
Raisa tak bisa lagi menutupi itu jika mereka saja sudah mengetahuinya.
"Be-betul..." jawab Raisa.
"Raisa, Tante tau selama ini kita menghilang dari hadapan kamu bukan tanpa alasan tapi karena kondisi kita sedang tidak baik-baik saja" Fatma mulai mengeluarkan airmata palsunya.
Dengan mengesampingkan masalah ini, sebenarnya Raisa ingin bertanya beberapa hal tentang yang terjadi di masa lalu tapi sepertinya ini bukan kesempatan yang tepat.
Raisa melihat pamannya hanya terdiam. Seorang pemimpin keluarga yang lemah di mata Raisa. Pamannya nampak berbeda.
Anton tak banyak bicara karena ia sudah diingatkan sebelumnya oleh Fatma untuk diam dan ikuti kemauannya. Dia suami penakut yang penurut. Dengan dalih demi anaknya.
"Aku tidak akan mengungkit masa lalu, yang aku cemaskan adalah Rian, trus bagaimana kabar Rian selanjutnya, Tante?"
"Dia sudah dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Jadi tolonglah Rian!" Fatma menangis tersedu-sedu. "Malam ini dia menginap di sana, betapa itu menyakitkan hati tante"
"Tante tenang saja dulu, aku akan berusaha mengurusnya"
"Tidak... aku tidak bisa tenang sebelum Rian pulang ke rumah. Kamu tahu kan di sana tempatnya tidak nyaman"
Raisa belum menentukan sikapnya yang masih terkendala ijin dari Diki. Bahkan ia pun belum berani menceritakan masalahnya pada Diki. Raisa masih takut.
"Satu-satunya cara agar dia terbebas dengan mudah, kamu harus menemui Revan"
"Revan? Tante sudah bertemu dengannya?"
Di belakang Raisa, rupanya Fatma sudah membuat kesepakatan dengan Revan. Itu ide Revan yang memanfaatkan situasi. Fatma mengira Rian masih ditahan.
Tanpa mereka semua tahu, Diki melangkah lebih cepat untuk membuat kesepakatan agar Rian bebas. Yang Diki temui adalah orang tua Devin. Diki tahu apa yang harus dia lakukan menghadapi keluarga Prasetyo. Tak ada yang berani menyentuh nama besar keluarga Sanjaya apalagi untuk sekelas level keluarga Prasetyo yang masih jauh di bawahnya. Itu mudah bagi Diki Sanjaya.
"Ya, dia ingin kamu ke sana sekarang. Tolonglah Tante, Raisa! Hanya kamu yang bisa tante andalkan. Kumohon!" Fatma terus mendesak Raisa. Ia yang tahu karakter Raisa, pasti mudah untuk ditangani.
Raisa menggigit bibirnya, perlu waktu untuk berpikir. Di satu sisi ia enggan bertemu Revan lagi tapi di sisi lain tak ada pilihan demi menyelamatkan Rian.
Raisa ingat, Revan bukanlah pria baik. Haruskah ia kembali ke sana setelah apa yang sudah dialaminya kemarin. Raisa bingung karena terlalu beresiko baginya. Bagaimana dengan Diki, Raisa yakin Diki tak kan mengijinkannya.
"Apa tidak ada jalan lain? Kita buat kesepakatan dengan keluarganya lagi. Jika masalah uang, aku akan usahakan untuk jaminan Rian"
__ADS_1
"Tidak ada, itu permintaan mereka, Raisa. Tegakah kamu melihat Rian tak berdaya di sana? Makan dan tidur dengan tidak nyaman"
Fatma tahu kelemahan Raisa yang sangat menyayangi Rian.
"Aku akan pikirkan lagi, soalnya aku perlu ijin dengan suamiku. Dia akan marah jika aku keluar tanpa ijinnya"
Ini berat bagi Raisa untuk memenuhi permintaan Fatma yang beresiko.
"Ayolah, Raisa. Tante yakin Diki akan mengijinkannya. Kemarin tante sudah bertemu dengannya dan dia bilang tidak masalah jika suatu saat tante meminta bantuanmu" bujuk Fatma. Dia sengaja berbohong demi memuluskan keinginannya, ia rela mengorbankan Raisa.
"Jadi Diki sudah tahu?" Raisa heran kenapa Diki menutupi ini dari Raisa. Kalau dia sudah tahu seharusnya Raisa tak perlu repot-repot merahasiakan jadi tak ada kesalahpahaman yang muncul di antara mereka.
