
"Aku tidak tahu kalau ternyata dia sudah menikah, aku pikir dia masih setia untuk menungguku," ucap seorang wanita misterius yang sedang mengomentari Diki setelah menontonnya.
Wanita itu duduk dengan anggun dan penampilannya terlihat berkelas juga elegan yang menggambarkan sesosok sosialita di ibukota. Sikap angkuhnya tersirat dalam wajahnya. Dia, wanita cantik dan lembut namun licik karena sangat menjaga imagenya bak seorang dewi. Dia cukup pintar untuk menyembunyikan sifat buruknya.
Kemudian, dia menutup video dengan menyentuh layar handphonenya. Wajahnya berubah muram dan kekesalan melintas di matanya. Wanita itu baru tahu lewat berita yang beredar, ternyata Diki melindungi seorang wanita yaitu istrinya. Rasa cemburu bergemuruh di hatinya.
Dia masih belum sepenuhnya percaya dengan kenyataan ini, karena yang dia tahu, dulu Diki sangat terobsesi padanya. Dia memiliki pesona seperti racun yang mematikan.
"Itu artinya kamu bukan lagi wanita yang dicintainya." Pria di sebelahnya, tengah mengejeknya. "Jadi jangan menyombongkan diri, banyak wanita di luar sana yang berlomba-lomba untuk menaklukan Diki." Kemudian pria itu tertawa.
Mendengar ejekan dari teman prianya, hati wanita itu mulai panas, tergambar jelas dari raut wajahnya. Kecantikannya seolah memudar sesaat setelah dia tanpa sadar menampakkan karakter jeleknya.
"Aku tidak suka disaingi," ujar wanita itu dengan angkuh. Suaranya lembut namun menyimpan rasa iri yang dalam.
"Untuk apa lagi kamu masih memikirkan dia, lagipula kamu juga sudah menikah dengan pria yang memiliki jabatan penting." Si Pria mengingatkan status wanita itu dengan jelas.
Diingatkan mengenai statusnya yang sudah menjadi istri orang, wanita itu jelas kesal. Dia tahu, namun tidak mau mengakui itu. Alasannya menikah dan mengabaikan Diki, karena semata-mata demi harta dan juga mencari pijakan di ibukota.
Wanita itu senang memanfaatkan perasaan Diki hanya untuk kepuasannya sendiri dan rasa bangga. Dia memang menyukai Diki yang tampan. Sayangnya, sifatnya yang materialistis membutakan hati nuraninya untuk menolak perasaan Diki.
Dengan perangainya yang buruk, dia tidak suka mengalah. "Aku menyukai perasaan disanjung oleh pria-pria. Jadi ketika seseorang yang dulunya menyukaiku lalu dia berubah menyukai orang lain, entah kenapa aku membenci hal itu." Wanita itu berdiri, lalu meninggalkan pria yang merupakan patnernya.
"Dasar wanita! Kau terlalu serakah," umpat si Pria. "Hei! Aku ingatkan kamu, jangan mencoba untuk bermain api. Identitas suamimu bukanlah orang biasa," seru pria itu.
Wanita itu seakan tidak mau mendengar dan tidak peduli apapun tentang peringatan dari pria itu. Dia pergi tanpa menoleh.
Wanita itu adalah wanita dari masa lalu Diki. Dia berencana untuk muncul di hadapan Diki. Entah kekacauan apa yang akan dia buat nanti.
\*\*\*\*\*\*
Malam hari, Diki baru pulang ke rumah. Rencananya Diki akan pulang tadi siang setelah mendengar kabar Raisa tidak enak badan. Sayangnya, ada beberapa masalah yang mendadak muncul dan harus diselesaikan dulu.
__ADS_1
Raisa yang mendengar suara mobil Diki, bergegas bersembunyi di balik selimut. Dia berpura-pura tidur, padahal sejak tadi siang Raisa menantikan Diki pulang cepat. Belakangan ini, Raisa jadi merindukan Diki.
Diki berjalan menuju ke kamar tidur Raisa, dia ingin memastikan kondisi Raisa.
Jari Diki mengendurkan ikatan dasinya setelah melempar jasnya secara sembarang ke kursi. Dia yang nampak lelah berjalan mendekati Raisa yang tengah tertidur. Diki memandang wajah Raisa yang tertidur.
Info dari Bik Surni tadi siang, dia mengatakan Raisa sudah diperiksa dan kondisi Raisa menjadi lebih baik. Diki lega mendengarnya.
Diki berpikir, Raisa sudah nyenyak tidur jadi Diki tidak mau mengganggunya. Diki menuju ke kamar mandi dan membersihkan diri sebelum tidur.
