
"Bagaimana malam pertama mu?" goda Bu Linda pada Diki hingga membuat Diki mengernyit.
"Maksud mama apaan? Aku nggak ngerti. Semalam aku tidur nyenyak"
"Oh, mungkin kamu kecapean yah. Nggak apa-apa bisa dilakukan di lain hari" Bu Linda senyam senyum. Ia tidak sabar ingin memiliki cucu. Rumahnya pasti akan terasa ramai.
"Mama aneh" Diki melengos kembali ke kamarnya, ia mendapati Raisa masih belum selesai juga beberes.
"Masih lama?" tanya Diki merengut.
"Iya, sebentar. Barang yang harus dibawa banyak sekali dan tanganku cuma dua. Kamu jangan bisanya cuma ngomong doang bantuin dong!"
"Hmm..." Diki membantu Raisa.
Hari ini Raisa dan Diki berencana pulang ke rumah Diki. Dia tidak kerasan meski itu rumah orang tuanya sendiri. Diki yang terbiasa mandiri lebih betah tinggal di rumahnya sendiri.
"Kalian kok buru-buru aja, kenapa nggak ditunda besok lagi gitu. Dua atau tiga hari lagi di sini, kan nggak apa-apa. Mama nggak keberatan malah senang ada kalian di sini"
"Aku nggak mau kelamaan ninggalin kerjaan aku mah,"
"Ya sudah, mama nggak bisa maksa kalau itu keinginan kalian" Bu Linda berat hati. Dia akan kesepian jadinya.
"Tapi aku nggak bisa pamit sama Papa. Kalau nunggu Papa kelamaan. Mama sampein aja salamku, ya mah?!"
"Iya, tapi sering-sering lho kalian maen ke rumah"
Raisa dan Diki mengangguk bersama. Bu Linda membantu membawa barang bawaan Raisa dan Diki ke dalam mobil.
"Aku pamit, ya mah" Diki menyalim tangan Bu Linda dan diikuti Raisa di belakangnya.
Dalam perjalanan, wajah sumringah Raisa terpancar. Dirinya sudah tidak sabar kembali ke rumahnya yang dulu.
"Kenapa kamu senyam senyum sendiri?" Rupanya Diki yang mengendarai jadi tidak fokus.
"Kamu memerhatikan aku, bukankah kamu sedang menyetir"
"Kamu itu berpendar"
"Berpendar? Bukannya bersinar?"
"Artinya meski aku tidak menginginkannya tetap saja tertangkap di mataku"
"Apa?" Raisa tak mengerti dengan ucapan Diki.
__ADS_1
CIIIITTT....
Seketika Diki mengerem mendadak, hampir saja menyenggol mobil di depannya. Diki dan Raisa yang tubuhnya condong bersamaan tertahan oleh safety belt.
"Ada apa?"
"Entahlah mobil di depan berhenti mendadak" Diki membuka safety belt lalu berniat turun untuk mengecek. "Sebentar, aku cek dulu"
Di saat bersamaan seorang pria juga turun dari mobilnya.
"Apakah ada masalah? Tiba-tiba mobilmu berhenti mendadak hampir saja aku menyenggol mobilmu" Diki langsung bertanya.
"Maaf, aku nggak sengaja. Sepertinya mobilku memang ada masalah. Mogok kayaknya" Pria itu menggaruk kepalanya sambil memeriksa mobilnya juga.
"Lebih baik telpon jasa derek mobil" saran Diki
"Boleh juga" Pria itu menyetujui ide Diki, karena saat mengecek ada sesuatu yang terbakar. Mobilnya mengeluarkan asap.
Pria itu langsung menelpon saat itu juga dikejutkan oleh kemunculan Raisa yang keluar dari mobil.
"Gimana, apa ada yang penyok?" Suara Raisa membuat pria itu berbalik lalu membeku melihatnya begitu juga dengan Raisa. Suatu keterkejutan pertemuan mereka. Mereka saling berpandangan hingga Diki heran melihatnya.
"Raisa?" Ucap Pria itu terpaku. Dia yang tidak menyangka akan bertemu Raisa.
"Nggak ada apa-apa sih, cuma hampir saja menyenggol untuk rem mobilku pakem" jawab Diki, mata melirik sana kemari ke arah pria itu dan Raisa.
Pria itu mengejar Raisa dan menghampirinya, "Tunggu Raisa, aku mau bicara. Keluarlah sebentar!" Pria itu mengedor pintu mobil tapi tak digubris Raisa.
