
Selama perjalanan menuju rumah, perasaan Raisa tak tenang. Meskipun kemarin sudah melakukannya namun saat itu Raisa sedang diluar kendali dan tidak sadar. Kalau sekarang, Raisa benar-benar merasa malu sekali.
Ada apa dengan wajah Diki yang berseri? Raisa tidak sanggup melihatnya. Raisa menunduk, dia seolah tidak mau memikirkan hal kotor. Namun ada sesuatu yang seketika melintas di otaknya.
"Diki, aku mau tanya sesuatu."
Kemudian Diki melirik Raisa, "Yah, katakan saja!"
"Bagaimana caranya sertifikat rumah itu bisa balik nama? Setahuku, bukankah harus ada tanda tangan ahli waris? Sedangkan aku tidak merasa tanda tangan apapun." Raisa menoleh ke arah Diki dengan tatapan penasaran. Dia sangat antusias ingin tahu.
Mendengar beberapa pertanyaan Raisa, Diki pun diam sejenak, otaknya seketika berpikir. Pada awalnya tak terlintas dalam benak Diki bahwa ada sesuatu yang aneh. Saat itu dia memang tidak tahu bahwa pemilik rumah yang sebenarnya adalah orang tua Raisa. Begitu transaksi pembelian, sertifikat langsung diproses balik nama dengan mudah. Jika Raisa tidak merasa menjualnya berarti Fatma telah melakukan hal curang. Bagaimanapun juga, Raisa adalah ahli waris yang seharusnya terlibat dalam hal jual beli properti karena itu memang milik orang tuanya.
Akhirnya Diki mengerti dan dia menarik kesimpulan. "Raisa, sepertinya tantemu itu bukan orang sederhana, aku rasa dia orang yang licik dengan banyak trik." Raut wajah Diki berubah, sorot matanya tajam dan alisnya menukik. Dia tidak habis pikir, Raisa telah ditipu oleh keluarganya sendiri.
"Maksudmu?"
Entah mengapa, Diki terlihat kesal. Begitu mengetahui bahwa Raisa tidak tahu menahu soal penjualan properti milik orang tuanya sendiri. "Jika kamu merasa tidak dilibatkan dalam jual beli, berarti tantemu telah berbuat curang dan itu namanya mencuri, karena hakmu telah dijualnya tanpa sepengetahuanmu. Kamu tahu? Itu namanya melanggar hukum."
"Jadi, apakah aku harus menuntut tanteku?"
"Kalau kamu mau, kamu bisa melakukannya." Diki bicara dengan penuh penegasan.
"Sepertinya aku tidak bisa." Meski Raisa juga marah namun dia masih tidak tega.
"Aku tahu, tidak mudah bertarung dengan keluarga sendiri. Tapi untung saja dia menjualnya padaku dan ternyata kamu menikah denganku yang pada akhirnya rumah itu bisa menjadi milikmu lagi."
Raisa pun diam, dia tertegun mendengar perkataan Diki yang seakan tidak peduli ditipu dan dengan sukarela memberinya pada Raisa.
Hah?! Apakah ini mimpi?
Raisa menarik napasnya dalam-dalam, selalu saja dia takut Diki mengetahui motif awal Raisa yang ingin dinikahinya hanya untuk mendapatkan kembali rumah itu.
__ADS_1
Raisa pun menghentikan pembahasannya tentang rumah itu. Jantungnya berdetak tak karuan dan tidak bisa mengendalikannya.
Sesampainya di rumah, Bik Surni sudah menunggu mereka. Setelah bertemu Diki dan Raisa, Bik Surni pamit pulang.
Seperti sudah kebiasaan, Raisa memasak untuk makan malam.
Raisa datang membawa makanan untuk disajikan, "Aku tidak mengerti mengapa kamu tidak meminta Bik Surni untuk memasak juga."
"Aku hanya menyukai masakanmu, rasanya sangat pas di lidah." Dengan cepat Diki memberikan alasan.
Diki tidak bisa memberitahu Raisa, bahwa sejak dulu dia sangat berhati-hati dan pemilih dalam hal memakan masakan orang lain. Apalagi Bik Surni adalah ART baru, Diki selalu waspada terhadap siapapun. Dia memang terlatih seperti itu agar tidak mudah terjebak ke dalam jebakan musuh.
"Pantas saja, sejak menikah kamu sudah tidak pernah membeli nasi goreng yang mangkal di seberang jalan."
"Eh? Nasi goreng?" Sesaat Diki menghentikan suapannya.
"Iya, waktu itu kita pernah berpapasan pas awal aku datang ke kota ini, apa kamu ingat?"
Diki sedang mengingat sesuatu. "Oh...iya aku ingat. Rasanya tidak enak." Kemudian Diki melanjutkan makannya.
