MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 72. RENCANA LICIK


__ADS_3

"Aku menginginkan Diki," ucap Vera secara terbuka. Vera menunjukkan sifat aslinya, si rubah licik.


Revan tersenyum lebar, dia semakin menyukai partner licik seperti Vera. Selain berpura-pura menjadi tunangan yang mencintai, Vera bahkan memberinya kebebasan menjalin hubungan dengan wanita manapun. "Kamu ingin merusak hubungan mereka?"


"Ya... hanya ingin memiliki seseorang yang aku inginkan tanpa harus menjalin sebuah hubungan."


"Kau ingin menjadikan Diki simpananmu, dengan dalih membantuku agar Raisa menjadi wanitaku, begitu maksudmu?" Revan mengangkat alisnya sebelah, lalu Revan tertawa seolah mencemooh Vera, "Aku bisa melakukannya sendiri tanpa merendahkan diri untuk meminta bantuanmu." sambung Revan dengan angkuh. Dia memiliki harga diri tinggi.


Vera berwajah kesal, dia pun menatap Revan dengan serius, "Kamu tidak ingat bagaimana kita bekerjasama demi kelancaran bisnis keluarga besar kita? Jangan sombong! Jelas kau membutuhkanku dan kita tidak bisa mengakhiri hubungan pura-pura ini." Vera tidak suka diremehkan, tatapannya menyorot tajam. "Selama kita bisa saling menguntungkan, apa salahnya kita juga saling membantu demi kesenangan masing-masing. Kau bebas bergaul dengan wanita lain begitu juga aku."


Setelah Revan pikir, jika dia ingin menuntaskan obsesinya pada Raisa setidaknya dia perlu menyingkirkan Diki. Satu-satunya cara adalah menerima bantuan Vera. Lagi pula, Diki adalah saingannya dalam bisnis. Ini seperti dua tiga pula terlampaui, merebut wanita Diki sekaligus menjatuhkan bisnis Diki. Revan pun membuat keputusan, "Oke, aku setuju," Lalu bertanya, "Katakan apa idemu?"


Vera membisikkan sesuatu ke telinga Revan hingga Revan tersenyum. "Aku suka idemu..."


Mereka berdua memiliki raut wajah yang sama, senyum mengerikan mengembang di bibir.


*****


Di tengah keramaian pesta yang banyak dihadiri oleh kalangan pengusaha, tidak sengaja Raisa melihat Haris, dia sedikit terkejut lalu menyapa, "Pak Haris?"


Haris menoleh ke arah Raisa, "Eh Raisa? Kau juga diundang rupanya?" Nampak Haris tengah menggandeng tangan istrinya. Mereka mengenakan warna senada dan terlihat couple yang serasi.


"Iya, Pak. Vera adalah teman sekolahku dulu." Kemudian Raisa teringat pernah sekali bertemu dengan istri Haris, Raisa pun juga menyapanya dan tersenyum. "Selamat malam, Bu Haris."


"Selamat malam juga," Istri Haris membalas senyuman juga, dia bertingkah segan. Istri Haris juga mengingat pertemuan pertama dengan Raisa, dia masih malu karena terlalu mencurigai Raisa.


Haris mengerti suasana agak canggung di antara mereka. Demi menutupi martabat istrinya, Haris mencoba mencairkan suasana. "Oh ya, bagaimana kondisimu? Maaf, aku belum menjenguk kamu eh malah ketemu di sini. Kerjaan menumpuk di kantor."


"Iya, Pak. Aku sudah agak mendingan sih. Besok kayaknya baru bisa masuk kerja."

__ADS_1


"Jangan terlalu dipaksakan, istirahatlah lagi, kalau belum sehat betul." Haris merinding membayangkan wajah Diki jika marah karena Raisa–istri kesayangan Diki–dipaksa bekerja.


Raisa tertawa merasa konyol, "Tenang, saja Pak."


"Suamimu mana? Kamu sendirian datang ke pesta ini?" Haris celingak celinguk, mencari Diki.


"Dia tidak datang karena sibuk ada keperluan."


Karena asyik berbincang dengan Raisa, Haris tak sengaja menyenggol sedikit lengan seorang pria. Haris yang sadar membalikkan tubuhnya.


Seorang pria muncul dari belakang Haris, dengan penampilan elegan dan berkelas, saat berjalan pria itu memancarkan aura temperamen dengan gaya yang angkuh seolah dia satu-satunya pria yang memukau di pesta dan semua mata tertuju padanya. Semua orang sudah mengenal pria itu.


