan bilang ke mama dan papa]


[Iya, lagian juga susah ngehubungin nomor mereka. Cepat ngomong aja, Kak Raisa masih di tempat kerja nih]


[Aku tersandung kasus]


[Ka-kasus? Kasus apaan? Jangan bikin aku cemas] Raisa shock mendengarnya, fokusnya jadi teralihkan dengan Rian. Ia jadi lupa mau mengikuti Diki.


[Aku nggak bisa ngomong di telepon, kapan kita bisa ketemu?]


[Apa ini sangat mendesak? Kalau mendesak, Kak Raisa bisa ijin sebentar nemuin kamu]


[Nggak juga, ya udah sepulang kerja aja, ya Kak?]


[Beneran, kamu nungguin aku pulang kerja?]


[Iya, beneran]


[Ya udah, nanti kamu telpon Kak Raisa lagi yah, Kita ketemuan dimana? Aku pulang jam lima sore]

__ADS_1


[Iya, Kak. Aku nanti nelpon jam segitu]


Sambungan telpon terputus.


Beban pikiran Raisa jadi bertambah, belum selesai masalah tadi kini ditambah lagi masalah baru dari Rian. Raisa sayang sama Rian seperti adik sendiri karena Raisa anak semata wayang. Jadi dia tidak bisa mengabaikan Rian meskipun Rian sering bikin ulah dan Raisa yang selalu menyelesaikannya. Sepupu yang akrab sejak kecil.


Karena kehilangan jejak Diki, Raisa kembali ke meja kerjanya mengambil data yang diminta Haris dan segera menyerahkannya siang ini juga. Raisa jadi tidak sempat makan siang. Terlalu sibuk dengan mengurusi urusan yang tidak penting gara-gara Irfan, Raisa khawatir Irfan akan ribut dengan Diki. Tapi ternyata Raisa kehilangan mereka.


"Permisi, Pak!"


"Ya, masuk aja!"


Raisa terbengong ternyata Diki sudah bersama Haris, 'Lho sejak kapan dia ada di situ? Aku nyari ke sana kemari. Terus si Irfan kemana?' benak Raisa penuh tanda tanya.


"Kenapa bengong aja? Mana data laporannya?"


"Eh...iya ini Pak!" Raisa menyodorkan berkas di tangannya. Untung dia masih memakai masker. Masih aman


"Tadi kamu makan siang dimana? Istrimu tidak membawakan bekal lagi?" tanya Haris pada Diki yang sebenarnya menyindir, ia tahu Raisa ada di sini.


UHUK...UHUK...UHUK... refleks Raisa terbatuk.


"Kamu kenapa, Ra?"


"Ah nggak apa-apa, Pak Haris. Tenggorokanku gatal sepertinya"


"Oh..."


'Benar-benar yah, Pak Haris pasti sengaja. Iya dia sengaja, tuh keliatan jelas di wajahnya seakan sedang meledekku. Nyebelin deh' Raisa mengumpat kesal pada Haris.


"Aku makan siang dengan Pak Irfan. Dia yang mentraktirku"


"Benarkah? Apa yang kalian bicarakan?"


"Sesuatu yang penting, pastinya kau tidak perlu tahu"


Raisa menelan ludahnya, mendengar Diki makan siang bersama Irfan. Pikiran Raisa jadi kacau. Apa mereka akur?


Apa yang dibicarakan Irfan pada Diki, Raisa ingin tahu tapi tidak bisa menanyakannya langsung. Raisa merutuki dirinya yang gagal menguntit Diki dan Irfan. Semoga saja hanya masalah pekerjaan.


Raut wajah Raisa jadi berubah, ketenangan hatinya terusik. Apakah Irfan berbuat nekat? Raisa tidak tahu. Baru juga menempuh mahligai rumah tangga sudah dihadapkan dengan masalah.


Wajah Diki juga tidak bisa Raisa baca. Pria itu tetap dingin seperti biasa tidak menunjukkan ekspresi apapun.


Raisa bingung menghadapi Diki nanti saat bertemu di rumah. Haruskah dia kabur menjauh atau tetap menghadapinya?


----


----

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2