MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 42. MASALAH PERUSAHAAN


__ADS_3

Rio yang melihat wajah muramnya Diki, ia bergumam dalam hati, 'seharusnya anda lampiaskan saja, Pak? Tak perlu menyiksa diri menahannya sampai harus berobat ke rumah sakit'


Rio tak percaya, masih ada pria yang mau mempertahankan dirinya dari godaan wanita meski itu istrinya sendiri? Hah!


"Apa kamu sudah mendapat informasi mengenai kabar perusahaan pagi ini? Aku butuh untuk mendengar kabar terbaru" Ucapan Diki menghentakan lamunan Rio.


Rio langsung tersadar, "Belum ada. Pak Haris masih menangani mencari penggantinya"


Diki segera berdiri dan memanggil perawat. Ia ingin segera pulang.


"Anda mau kemana, Pak?"


"Aku harus menyelesaikan masalah ini, jika aku di sini terus bisa berdampak pada perusahaanku"


"Tapi..." Rio gagal menghentikan Diki yang keras kepala. Dia pun mengejar Diki dengan langkahnya yang cepat.


"Sebelum ke kantor, antar aku ke rumah dulu. Aku mau berganti pakaian"


Rio hanya menurut patuh lalu mengantar Diki ke rumahnya.


Setelah berganti pakaian, Diki merasa perutnya keroncongan. Ketika Ia melangkah keluar tak sengaja pandangannya teralihkan ke notes yang tertempel di pintu. Itu mengingatkannya pada pertengkaran mereka sebelumnya. Jika mereka bertengkar dan tak ada komunikasi maka alternatifnya Raisa berkomunikasi lewat notes.


Aku sudah memasak untukmu jika kamu lapar kamu bisa memakannya by Raisa. Kurang lebih itulah yang tertulis. Walau itu hanya tulisan, terbayang di benak Diki, Raisa berkata dengan lembut. Tersungging senyuman di bibir Diki.


"Apa ini semacam permintaan maaf dari Raisa?setelah menyiksaku dengan membuat minuman aneh itu," Bibir Diki melengkung, suasana hatinya jadi membaik.


Diki memanggil Rio untuk makan dulu bersamanya sebelum berangkat ke kantor.


Masakan Raisa sangat lezat, lidah Diki jadi terbiasa dengan masakan buatan Raisa. Nafsu makannya jadi bertambah. Rio yang ikut makan merasakannya juga. Mereka berdua menikmati makanannya.


"Pasti menyenangkan memiliki seorang istri, ada yang memasakan untuk kita para pria. Aku jadi ingin cepat menikah, Pak"


Entah itu pujian atau apa, ucapan Rio membuat Diki termenung sejenak. Bahwa memang benar ia merasa menjadi lebih hidup, di rumahnya terasa berwarna. Apakah ini akan membuat Diki lebih betah di rumah dan kemungkinan akan mengurangi kegiatan di luar rumah di waktu yang akan datang?


"Segera carilah pendamping hidup kalau begitu, aku tidak akan membiarkan istriku memasak untukmu juga" sarkasme terdengar dari ucapan Diki. Masakan Raisa harus menjadi istimewa dan hanya diperuntukkan Diki seorang.


Rio ternganga, 'Memangnya ini salah siapa? Aku jadi tidak punya waktu berkencan. Anda selalu memanggilku di setiap waktu yang tidak diduga' Rio menghela napas.


"Tentu, aku akan mencarinya dalam waktu dekat" Rio cemberut.

__ADS_1


Padahal sebelumnya siapa yang tidak menginginkan sebuah pernikahan? Diki tidak sadar dengan dirinya sendiri.


Selesai makan bersama, Diki dan Rio menuju kantor dengan segera. Ada beberapa masalah yang terjadi kemarin.


"Rio, pulanglah! Aku tau kamu belum istirahat karena aku. Biar aku yang selesaikan ini, besok kamu bisa membantuku lagi"


Ini yang jadi alasan Rio masih betah bekerja dengan Diki, meski dari luar terlihat kejam dan otoriter sebenarnya dia bos yang baik dan penuh pengertian tapi Diki jarang menunjukkannya dengan jelas hanya Rio yang memahaminya.


"Terima kasih, Pak" Rio hanya mengantar Diki sama gerbang lalu berbalik pulang. Memang benar, ia perlu istirahat setelah banyak kejadian yang terjadi belakangan ini hingga menguras tenaganya. Bahkan memar di tangannya belum sepenuhnya pulih, ia jadi teringat ucapan Emilia yang mengetahui tangannya memar karena perkelahian.


