MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 45. SIKAP RAISA


__ADS_3

Raut wajah Vera berubah muram, dia jadi kesal dengan tingkah Raisa. Seketika Vera mengubah mimik wajahnya, "Padahal aku hanya ingin mengenalkan diriku padanya, aku kan belum mengenal dia tapi kamu terlihat tidak menyukaiku padahal dulu kita berteman baik"


'Hah, Berteman baik? Sejak kapan?' umpat Raisa dalam hati. Sial! Reputasinya dijatuhkan Vera agar terlihat buruk bahwa Raisa bukan teman yang baik padahal Veralah yang munafik.


"Kamu tidak boleh kasar dengan temanmu sendiri" Diki mengingatkan Raisa. Ia tahu mood Raisa sedang tidak baik sejak makan siang tadi, tapi yang Diki tidak habis pikir kenapa Raisa melampiaskan emosinya pada temannya juga. "Padahal kamu baru saja bertemu setelah sekian lama" lanjut Diki.


Vera makin besar kepala mendengar perkataan Diki. Senyum sumringah memenuhi wajahnya.


Raisa tercengang, dia tidak menduga bahwa Diki membela Vera di depannya, itu malah semakin menambah kekesalan di hatinya. Dan Vera akan semakin di atas angin.


Untung Raisa segera menutupi seragam kerjanya jadi Vera tidak menambah menjatuhkan Raisa dengan memandang rendah karena Raisa seorang karyawan biasa sedangkan dia statusnya sama dengan Diki. Itu bisa menambah keangkuhan sikap Vera di depan Raisa


Kemudian dengan cepat Raisa membalikkan situasi, ia meng*cup pipi Diki di depan Vera. "Suamiku, karena tadi kamu sudah mentraktirku makan siang di restoran high class maka aku minta maaf dan berjanji akan jadi istri yang baik" nada genit dan manja keluar dari bibir Raisa.


Di luar dugaan, Raisa bertindak begitu berani bahkan di tempat umum. Yang bisa Diki lakukan adalah diam.


Tubuh Diki bergetar, belum pernah ia merasakannya. Sesuatu menelusup masuk ke dalam jiwanya. Entah mengapa Diki merasa Raisa yang bermanja-manja terlihat begitu manis di matanya.


Di sudut hati Raisa, ia berusaha membanggakan dirinya sendiri dengan memiliki suami tampan dan kaya seperti Diki di depan Vera. Ia juga tidak mau kalah dengan Vera.


Vera terkejut mendapati pengakuan Raisa yang diajak makan di sebuah restoran high class tentu itu membuat hatinya panas apalagi dengan seorang pria tampan seperti Diki yang telah menarik perhatiannya.


"Ja-jadi dia suamimu?" Vera ternganga. "Aku pikir temanmu. Tapi tidak ada salahnya kan sekedar memperkenalkan diri sebagai seorang teman?" Vera bertingkah tidak tahu malu.


'Ya ampun, Vera ini emang bener-bener deh sengaja bikin rusuh, dia tidak lihat bagaimana aku menggandeng lengannya dengan sengaja?' Raisa mendengus kesal dalam hati.


"Maaf, ya. Suamiku sibuk jadi kita tidak bisa berlama-lama bicara di pinggir jalan begini karena tidak etis"

__ADS_1


Sudut bibir Vera berkedut, "Oh... baiklah kalau begitu, tapi jangan lupa untuk datang yah?!" Lalu Vera mengedipkan matanya. Dan langsung Raisa menatapnya tajam. Di akhir pertemuannya, Vera tetap terlihat menyebalkan.


Sepanjang jalan menuju parkir, Raisa cemberut. Dia sedang tidak mau diganggu. Diki jadi serba salah, dia berjalan mengikuti Raisa di belakangnya.


Di sini Diki sebagai seorang pria bingung bagaimana dia harus bersikap menghadapi wanita yang terkadang moodnya mudah berubah dalam sekejap. Ini merupakan pengalaman pertamanya menjalin sebuah hubungan dengan seorang wanita.


Upaya Raisa yang ingin mendapatkan kembali rumah warisan sepertinya akan menemui banyak rintangan karena sang pemilik alias Diki belum sepenuhnya dalam kendali Raisa. Kali ini Raisa berjanji akan meneguhkan posisinya sebagai istri Diki dan tak akan membiarkan Diki terpikat wanita lain. Raisa menggeram dalam hati.


