
"Cari jejak Raisa melalui GPS, terakhir dia berada di posisi mana?" Diki sudah tidak sabar. Kegelisahan merasuki pikirannya.
Rio memiliki inteligensi di atas rata-rata. Dia juga hacker berbakat dengan cepat tangannya bermain lincah di depan laptop. Untuk sekedar melacak keberadaan seseorang itu mudah baginya.
Diki dan Rio menyembunyikan identitas lainnya dari publik. Tidak ada yang bisa bermain-main dengan mereka yang memiliki keahlian khusus.
"Aku tidak akan membiarkan dia jika berani menyentuh istriku bahkan aku saja belum menyentuhnya" Diki menggeram.
Ucapannya menghentikan konsentrasi Rio yang sedang berkutat di laptop.
"Kenapa kamu berhenti?" Wajah geram Diki memudar, ia melihat ke arah Rio. Mereka berdua mematung sesaat saling menatap. Diki tidak merasa mengganggu Rio.
Sudah cukup Rio mengetahui seluk beluk Diki. Mereka berdua bromance yang jauh dari kata bergaul dengan wanita.
Ternyata sampai sudah menikah pun Diki masih belum berani dengan wanita. Rio terheran dan tak berani berkomentar.
Sebenarnya Rio lebih bisa mendekati wanita dibandingkan dengan Diki. Hanya saja karena seringnya bersama Diki melakukan pekerjaan, Rio jadi terbawa oleh Diki. Rio bertahan dengan status menjomblonya. Jam terbangnya yang tinggi.
"Maaf, Pak. Akan saya lanjutkan" pandangan Rio kembali ke depan monitor.
Rio menghela napas berharap kelak dirinya segera dipertemukan dengan jodohnya juga.
"Tentu saja harus kamu lanjutkan" Diki salah tingkah. Dia ingin menarik kata-kata tak bergunanya tadi tapi sudah terlanjur keluar.
Mereka kembali fokus ke pencarian.
"Titik ini adalah posisi terakhir Bu Raisa" jari Rio menunjukkan hasil penemuannya.
"Lokasinya sangat jauh dari pemukiman warga. Biasanya lokasi ini dipakai untuk orang-orang yang berlibur dan jauh dari keramaian. Apakah itu berada di sebuah Villa?"
Rio memperbesar gambar tampilannya. Dan memang benar sebuah rumah mewah di tengah bukit dan pepohonan.
"Di daerah sana hanya ada lima Villa dan salah satu Villa terbengkalai dan tak terurus, konon informasi yang saya dengar sudah tidak pernah dipakai lagi sejak tujuh tahun yang lalu. Tidak diketahui siapa pemiliknya, dia orang yang misterius. Menghabiskan banyak uang untuk membangun Villa tapi membiarkannya terbengkalai"
"Aku punya filling Raisa di sana" Mata tajam Diki menerawang.
"Baiklah, aku sudah siapkan mobil yang biasa kita pakai untuk bertugas. Tapi apakah kita perlu menghubungi anggota lainnya, Pak?"
"Tidak! Rahasiakan! Ini urusan kita berdua, aku tidak mau Raisa mengetahui diriku yang sebenarnya. Anggota lainnya hanya akan membuat kekacauan saja"
__ADS_1
Diki dan Rio bersiap, mereka memakai kostum serba hitam juga penutup wajahnya. Tanpa membawa senjata, mereka yakin mampu melumpuhkan musuh di tangannya.
Menghadapi bahaya sudah sangat sering mereka lalui saat menjalankan sebuah misi rahasia. Dan kini hanyalah persoalan mudah.
Revan tidak tahu siapa Diki sebenarnya. Ia mengira hanya kompetitor bisnisnya saja tidak lebih. Revan sudah mengusik beruang hibernasi.
"Kita sudah lama menjadi masyarakat biasa, terkadang keahlian kita memang dibutuhkan di kondisi tertentu" Suara gemeletuk tulang-tulang Diki, yang ia gerakkan. Otot tubuhnya terlihat semakin kencang, Diki sudah tidak sabar untuk menghajar.
"Ya, itu betul pak" Rio sepakat dengan pernyataan Diki.
*****
Raisa disekap. Betapa ia sangat ketakutan. Seluruh tubuhnya gemetar.
Kejadian yang tidak ia sangka. Tantenya sungguh tega mengorbankan Raisa. Padahal niat hati Raisa tulus untuk membantu Rian. Pamannya pun tidak bertindak apa-apa seolah sikapnya membenarkan kelakuan istrinya.