Kemudiam Diki berniat menelpon Haris memastikan perkembangannya dalam mencari perusahaan yang kompeten untuk diajak bekerja sama.


****


Di lain tempat, Irfan sangat menunggu kabar dari Raisa. Ia berharap Raisa datang padanya dan meminta bantuannya. Sungguh cinta Irfan yang licik, ia bukan orang yang sederhana.


Dan sayang sekali Raisa juga bukan tipe wanita yang tidak bisa berpikir jernih.


Karena tingkah Irfan yang tidak sabaran, ia memutuskan menelpon Raisa. "Raisa, apa kamu tidak tahu apa yang terjadi? Aku pikir kamu akan menemuiku"


"Jangan mimpi! Aku masih bisa mencari pengganti secepatnya. Banyak kandidat perusahaan lainnya yang juga kompeten selain perusahaanmu"


"Tentu saja,"


"Wah...wah...kamu sangat percaya diri sekali" Irfan terkekeh.


"Kepercayaan diriku lah yang menjadikanku kuat"


"Yah, setidaknya kamu perlu usaha yang keras untuk mendapatkan hasilnya"


"Hentikan, aku tidak mau berurusan lagi denganmu" Raisa dengan kesal langsung memutuskan sambungan telepon.


Raisa melangkah pergi ke bagian procurement department sebelum pada akhirnya dia bertemu dengan Diki secara tidak sengaja. Di sampingnya juga ada Haris. Mereka menatap bersamaan.


Mereka seperti telah selesai rapat membahas permasalahan yang terjadi, Raisa terlambat datang.


Ada gejolak yang masih menganjal di hati Raisa, ia memilih memalingkan wajahnya dari Diki dengan menunduk.


Segera Haris berinisiatif memecah ketegangan di antara Raisa dan Diki yang keduanya saling diam tak menyapa, Haris mengerti mungkin mereka tidak ingin hubungannya diketahui oleh orang banyak. "Ehm...Raisa, aku baru saja selesai rapat internal. Kamu ke sini ada perlu apa?"

__ADS_1


"Sa-saya mau ketemu Pak Jaka bagian procurement department head"


Pak Jaka dari balik Diki muncul lalu bertanya, "Iya, Bu Raisa ada perlu apa?"


Diki berdehem, Haris mengerti kode yang diberikan Diki.


"Tapi Pak Jaka sedang ada perlu denganku, nanti setelah selesai aku akan mempersilahkannya" celetuk Haris.


Kaki Haris menginjak kaki Pak Jaka yang membuatnya heran lalu mengikuti arahan Haris, "Itu betul, aku mau membahas sesuatu pada Pak Haris dulu"


"Oh gitu...baiklah" Raut kecewa muncul di wajah Raisa. Tak lama ponselnya terdengar bunyi notice, rupanya ia mendapat chat dari Diki [Kita perlu bicara sebentar, kita bicara di ruangan rapat yang kosong]


[Ya] Raisa langsung membalas lalu mengikuti langkah kaki Diki di belakangnya agar tidak terlihat mencolok.


Di Ruangan...


"Kamu bekerja di sini?"


"Begitulah"


Diki menatap lurus ke arah Raisa, ada banyak hal yang ingin dibahasnya tapi kondisi tempat dan waktu yang tidak memungkinkan jadi ia hanya bicara intinya saja. "Apa kamu tahu, perusahaanku bekerja sama dengan Haris? Dia atasanmu kan?"


"Iya, Pak Haris memang atasanku tapi aku tidak tahu kalau bekerja sama denganmu. Terus apa lagi yang ingin kamu ketahui?" Dalam hati Raisa masih kesal melihat wajah Diki karena semalam dia tidak pulang setelah menci*mnya begitu saja.


"Baguslah, berarti kamu tahu sesuatu tentang mantan pacarmu itu yang membuat masalah?"


"Tapi itu tidak hubungannya denganku"


Setelah mendengar jawaban Raisa, Diki terdiam sesaat. Ada pikiran yang melintas di wajahnya yang tidak bisa digambarkan.


"Ok, makan siang denganku nanti, aku tidak bisa membahas ini di sini"


Semakin Diki memandang wajah Raisa seketika otaknya memutar memori yang mengingatkannya akan kejadian semalam. Diki ingat apa yang sudah ia lakukan pada Raisa. Rasa itu terasa masih melekat hingga sekarang. Kecanggungan menyelimuti sikapnya.


----


----


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2