MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 8. ARISAN


__ADS_3

Raisa telah kembali dari urusannya, ia juga sudah resign dari perusahaan sebelumnya dan mulai besok bekerja di perusahaan baru. Raisa harap perlahan bisa melupakan Irfan. Semua yang berhubungan dengan Irfan ia blokir. Raisa membuka lembaran baru. Tujuannya tetap rumah warisan orang tuanya.


Hari minggu ini, Raisa tak lupa memenuhi undangan untuk datang ke rumah orang tua Diki. Ia segera meluncur saat Bu Lidia men-chatnya dan mengshare lokasi rumah Bu Lidia.


"Assalamualaikum" Raisa mengucapkan salam saat masih berdiri depan pintu rumah Bu Lidia.


"Wa'alaikumussalam" jawab Bu Lidia dari dalam dan langsung menyambut kedatangan Raisa."Ayo, silahkan masuk!"


Raisa melangkah mengikuti Bu Lidia. Raisa diperkenalkan Bu Lidia pada suaminya Pak Bambang Sanjaya, "Ini lho pah calon mantu kita, namanya Raisa" ujar Bu Lidia depan suaminya.


"Calon mantu? Maksudnya dia pacar Diki? Tapi kok Diki nggak pernah cerita" tanya Pak Bambang heran lalu ia mempersilahkan Raisa untuk duduk.


"Ah anak itu emang nggak jelas isi kepalanya. Suka menyembunyikan sesuatu, padahal kan kita udah nggak sabar pengen punya mantu biar Diki ada yang nemenin, kasian dia tinggal sendiri di sana."


"Maaf Tante, kalo boleh tahu kenapa Diki tinggal sendiri? Apa nggak punya ART?"


"Dia itu selalu melakukan semuanya sendiri, sebagai anak semata wayang Tante, sebenernya Tante khawatir tapi dia nggak mau karena kesannya seperti anak yang dimanjain katanya"


"Oh..." Raisa tertegun mendengarnya tentang Diki, dia pria yang mandiri.


"Raisa, mau bantu Tante bikin hidangan buat ibu-ibu arisan, nggak? Nanti siang acaranya, yah sekalian mau memperkenalkan kamu pada yang lain"


"Boleh Tante"


"Lho kok udah disuruh bantuin. Baru juga datang" celetuk Pak Bambang yang masih ingin mengobrol dengan Raisa karena ingin tahu seluk beluknya.


"Ngga apa-apa, Om"


"Raisa pintar masak Pah, tau nggak dia pernah bikinin bekal buat anak kita. Perhatian banget kan. Pasti masakannya enak. Mama juga kan pengen ada yang bantu. Soalnya kita nggak punya anak perempuan"


"Ya udah iya..." Pak Bambang mengalah


"Ayo, Raisa!"


"Baik Tante" Raisa nurut dan mengikuti langkah Bu Lidia ke dapurnya yang luas.

__ADS_1


Setiap sebulan sekali Bu Lidia mengadakan arisan ibu-ibu dan kini giliran rumahnya yang jadi tempat berkumpulnya. Terpancar ceria dari raut wajah Bu Lidia, baru ini ada yang membantunya biarpun sekedar membuat hidangan. Betapa senang perasaannya, sudah lama Bu Lidia mendambakan seorang anak perempuan. Dia hanya memiliki satu anak lelaki yang susah sekali mencari pasangan dan sekalinya dapat Raisa ternyata dia masuk dalam kriteria Bu Lidia.


Raisa pun sudah lama tidak merasakan kasih sayang seorang ibu, ia juga sudah hidup sendiri sejak Ibunya meninggal. Keberadaan Bu Lidia membuat Raisa jadi teringat ibunya sendiri. Perasaan Raisa mulai menghangat. Tanpa sadar Raisa semakin terbawa masuk ke dalam kehidupan keluarga Diki.


"Nah, itu mereka sudah pada datang. Tante ke depan dulu yah Raisa menyambut kedatangan mereka"


"Iya, Tante. Aku masih di sini dulu belum selesai menata hidangan ini di meja makan"


Semua tamu Bu Lidia berkumpul di ruang tengah yang berbatasan dengan ruang makan, suasana jadi meriah banyak ibu-ibu berkumpul. Suaranya memenuhi ruangan.


Salah satu dari mereka tak sengaja melihat Raisa yang sibuk menata hidangan lalu ia yang penasaran bertanya pada Bu Lidia," Wah dia ini siapa, Lid?"


"Iya, aku baru liat" sahut yang lainnya


Bu Lidia menoleh sambil tertawa, "Oh dia itu calon"


"Maksudnya calon? Calon mantu?" tebak teman Bu Lidia


Bu Lidia mengangguk


"Hehehe... iya, anakku udah punya pilihannya sendiri sih"


"Omong-omong kapan acaranya digelar?"