"Ya, dia bilang urusan keluargamu jauh lebih penting"
"Tante yakin dia bilang begitu?" Raisa masih merasa janggal.
"Tentu saja, jadi bagaimana Raisa? Cepat putuskan sekarang juga, Tante yang akan menemanimu bertemu dengan Revan"
Setelah Fatma bilang dia akan menemani Raisa, di situ Raisa yakin tidak akan terjadi masalah. Toh, tantenya mendampinginya jadi apa yang perlu ditakutkan.
"Terima kasih ya Raisa, kamu benar-benar anak yang baik hati"
"Paman..." Raisa menoleh ke arah pamannya berharap pamannya mengatakan sesuatu padanya. Nyatanya tak ada sepatah katapun yang terucap. Dia hanya melebarkan senyumannya dan mengelus rambut Raisa.
"Beri aku waktu, aku ingin memasak sebentar untuk suamiku"
"Ya, akan tante tunggu" Fatma dan Anton menunggu Raisa.
****
Rian yang sudah berada di rumah tak bisa menghubungi Fatma dan Anton karena ponselnya ada di dalam rumah sedangkan rumahnya terkunci menandakan tidak ada orang di dalamnya. Jadi Rian menunggu di teras rumah sampai orang tuanya pulang.
Selang beberapa waktu...
Masakan selesai Raisa buat, ia berganti pakaian dan ikut bersama Fatma dan Anton untuk menemui Revan. Tak ada kecurigaan di pikiran Raisa. Ia terlalu percaya akan aman bersama tante dan pamannya.
Raisa tidak menghubungi Diki, Fatma terus menyakinkan Raisa bahwa ia sudah meminta ijin jadi Raisa dilarang untuk menelpon Diki. Raisa mengikuti saran Fatma.
__ADS_1
Fatma dan Anton hanya mengantar sampai gerbang lalu setelah itu meninggalkan Raisa sendiri. Raisa bingung, ia seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
Di sana Revan bertepuk tangan, menganggap rencananya berhasil membawa Raisa dengan mudah.
Kali ini Raisa merasa dijebak. Pantas sejak awal, Raisa merasa ganjil dengan tingkah tantenya yang terus memaksa menemui Revan bukan orang tua Devin. Juga Raisa tidak diijinkan untuk menelpon Diki.
"Kalian jahat!" Raisa berteriak, dia tak berdaya menghadapi para pria berbadan kekar. Raisa diikat dan disumpal mulutnya. Ia dibawa ke sebuah rumah kosong yang gelap.
Sementara setelah mengantar Raisa tanpa merasa bersalah Fatma bersama Anton pulang. Lalu, betapa bahagianya Fatma melihat Rian benar-benar ada di rumahnya. Fatma menduga ini berkat Revan sudah membebaskan Rian. Keputusan mengorbankan Raisa bagi Fatma itu tidak sia-sia. Fatma egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri.
Sesampainya Diki di rumah, ia heran melihat rumahnya yang sepi. Ia masuk dan terus memanggil Raisa tapi tak ada sahutan dari Raisa. Ketika ia melangkah ke dapur, di meja makan sudah tersaji makanan untuknya dan itu masih hangat. Diki kira Raisa sedang keluar sebentar karena pintu tidak terkunci.
Kenapa begitu lama Raisa tidak muncul bahkan Diki sudah menghabiskan makannya dan selesai mandi. Diki mencurigai sesuatu yang aneh. Ia mencoba menelpon Raisa tapi tak aktif.
Saat itu juga ia marah, dilemparnya piring di atas meja makan. Diki begitu emosi, Raisa mengabaikan sarannya. Padahal ia sudah memperingatkan Raisa untuk selalu menelponnya.
Diki menelpon Rio, dia harus mencari Raisa.
"Rio, kau dimana? Segera temui aku sekarang!"
"Siap, Pak. Aku meluncur sekarang juga"
"Aku gerah selama ini berusaha menjadi orang biasa. Kita tunjukkan kemampuan kita sebenarnya yang pernah masuk ke dalam agen rahasia sebab kini istriku menghilang!"
Urat lehernya yang menonjol, wajahnya yang merah padam dengan tangannya yang mengepal kuat. Diki tidak mampu membendung gejolak amarahnya.
----
----
Bersambung...
Jangan lupa like, favorit dan komentarnya yah!
biar author semangat
terima kasih
__ADS_1