
Diki yang bingung karena merasa tidak membeli barang secara online, dia agak terkejut. Kemudian Diki pun mengecek paket yang tidak jelas dan nama pengirimnya pun tidak tertulis. Diki ingin menanyakan kepada si pengantar paket tetapi pria itu dengan cepat menghilang sebelum Diki mengatakannya. Dengan terpaksa dia menerima.
Bersamaan dengan datangnya paket, Raisa menerima chat yang isinya :
[Apakah paket dariku sudah sampai?]
Chat dari Irfan seketika membuat jantung Raisa berdetak kencang dan kepanikan datang menghampiri. Rupanya pagi ini, Irfan sudah melancarkan aksinya untuk mencari masalah.
Raisa menarik napas dalam-dalam dan mencoba untuk bersikap tenang.
Raisa tak berani menanyakan pada Diki, apa isi dari paket tersebut. Dia menahan diri dengan jantung yang berdegup tak terkendali dan dia berkeringat dingin. Raisa sangat gelisah.
"Siapa yang mengirim paket pagi-pagi sekali? Aku tidak merasa membeli barang secara online?" Diki bertanya sendiri, lalu beralih ke arah Raisa. "Apa paket ini milik kamu?"
"Hh?" Dengan cepat Raisa mengambil paket itu dari tangan Diki, "Sepertinya iya." Raisa tersenyum kaku lalu dia menyembunyikannya.
Diki mengabaikan paket itu dan bertindak tidak peduli. Diki yang tak mau memperpanjang urusan perihal paket tak jelas, dia langsung tancap gas.
Sementara Raisa bernapas lega, hampir saja jantungnya seakan mau melompat. Ketenangan hidupnya telah terganggu.
Selama perjalanan, Raisa tak berani membuka paket itu, dia menahan rasa penasarannya.
Begitu sudah berada di ruang kerja, Raisa secara bersembunyi untuk membuka paket itu dan ternyata setelah bungkusnya terbuka...
Benar saja tebakan Raisa, di dalamnya clucth bag miliknya yang terbungkus rapi. Kemungkinan tertinggal di mobil Irfan. Saat itu, Raisa memang sedang tidak fokus. Jadi Irfan sengaja mengirim paket itu ke rumahnya agar Diki tahu, Irfan mulai mengganggu hubungannya. Jika Diki tahu, ini bisa menyebabkan salah paham di antara Raisa dan Diki.
Handphone Raisa berdering, Irfan menelponnya. Sebelum Irfan mengeluarkan kata-kata, Raisa lebih dulu bertanya dengan ketus, "Ada apa lagi kamu menelponku?" Raisa tidak mau bersikap ramah. Dia seolah tahu bahwa Irfan akan menggunakan triknya.
"Raisa, aku sudah mengembalikan tas milikmu yang tertinggal. Apakah kamu tidak mau mengucapkan terima kasih?" tanya Irfan dengan tersirat sebuah sindiran di dalamnya.
"Makasih," jawab Raisa dengan cepat. "Jangan menggangguku lagi!"
"Padahal aku ingin kita bertemu, ada sesuatu yang ingin aku katakan langsung denganmu. Bagaimana?" Irfan mencoba bernegoisasi dengan Raisa.
"Maaf, tidak bisa. Aku sibuk." Raisa memutuskan sambungan telepon begitu saja. Dia tidak mau berurusan lagi dengan Irfan.
__ADS_1
*****
PT. GOLDEN LIFE.
Pagi ini Diki dipanggil untuk menghadiri rapat umum. Dia merasa sedikit bingung, rapat diadakan secara mendadak. Diki bersama Rio segera memasuki ruangan rapat.
Semua anggota dewan komisaris dan direksi tengah berkumpul. Ini masalah penting mengenai perusahaan.
"Pagi ini harga indeks saham menurun tajam, dan juga laporan dari tim marketing mengenai penjualan juga menurun drastis. Info yang telah didapatkan, perusahaan kompetitor kita mencoba mengambil keuntungan dari situasi ini," ucap Pak Kris, salah satu anggota direksi. Dia sedang memaparkan permasalahan di depan anggota rapat.
Diki segera mengecek hasil laporan di laptopnya. Dia agak tercengang dengan laporan grafik yang tertera, ini adalah masalah yang serius. Selama dia merintis karir, baru pertama kalinya Diki mengalami masalah krusial seperti ini. Bagi Diki, dia masih merasa janggal. Dia terus menatap ke layar monitor dalam diam namun sedang berpikir keras.
Pak Kris memanfaatkan situasi untuk menjatuhkan Diki di depan para dewan komisaris. Sudah sejak lama, dia ingin sekali menyingkirkan Diki dari posisinya. "Pak Diki, reputasi perusahaan sedang dipertaruhkan. Semua karena video viral yang beredar di semua media sosial. Itu terjadi karena berkaitan dengan Anda."