Diki bengong menyaksikan itu, di sini ia nampak orang bodoh yang dicuekin.
"Kamu siapa?" Diki heran melihat pria itu seakan mengenal Raisa. Alisnya mengerut.
"Kamu juga siapa? Kenapa Raisa bersamamu?" tanyanya balik.
"Cepatlah masuk!" Raisa memanggil Diki, ia tidak mau bertemu pria itu. Bisa nambah masalah. Raisa terkesan menghindarinya.
"Raisa! Raisa!" Teriak pria itu lagi dibalik pintu mobil. Raisa tetap cuek tapi hatinya tak karuan.
Diki mendekati pria itu, ada semburat wajahnya yang tidak senang. Karena sungguh tidak sopan tingkahnya itu.
"Maaf, aku tidak mengenal anda jadi jangan ganggu dia. Lagipula tidak ada masalah di antara kita, mobilku juga tidak menyenggolmu" Diki kesal pertanyaan tadi tidak dijawabnya. Lalu tangannya menarik tubuh pria itu untuk menyingkir.
"Hei, bung. Tolong katakan pada Raisa aku ingin bicara dengannya penting"
__ADS_1
Diki tersenyum smirk, dirinya tak percaya diperintah begitu saja oleh orang tak dikenal. Pria itu memaksa sekali sedangkan Raisa tidak mau. Sepertinya Diki perlu mempertegas statusnya. Ia seakan diremehkan, Diki tidak mau harga dirinya jatuh.
"Jangan ganggu istriku!" Gertak Diki.
Pria itu langsung terdiam. Dia masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan Diki. Pria itu mematung dengan pandangan kosongnya yang mengarah ke Diki.
Diki meninggalkannya lalu masuk ke dalam mobil. Secepatnya dia tancap gas. Seketika moodnya berubah, entah kenapa Diki merasa sangat kesal.
"Aku nggak mau tau kehidupan pribadimu apalagi jika kamu punya masalah hingga mengusikku" tegas Diki. Meski dia bicara begitu tetapi benaknya penasaran siapa pria itu yang sudah mengenal Raisa. Diki gengsi untuk menanyakannya langsung.
Raisa paham ucapan Diki. Niat hati ingin menjelaskan. Karena bagaimanapun juga status mereka sudah menikah jadi alangkah baiknya tidak ada rahasia di antara mereka. Di sini Raisa gundah sebab dia merasa bersalah jika harus menutupinya dari Diki.
"Dia itu Irfan mantan pacarku" lirih Raisa.
Diki menatap tajam ke depan, tak sekalipun ia melirik ke Raisa. "Aku nggak mau dengar" Nadanya terdengar emosi.
"Tapi kamu harus tau biar nggak salah paham. Maaf aku belum cerita" Raisa takut-takut.
"Apa jangan-jangan kamu masih punya hubungan dengannya?" selidik Diki yang curiga karena melihat tingkah Irfan yang terus ngotot.
"Nggak"
"Kamu nggak bohong, kan?"
"Nggak dong, aku serius. Dia udah selingkuh dariku untuk apa aku masih berhubungan dengan pria seperti itu"
"Dengar yah baik-baik aku nggak suka kamu menyebut nama pria lain di depanku meski kita nikah karena terpaksa tapi aku dan keluargaku punya nama baik. Jadi jangan pernah macam-macam di belakangku, tingkahmu akan tersorot dan itu berimbas pada keluargaku"
"Iya, aku ngerti" Raisa menunduk.
"Baru juga kita nikah, sudah ada masalah" Diki mendengus.
Raisa juga tidak tahu bisa bertemu dengan Irfan, suatu kebetulan yang tidak bisa diprediksi. Raisa pikir selamanya dia tidak akan bertemu lagi dengan Irfan tapi dia muncul seolah ini ujian bagi Raisa yang baru menempuh mahligai rumah tangga.
Padahal Raisa sudah menghapus jejaknya agar Irfan tidak mencarinya. Raisa heran kenapa Irfan bisa searah dengannya.
Raisa membuang pikirannya yang terus bertanya-tanya tentang pertemuannya dengan Irfan. Mulai saat ini Raisa tidak mau membiarkan Irfan masuk dalam pikirannya lagi, Raisa sudah tidak peduli lagi dengannya.
"Kamu cemburu?" tanya Raisa
"Eh???"
----
__ADS_1
----
Bersambung...