Diki menatap Raisa, alisnya mengerut. Dia tidak mengerti maksud Raisa dengan berlangganan, sejak kapan Diki berlanggan nasi goreng? Darimana Raisa bisa berkesimpulan seperti itu?
"Aku tidak pernah berlangganan nasi goreng." Diki berkata dengan meyakinkan, lalu dia tersentak sadar, "Tunggu, apakah saat itu kamu sedang mencari tahu?"
"Eh? Mencari tahu?" Sekali lagi, Raisa berkeringat dingin. Entah kenapa jantungnya terus berpacu, lagi-lagi Diki berhasil menganalisa sesuatu.
Diki terus memandang Raisa, tatapannya seolah sedang mencurigai Raisa. Tampilan Raisa yang hanya mengenakan piyama dan rambut panjangnya yang digelung meski sederhana namun aura wajahnya selalu bersinar di mata Diki. Leher Raisa yang indah, menarik perhatian Diki. Segera Diki membuang pikiran negatifnya tetapi ada sesuatu yang mengganjal. "Raisa, biar kutebak, kamu mengobrol dengan pedagang nasi goreng itu? Apa yang kamu cari tahu dan ketahui?"
Raisa seketika linglung, Diki terlihat sangat cerdas. "Tidak ada," ucap Raisa dengan gugup. "Pedagang itu sendiri yang bilang, kalau kamu berlangganan."
"Hanya itu?" Diki menarik alisnya. "Lain kali jangan mencari tahu tentang aku dari orang lain."
__ADS_1
Perkataan Diki membuat Raisa tercengang, Diki semakin hari terlihat seperti semakin mengetahui motif Raisa. "Aku tidak—" Raisa ingin membantah namun kenyataannya itu benar, jadi dia ragu untuk berkata selanjutnya hingga Raisa membungkam mulutnya sendiri.
Diki dengan santai menyantap makan malam. Diki dengan pintar menutupi perasaannya yang dipenuhi rasa cemas bahwa dia takut Raisa akan mengetahui identitasnya yang sebenarnya. Pedagang nasi goreng itu bukanlah orang biasa, orang itu sedang menyamar untuk mengintai seorang buronan. Maka dari itu rasa masakannya saja tidak enak menurut Diki. Diki yang sudah tahu dan mengerti dunia agen rahasia, sudah tidak asing lagi.
Saat itu Diki berpura membeli nasi goreng hanya untuk memastikan dugaannya saja, dan dia juga baru tahu ternyata pedagang itu juga sekaligus sekalian mengintai Diki atas perintah kakek. Diki tidak mungkin menceritakan adegan sebenarnya saat sebelum bertemu Raisa.
Setelah selesai makan malam Raisa menuju ke kamarnya. Ketika Raisa melangkahkan kaki, dia tidak tahu Diki mengikutinya dari belakang. Begitu Raisa berbalik menutup pintu kamar. Keberadaan Diki mengejutkannya hingga Raisa hampir melompat. "Diki? Kenapa kamu mengikutiku?"
"Bukankah kita akan melanjutkan yang sebelumnya tertunda." Diki mengingatkan Raisa. Penampilan Diki sepertinya sudah sangat siap, bahkan kancing piyamanya yang bagian atas terbuka dengan menampilkan dadanya yang seksi. Tubuh Diki yang terbentuk, begitu bagus dan menyilaukan mata hingga memandangnya saja bisa mengundang fantasi liar ke dalam otak.
Raisa berpura-pura tidak mengerti, sejujurnya dia masih gugup dan malu untuk melakukannya. "Melanjutkan apa?"
Diki mengikis jarak dengan Raisa. Tatapan matanya yang lapar tertuju pada keindahan mata Raisa yang bulat dan dihiasi kelentikan bulu mata. "Aku tidak perlu bilang jika menginginkan sesuatu, karena ini kewajibanmu untuk memenuhinya."
Raisa tahu, dia tidak boleh menolak keinginan dasar seorang suami. Jika tidak terpenuhi maka pria akan mencari pelampiasan ke tempat lain.
Begitu Diki sudah menarik pinggang Raisa dan terjatuh ke dalam pelukannya, terdengar suara handphone yang berdering. Mereka berhenti sejenak karena terganggu. "Oke, tunggu sebentar, aku keluar dulu."
Diki menjawab panggilan dari Rio, "Maaf, Pak kalau mengganggu..." Terdengar suara Rio dari seberang telepon. Diki menggaruk kesal, tentu saja Rio memang mengganggu.
"Ya, ada apa menelponku?"
----
----
Bersambung...
note : Maaf baru bisa upload.
Jangan lupa like, subscribe dan votenya yah agar author semangat menulis.
__ADS_1
PART cerita kali ini mengulas dari cerita Part ke 3, bisa dicek ulang.
Terima kasih kepada readers setia yang selalu menantikan cerita novel ini.