Pak Kris terus saja mengarah dan menunjuk Diki sebagai pihak yang paling bersalah.
"Maaf, aku tidak mengerti. Sebelum menjudge, lebih baik kita telusuri dulu akar permasalahannya," ucap Diki dengan datar.
Diki mencoba bersikap tenang di tengah badai menerpa. Dia menunjukkan wibawa sebagai seorang pemimpin yang cakap. Auranya memancarkan sosok pribadi yang tak terkalahkan dalam perang. Meski banyak yang menyerangnya, dia tetap berdiri di garda depan tanpa mengenal kata takut.
Rapat ini terasa memanas dan tegang. Jika tidak menggunakan kepala dingin, mungkin Diki akan tersulut, namun dia segera menyadari bahwa melawan mereka akan membuang tenaga dan pikiran. Mereka hanya mengedepankan emosi.
"Apakah itu akan menyentuh dalam tahap delisting?" salah satu anggota bertanya tetapi terdengar seolah memprovokasi.
"Ya ampun, berarti sudah sangat gawat." Anggota lainnya turut menimpali.
Beberapa di antaranya yang satu kubu juga ikut menambah suasana semakin memanas. Mereka sengaja melakukannya.
Saat ini, para pemegang saham sedang ketar ketir menghadapi penurun indeks saham yang signifikan dan mereka cemas bahwa reputasi perusahaanlah yang memengaruhi itu.
Di tengah kegelisahan para anggota, di sinilah Pak Kris bertindak memainkan perannya dengan mendramatisir keadaan. "Lihatlah, kekecewaan mereka, Pak Diki! Aku turut prihatin, bahwa ini adalah masalah yang sangat serius."
Di tengah rapat yang ricuh, seketika berubah hening saat pintu dibuka. Seseorang dengan langkah elegan namun mengerikan datang memasuki ruangan dengan ditemani satu orang assistant di belakangnya.
Orang muncul itu adalah Bu Lidia. Orang yang memancarkan sosok seorang wanita tegas, keras dan paling disegani di perusahaan.
__ADS_1
Semua anggota dibuat terdiam, mereka membisu menahan mulut yang mengoceh. Ketakutan menyelimuti kulit, mereka tahu bahwa satu kata terdengar tidak enak, Bu Lidia akan bertindak tegas untuk menyingkirkannya seperti seekor semut.
Mereka menyambut dengan hormat kedatangan Bu Lidia.
Meski mereka semua para pemegang saham namun pemilik saham terbesar adalah Bu Lidia jadi mereka hanya bisa sedikit menggertak Diki. Sebenarnya mereka masih agak segan karena Diki adalah putra Bu Lidia.
Ketika berbisnis sosok Bu Lidia akan terlihat berbeda, dia yang secara naluri sebagai ibu akan hangat jika di rumah namun ketika di perusahaan, Bu Lidia akan menunjukkan taringnya. Dia tidak mau dianggap remeh hanya karena seorang wanita paruh baya.
Belum juga Bu Lidia mengeluarkan suara, mereka yang berkumpul di ruang rapat tidak berkutik karena takut.
Kehadiran Bu Lidia yang dengan cepat menenangkan para dewan yang terus mengoceh, situasi yang menguntungkan Diki. Kemudian Diki mengambil alih untuk membuka suara, "Aku akan segera menyelesaikan masalah ini, dan aku akan bertanggungjawab jika masalah yang terjadi berkaitan denganku."
Setelah mengatakan itu, mereka seolah tersihir dan hanya menggangguk menurut. Pengaruh kehadiran Bu Lidia sangat besar ternyata.
Setelah rapat selesai, Bu Lidia meminta Diki untuk berbicara berdua dengannya.
"Pagi ini, mama dikejutkan oleh sebuah video cctv yang tengah viral. Kamu tahu itu apa?"
----
----
Bersambung...
Note :
Maaf baru update.
Jangan lupa selalu dukung author untuk terus melanjutkan kisah ini karena masih akan panjang.
Konflik mulai banyak bermunculan.
Walaupun judulnya : Merebut rumah warisan, jangan berharap isinya akan seperti drama rumah tangga, maklum author kebanyakan nonton drama luar jadinya isinya yah begini. Maaf ya, 😁
Karena tema yang diambil adalah pembalasan istri maka nanti akan ada begitu isinya tapi baru mau bangun konfliknya dulu, bagaimanapun harus ada sebab dan akibat saat menulis sebuah alur ceritanya.
__ADS_1
Akan ada banyak kejutan yang tidak bisa ditebak di tiap alur cerita per bab nya yang bikin penasaran.
Happy reading.