Fatma bahagia di atas penderitaan Raisa. Pengalaman ini tak kan bisa dilupakannya.
Raisa sedih sekali, airmatanya terus mengalir. Ia lemah dan hanya bisa pasrah dengan nasibnya. Kemalangannya kali ini akibat kecerobohannya yang terlalu percaya pada orang.
Ruang gelap yang tertutup, Raisa tak tahu dirinya berada di mana hanya bisa merasakan bau ruangan yang lembab.
Berteriak pun tidak bisa, sumpalan kain masih di mulutnya yang mungil. Kondisi tempatnya yang terpencil sangat kecil kemungkinan akan ditemukan oleh warga sekitar.
Wajahnya yang tampan berbanding terbalik dengan hatinya yang busuk dan penuh dengan kelicikkan. Postur tubuhnya yang tinggi dengan kakinya yang panjang, ia melangkah menghampiri Raisa. Aura kegelapan mengiringi langkahnya.
Diangkatnya dagu Raisa agar bisa melihat wajahnya dengan jelas, "Raisa, ini akibatnya jika kamu menolakku. Aku bisa lakukan apapun sesuai kehendakku"
Raisa tak bisa berkata apa-apa menatap wajah Revan tapi tak ada ketakutan terbesit di matanya. Ia semakin menantang dengan tatapan tajamnya seakan dia tidak takut dengannya meskipun jantungnya terus berdetak kencang.
"Jay, ambilkan makanan untuknya. Aku tidak mau wanitaku ini kelaparan"
"Ok, Bos"
Revan sudah bilang 'wanitaku' tak ada yang berani mengganggunya. Bahkan tidak ada satupun anak buahnya yang berani mengambil kesempatan di saat ada seorang tawanan wanita sedang tak berdaya. Jika melanggar itu sama saja cari mati.
Disodorkannya sepiring makanan yang lezat dan bergizi juga air minumnya. Walaupun Raisa tawanan Revan tapi ia diperlakukan khusus.
"Makanlah! Aku sedang berbaik hati"
__ADS_1
Revan membuka sumpalan kain di mulut Raisa tapi tidak membuka ikatan di kedua tangannya.
"Nggak!" Raisa menolak
Meski dengan tampilan yang berantakan tak melunturkan pesona Raisa. Revan semakin tertarik padanya.
"Kamu tahu, wanita di luar sana bahkan harus bertekuk lutut agar bisa dilirik oleh ku tapi kamu bertindak sebaliknya membuatku penasaran dan semakin tertantang untuk mendapatkanmu"
"Aku tidak pernah merayumu, lagipula aku ini sudah menikah. Masih banyak gadis di luar sana yang cantik"
"Aku ingin memberi suamimu pelajaran sedikit, produknya menguasai pasar dan mengalahkan produkku. Tapi ternyata ini bukan sekedar soal bisnis, aku jadi menyukai istrinya"
"Dasar baj*ngan!"
Revan tertawa keras, ia bangga dengan dirinya sendiri yang merasa sedang di atas angin.
"Lalu bagaimana dengan Rian?"
"Kamu menanyakan adik sepupumu itu? Dia sudah melenggang bebas menggantikanmu di sini. Sungguh persaudaraan yang solidaritas. Aku salut. Bahkan mereka tidak peduli dengan dirimu. Suamimu juga tak ada untuk menolongmu"
"Aku tidak takut denganmu, aku akan bisa keluar dari sini. Lihat saja!"
"Kucing kecilku yang manis ini berontak rupanya, fu...fu...fu" Revan mengejek Raisa sambil mengelus rambutnya.
Jay mendekati Revan membisikkan sesuatu, "Bos aku sudah membeli obat tidur"
"Bagus, tabur di minumannya lalu paksa ia untuk meminumnya"
Jay mengangguk menuruti perintah Revan.
Raisa melihat sesuatu ditabur di gelasnya depan matanya. Revan sengaja memperlihatkan itu pada Raisa. Melihat itu Raisa semakin dibuat ketakutan, ada sesuatu ingin dilakukan oleh Revan.
Wajah Raisa memutih, keringat dingin mulai mengucur di dahinya. Kepanikan mulai menguasai dirinya. Jantungnya terus berdetak kencang. Pikiran buruknya hinggap di kepalanya.
"Jay, paksa ia buka mulutnya untuk meminum ini!"
Raisa berontak dan ia mencoba sekuat tenaga untuk menutup mulutnya rapat-rapat.
----
__ADS_1
----
Bersambung...