Sampai saat ini bahkan Raisa belum mengetahui isi hati Diki apakah Diki sudah memiliki perasaan mendalam terhadap Raisa atau belum? Raisa belum bisa memastikannya. Sikap Diki begitu plin plan. Kemarin Emilia sekarang Vera nanti siapa lagi yang akan bersaing? Raisa jadi pusing memikirkannya.


Diki melirik ke arah Raisa yang masih membisu. Ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Raisa. Diki kehilangan kata-kata.


Sesampainya di kantor, Raisa belum juga mau bicara. Diki tetap menemaninya sampai ke ruangan.


"Kenapa kamu mengikutiku? Kan perusahaanmu bukan ini" Raisa menoleh ke arah Diki.


Raisa menyerah, dia tidak peduli dan masuk ke ruangannya lalu meninggalkan Diki.


Diki menemui Haris di ruangan. Kedatangan Diki mengejutkan Haris, "Loh kamu sudah kembali, aku kira kamu akan menghabiskan waktu yang lama bersama istrimu" ejek Haris.


"Ah...semua berjalan dengan buruk. Aku benar-benar tidak memahami wanita" keluh Diki lalu duduk dan bersandar di sofa. Dia jauh lebih frustasi menghadapi Raisa dibanding dengan masalah perusahaannya. Perasaannya bercampur aduk.


"Apakah terjadi sesuatu? Sepertinya kamu mengalami masalah, ceritakan padaku, aku akan memberimu solusi yang terbaik" Haris berjalan mendekati Diki dan duduk menghadapnya.


"Mengapa wanita sangat cepat berubah moodnya? Tadi dia senang setelah itu kembali muram lalu dia juga mengejutkan dan membuat suasana hatiku membaik tapi dalam sekejap juga dia berubah marah. Menurutmu bagaimana aku harus menghadapinya?"


Sebelum menjawab Haris terkekeh mendengar sahabatnya bercerita.

__ADS_1


"Berhentilah tertawa, tidak ada yang lucu" Diki berubah kesal, ia sudah menebaknya Haris akan menganggapnya lelucon.


"Boleh aku bertanya, apakah kamu sudah berbuat salah sebelumnya?"


"Aku rasa tidak ada" Diki menjawab cepat tanpa berpikir dulu.


"Begitulah kita para pria, terkadang kita tidak menyadari berbuat salah yang menyebabkan seorang wanita akan marah. Wanita lebih perasa sedangkan kita bertindak sesuai apa yang kita pikirkan tanpa menggunakan perasaan"


Diki terdiam sejenak, masih belum mencerna maksud Haris. Dia merasa tidak ada yang salah dengan sikapnya pada Raisa. Pertama, dia mengajaknya makan di restoran high class bukankah itu suatu kebanggaan bagi seorang wanita karena diperlakukan istimewa. Kedua, Diki berencana mengajaknya lagi makan di restoran yang sama harusnya Raisa senang. Ketiga, dia juga bersikap baik dengan temannya Raisa agar terkesan dia pria baik. Dimana letak salahnya? Diki tidak mengerti.


"Sudahlah aku tidak mau membahasnya lagi membuatku tambah pusing"


"Untuk menjaga hubungan yang baik dengan pasangan adalah sering menjaga komunikasi agar tidak ada salah paham, karena apa, karena isi otak kita tidak sama dengan isi otak pasangan kita. Jadi saranku sering-seringlah berbicara berdua itu akan meningkatkan kualitas hubungan kalian"


"Iya aku tahu. Lagipula aku juga tidak menyukainya jadi aku tidak mau bersusah payah"


"Sampai saat ini kamu masih malu mengakuinya, pria macam apa dirimu" Haris tahu karakter Diki yang malu mengakui perasaannya sendiri.


Terdengar suara ketukan pintu ruangan Haris. "Siapa?" tanya Haris yang kemudian menghentikan obrolannya dengan Diki.


"Raisa, Pak"


Mata Haris berbinar, pas sekali momennya. "Masuklah!" titah Haris. Dia jadi bersemangat, ada bahan untuk jadi ledekannya. Lalu dia berbisik sedikit ke arah Diki, "Lihat, istrimu datang kemari pas sekali baru saja kamu membicarakannya"


----


----

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2