Yang mengejutkan Raisa adalah wanita yang bersama pria itu, "Emilia?" bisik Raisa karena tidak berani menyapa secara terbuka, Raisa merasa agak sungkan. Namun ada sedikit berbeda pada wanita yang Raisa kira Emilia, dia terlihat anggun dan lembut tetapi sorot matanya tersirat dia wanita yang memiliki karakter rumit. Wanita itu jelas memancarkan aura kesombongan dalam senyumannya. Raisa merasa aneh. Emilia yang pernah dia temui belakangan ini, terlihat humble dan jujur pada sorot matanya. Rasanya Emilia terlihat sangat berbeda.


Begitu sepasang itu melewati, orang-orang dibuat menunduk dan menghormati yang menggambarkan bahwa pasangan itu memiliki identitas luar biasa. Haris pun segera meminta maaf karena lengannya tak sengaja menyenggol.


Berbeda dengan Raisa yang belum mengenal jauh, dia bersikap biasa saja. Pandangan Raisa hanya memerhatikan wanita yang dia kira Emilia. Rasia dipenuhi pikirannya sendiri, dia sedikit lega. 'Mungkin benar Diki tidak memiliki hubungan khusus dengan Emilia, buktinya wanita itu bergandengan dengan pria lain. Sepertinya aku memang salah paham,' gumam Raisa.


"Siapa pria itu, Pak?" Raisa sedikit berbisik pada Haris, dia penasaran. "Pria itu terlihat sangat terhormat," sambung Raisa.


"Namanya Kevin Rubianto, anak dari seorang pemilik perusahaan besar yang bergerak di industri makanan dan minuman–PT. Delicious Food. Sayangnya dia tidak mengikuti jejak ayahnya, dia lebih memilih berkarir di politik." ucap Haris menjelaskan dengan nada rendah. "Sedangkan wanita di sampingnya adalah..." Suara Haris makin tenggelam oleh suara speaker dari pembawa acara sehingga Raisa tidak mendengarnya jelas. Lagi pula Raisa merasa sudah tahu siapa wanita itu, jadi Raisa tidak peduli.


Sedangkan Rio yang berada di samping Raisa, merasakan perutnya tidak enak. Dia pun ijin pada Raisa untuk ke toilet. Padahal Rio tidak memakan apapun tadi, hanya minum seteguk air putih. Rio yang selalu waspada, akan selalu berhati-hati saat minum dan makan di tempat manapun. Rio sudah terlatih untuk tidak mudah terjebak namun sayangnya kali ini dia memang terjebak. Rio merasa perutnya mulas hingga membuat Rio mondar mandir ke toilet. Apa ada yang salah dengan segelas air putih? Rio tak habis pikir.


Setelah acara pembukaan dan sambutan dari Vera, semua para tamu dipersilakan untuk menikmati jamuan pesta dan bersenang-senang. Musik yang dilantunkan dari musisi terkenal mengalun merdu dan menambah suasana pesta semakin meriah.


Raisa berniat pulang, dia merasa kecewa karena tak ada satupun teman dekat sekolahnya yang datang. Ini pasti ulah Vera yang memaksanya datang, Raisa jadi kesal. Untung saja, Raisa tidak mengajak Diki. Vera hanya pamer dan mengambil kesempatan untuk mendekati Diki meski ada Raisa. Wanita ular seperti Vera sangat mudah ditebak oleh Raisa.


Raisa masih menunggu Rio, dia tidak bisa pulang sendiri.

__ADS_1


"Raisa, apa kamu tidak menyukai hidangan di sini? Aku lihat dari tadi kamu tidak makan dan minum dan hanya berdiam diri." Vera datang menghampiri Raisa.


"Tidak, terima kasih. Ehm, Vera... maaf aku tidak bisa berlama-lama di sini, aku harus pulang sekarang."


"Kenapa kamu buru-buru sekali? Padahal acara baru saja dimulai loh. Santailah sebentar."


"Maaf ini sudah malam,"


Vera pun akhirnya tidak bisa memaksa Raisa, "Ya sudah, tapi iciplah sedikit makanan di sini,"


"Baiklah." Karena merasa tidak enak, Raisa pun mencicipi hidangan itu. Setelah mencobanya, memang enak dan lezat, Raisa menyukai cita rasanya. Ini pasti buatan cheff terkenal.


Vera menyeringai ketika melihat Raisa memakan makanan yang sudah dia beri obat afrodisiak.


----


----


Bersambung...


Notes :


Jangan lupa like, vote dan subscribe yah, agar author semangat menulis.


Maaf kalau ceritanya merembet ke kisah agen rahasia melawan mafia tapi tenang aja alurnya masih berkaitan kok.


Terima kasih


Di bawah ini hanya ilustrasi :

__ADS_1



__ADS_2