"Acara apa maksudnya?" Bu Lidia tidak mengerti


"Acara resepsi pernikahan anakmu lho"


"Ohohoho...kirain apaan, yah pasti secepatnya donk, iya kan Raisa" wajah Bu Lidia mengarah ke Raisa dan Raisa tak menjawab hanya menyengir.


Dalam benak Raisa, ia tidak menyangka akan secepat itu usahanya berjalan mulus seperti tidak menemukan hambatan. Dia tidak bisa membayangkan jika yang akan jadi pendamping Diki nanti adalah orang lain bukan dia, sudah pasti rumah itu akan terlepas begitu saja dari genggamannya. Raisa tidak akan membiarkan itu terjadi, meski sulit menaklukkan Diki tetapi orang tua Diki sudah berada di pihak Raisa.


Acara arisan di rumah Bu Lidia telah usai tapi Raisa belum pulang, ia masih bantu-bantu Bu Lidia beberes. Sementara Pak Bambang menelpon Diki dan menyuruhnya pulang ke rumah, ia ingin dengar langsung masalah hubungannya dengan Raisa.


Diki sedikit terkejut mendengar dari Pak Bambang Raisa ada di rumahnya sekarang. Raisa benar-benar telah berani ke rumah orang tuanya. "Apa gertakanku yang tempo hari tidak ada artinya?" Diki mendesis. Setelah beberapa hari tidak melihat batang hidung Raisa, Diki kira Raisa sudah pergi jauh ternyata masih ada di kota ini.

__ADS_1


Tiba-tiba Diki muncul saat Pak Bambang dan Bu Lidia sedang berbincang. "Assalamualaikum, Pah Mah"


"Wa'alaikumussalam" jawab Pak Bambang dan Bu Lidia serempak.


"Lho mana Raisa? Katanya Raisa ada di sini?" Tanpa basa basi Diki langsung menanyakan Raisa karena ia tidak melihat keberadaan Raisa.


"Dia sudah pulang" jawab Bu Lidia dan menyuruh anaknya untuk duduk karena suatu hal penting yang ingin dibicarakan.


"Kenapa pulang, tadi papa menyuruhku ke sini karena ada Raisa"


"Mamamu menyuruhnya pulang katanya kasian dari pagi bantuin mama di dapur" ucap Pak Bambang


"Iya, kasian takut capek besok kan dia harus kerja"


"Sebenarnya ini ada apa sih, aku nggak ngerti. Ngapain dia ke sini? Kan udah aku bilang jangan ajak dia ke rumah"


"Kamu ini yang kenapa?" Pak Bambang menyolot.


"Maksud papa? Jadi kenapa malah aku yang ditanya?"


"Papa mu pengen tahu sejak kapan kamu menjalin hubungan dengan Raisa kok harus dirahasiakan segala. Mama dan papa tadi udah ngobrolin masalah kamu, secepatnya kita harus melamar Raisa sebelum keduluan orang lain. Mama pengen Raisa jadi mantu mama, teman-teman arisan mama sudah pada tahu"


"Aduh, kenapa bisa begini. Mama dan Papa nggak tahu masalahnya jangan memutuskan seenaknya aja tanpa persetujuanku. Aku nggak mau nikah dengan Raisa titik"


"Diki! Kenapa kamu tidak mau menikahi Raisa? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan? Kalau hubungan agak renggang karena ribut-ribut kecil itu mah biasa dalam sebuah jalinan asmara tapi kalau kamu jadi arogan begini, hanya pengen ngasih harapan doank tanpa kepastian papa nggak suka. Bukan pria sejati namanya" Pak Bambang kesal dengan Diki. Ternyata benar yang diceritakan Bu Lidia pada Pak Bambang setelah mendengar penuturan Diki yang terkesan hanya ingin bermain-main saja.


"Bukan itu, pah. Aku tuh sama dia sebenarnya..." belum selesai Diki bicara sudah dipotong saja sama celetukan Bu Lidia


"Kalau kamu sampai nggak nikah dengan Raisa, ingat mama juga punya andil dalam saham perusahaanmu" Bu Lidia mengancam Dicky sambil berlalu meninggalkannya dan masuk ke kamarnya dengan wajah cemberut.


"Mah! Dengerin aku dulu. Pah!" Kedua orang tua Diki mendiamkannya dan meninggalkannya sendiri.


'Raisa lagi...Raisa lagi...Awas kau yah, malam ini aku samper ke rumahmu' gejolak emosi di dada mulai meluap-luap. Diki sudah tak sabar ingin menghampiri Raisa langsung.


 

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2