Aroma sabun mandi terhirup oleh Raisa, dia menyadari Diki akan tidur di sampingnya. Jantung Raisa berdebar, dia masih saja merasakan perasaan malu berdekatan dengan Diki. Pria ini selalu saja berhasil membuat Raisa terpesona meski sebelumnya bertengkar dan membuat Raisa kesal.
Diki mengulurkan lengannya untuk memeluk Raisa dari belakang. Dia mencari posisi nyaman.
Beberapa saat kemudian, Diki menyadari Raisa bergerak seperti tak nyaman di dalam pelukannya, akhirnya Diki bertanya di telinga Raisa, "Kamu belum tidur?"
"A–aku..." Raisa reflek menjawab, suara dan napas Diki membuatnya geli karena terlalu dekat di telinga. Raisa melepaskan diri dari Diki, lalu dia pun duduk menghadap ke arah Diki, dia nampak kikuk dan sedang mencari alasan yang tepat.
Iris mata Diki yang berwarna kecoklatan terlihat menawan. Raisa tertegun pada tatapan Diki yang memikat.
Masih jelas dalam ingatan Raisa, sikap Diki yang menakjubkan karena dia berhasil membungkam para wartawan tadi siang. Temperamennya telah berhasil menundukkan orang-orang yang ingin menindasnya. Siapapun yang melihat penampilan Diki pasti terpukau.
Ada perasaan bangga dalam diri Raisa yang telah memiliki Diki. Raisa semakin mengagumi sosok Diki dalam diam. Hatinya menghangat.
"Aku sudah melihat penampilanmu di depan publik saat wawancara tadi siang." Raisa menurunkan pandangannya, dia bertingkah malu-malu.
"Lalu?" Diki bersikap tenang dan ini terasa aneh bagi Raisa. Biasanya Diki akan memarahinya jika Raisa sudah berbuat salah.
"Aku tahu ada sesuatu yang salah pada diriku, dan aku merasa ini seperti bukan kebiasaanmu."
Diki memandang Raisa penuh kelembutan, dia sengaja mengalihkan topik, "Kata Bik Surni kamu sedang tidak enak badan, lalu bagaimana keadaanmu sekarang?" Kemudian Diki menarik Raisa agar menyandar padanya. "Tadi aku sibuk sekali jadi tidak bisa pulang cepat."
__ADS_1
Raisa dengan mudahnya ditarik oleh Diki, dia kini berada dalam pelukan Diki. Sudah sejak tadi siang, Diki ingin memeluk Raisa seperti ini. Dia memeluknya dari belakang. Punggung Raisa tepat bersandar di dadanya.
"Diki, kamu mengalihkan pembicaraanku." Raisa tidak sabar ingin mendengar penjelasan Diki dan ingin tahu apa yang sudah terjadi.
"Aku sedang malas bertengkar, aku hanya ingin bersantai dengan tenang. Kamu jangan membicarakan hal apapun. Diamlah." Kemudian Diki terdiam sejenak. Dia ingin merilekskan pikirannya. Matanya terpejam dan posisi Diki sekarang membuatnya nyaman. Aroma tubuh Raisa yang khas mampu merilekskan otaknya yang penat.
Raisa terdiam juga, dia juga menginginkan hal ini. Kehangatan Diki yang dirindukan. Suasana di kamar menjadi hening.
Tetap saja, Raisa merasa ada sesuatu yang mengganjal jika tidak membahasnya. "Diki, ada yang ingin aku katakan. Maukah kamu mendengarnya sebentar saja?"
Diki menjawabnya dengan mengangguk.
"Malam itu, aku tidak sengaja bertemu dengan Irfan. Dia membawaku keluar di saat aku hampir tidak berdaya. Setelah aku berusaha untuk sadar, aku mengancamnya agar mengantarkanku pulang ke rumah. Jadi..."
Dengan cepat, Diki menyela ucapan Raisa. "Stop!" Nada suara Diki terdengar agak marah. "Aku sudah tahu hal itu, jadi aku tidak mau mendengarnya lagi."
Raisa terkejut, Diki sudah mengetahui hal itu. 'Sejak kapan? Kenapa Diki mengatakan apapun sebelumnya?' Raisa bertanya-tanya.
----
----
Bersambung...
Note : Terima kasih atas dukungannya. Semoga author selalu diberi kesehatan agar bisa menulis dengan baik dan selalu update.
Ikuti terus kelanjutan ceritanya yang selalu bikin penasaran karena selalu ada kejutan di tiap alur ceritanya.
Tokoh2 penghalang hubungan Diki dan Raisa akan banyak bermunculan. Entah dari pihak Raisa ataupun Diki.
Happy reading.
__ADS_1