MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 85. TRIK RAISA


__ADS_3

Raisa bisa merasakan ada sesuatu pada Diki. Apakah ini tentang Irfan? Terlintas pertanyaan dalam benak, yang membuatnya bergidik.


"Aku memintamu untuk berhenti bekerja." Diki berkata dengan tegas.


Raisa tercengang mendengar permintaan Diki yang tiba-tiba. Dia masih belum tahu alasan yang mendasarinya. "Kenapa?" Raisa bertanya dengan polos. Pancaran matanya menyiratkan sedikit kegelisahan. Perasaannya mengatakan, dia akan mendengar berita buruk.


"Bagaimanapun kamu sebagai istri harus mematuhi keinginan suami. Aku tidak suka kamu berkarir dan jarang ada di rumah." Diki berkata dengan ketus.


Masih terlintas ingatan tentang video viral di benak Diki yang berisi Raisa dengan Irfan. Jika bukan karena tatapan mata Raisa yang indah dan menawan yang membuat Diki luluh, mungkin Diki hampir ingin mencekiknya. Dia marah, Raisa masih saja bertemu dengan mantan kekasihnya.


"Aku tidak mengerti. Ini terlalu tiba-tiba. Aku masih ingin berkarir demi masa depanku." Raisa butuh penjelasan, dia masih kebingungan. Diki tak mengatakan apapun yang berkaitan dengan Irfan. Apa ini ada hubungannya dengan Irfan atau bukan?


"Apa masih belum cukup nafkah dariku? Aku pikir aku bisa memberikan semuanya yang kamu mau bahkan itu tanpa harus meminta dariku. Aku hanya ingin kepatuhanmu." Mata Diki yang menyorot tajam, membuat Raisa mengerti. Diki sedang kesal padanya.


Raisa pernah mendengar dari orang lain, jika pria memiliki perasaan mendalam dan dia sedang cemburu maka pria akan mengeluarkan sifat posesifnya.


Raisa tidak berani mengucapkan nama Irfan, dia hanya bisa menerka dalam pikirannya.


Raisa yang masih terus menatap mata Diki, mencoba untuk meraba pikiran Diki karena mata akan mengatakan isi hati pemiliknya melalui sorotnya.


Raisa menarik napas panjang dan sekuat hati berusaha memberanikan dirinya untuk bertanya, "Apakah kamu sedang cemburu?"


Diki tak mau menjawab pertanyaan Raisa. Kemudian Diki menarik Raisa hingga terjatuh dipelukannya. Diki berbisik pada Raisa, "Sebenarnya aku ingin sekali menghukummu, tetapi hari ini aku sedang lelah. Jangan pernah memainkan perasaan seorang pria, aku tidak akan pernah memaafkanmu."


Dipenuhi rasa emosi di dalam dada karena kesal bercampur cemburu. Diki sudah memikirkan matang-matang sebelumnya, dia berencana akan mengurung Raisa sebisa mungkin. Baginya itu hukuman untuk Raisa sekaligus kedamaiannya. Diki akan tenang jika Raisa tidak keluar rumah, sudah dipastikan Raisa tidak akan bertemu dengan Irfan di berbagai kesempatan.


Tangan Diki yang melingkar dan memeluk erat Raisa membuat Raisa hampir tidak diberi ruang untuk napas. Raisa seakan bisa merasakan rasa panas hati Diki. Dia hanya bisa berkata dengan pelan, "Maaf, kalau aku salah." Raisa mencoba meredakan emosi Diki.


Meskipun Raisa baru mengarungi bahtera rumah tangga, tetapi dia selalu mempelajari sesuatu entah dari buku, nonton drama atau bahkan mendengar wejangan dari para sesepuh. Dia diberi tahu sebuah trik, bahwa menaklukan emosi pria adalah dengan memberinya kehangatan di ranjang.

__ADS_1


Untuk tetap mempertahankan sebuah hubungan dan mencegah pertengkaran yang berlarut-larut, sepertinya malam ini Raisa mencoba trik itu. Tidak ada salahnya untuk merayu Diki. Raisa tersenyum licik.


Raisa mencoba memberikan ciuman panas yang menggelora. Tangan Raisa mulai menjelajah dada Diki, dan perlahan kemeja Diki terbuka oleh jemari lentik Raisa yang nakal. Diki bersikap lugu, seperti tidak tahu trik Raisa, dia langsung terbuai dan hanyut merasakan asmara yang menggebu. Sentuhan Raisa sungguh menggetarkan. Raisa jadi berani untuk bertingkah liar demi meredakan emosi Diki.


Malam ini mereka melupakan pertengkaran dan ketegangan di antara mereka. Kini mereka saling memberikan kepuasan satu sama lainnya.


Hingga pagi menyambut, Raisa seolah tersadar betapa bodohnya tindakan dia semalam. Diki tetap tidak mengijinkannya untuk kerja, Diki bersikeras dengan keputusannya.


Dengan senyuman nakal, Diki berkata, "Kamu kira dengan rayuanmu semalam akan membuatku membatalkan keputusanku. Bermimpilah!" Jari Diki menarik dagu Raisa dan menatapnya dengan menggoda. Ketegasan dari pancaran wajah Diki seakan menggambarkan dia tidak mudah untuk dirayu.


Diki memang pria yang keras kepala. Trik Raisa ternyata dibaca oleh Diki tanpa Raisa sadari. Raisa pun kesal, Diki memanfaatkannya dengan baik. "Diki...!" Wajah Raisa memerah, betapa pagi ini dia sangat malu sekali. Raisa bahkan menurunkan rasa gengsinya demi memuaskan Diki tetapi apa yang didapat Raisa hanyalah sia-sia.


Diki membalikkan tubuhnya dan mengunci pergerakan Raisa di ranjang. Dengan senyumannya yang menawan, Diki menggoda Raisa. "Trikmu menguntungkanku, Raisa." Kemudian Diki beranjak, dengan tertawa puas penuh kemenangan seolah terdengar sedang mengejek Raisa.


"Aku belum mau berhenti kerja, kenapa kamu harus mengurungku di rumah? Ini membuatku jenuh." Raisa merajuk mengikuti langkah Diki di belakangnya. Diki terus berjalan, mengabaikan ocehan Raisa.


Ketika mereka sibuk berdebat, Bik Surni datang dan kehadirannya mampu menghentikan pertengkaran mereka.


"Pagi." Keduanya kompak menjawab.


Diki yang melihat waktu di jam tangannya, segera bersiap untuk berangkat kerja. Sekali lagi dia memperingatkan Raisa. "Aku tidak akan mengijinkanmu keluar rumah. Sekali saja kamu melanggar, kamu akan tahu konsekuensinya."


"Kamu tidak bisa seenaknya saja, itu bukan perusahaanmu."


Bik Surni hanya bisa diam. Mereka kembali saling beradu mulut hingga melupakan kehadiran Bik Surni.


"Diamlah! Kita tidak pantas bertengkar di depan orang lain." Diki kemudian tersadar.


Raisa mengatup bibirnya dengan spontan. "Tetapi..." Raisa belum bisa melepaskan begitu saja karir yang sudah dirintisnya.

__ADS_1


"Kamu pikir aku tidak bisa mengakuisisi perusahaan sahabatku itu?" Ucapan Diki seakan sedang menunjukkan kekuatannya bahwa dia tidak bisa dibantah. "Jangan menyulut emosiku lagi!"


Sebelum melangkah kaki keluar rumah, Diki memberi perintah pada Bik Surni untuk mengawasi Raisa.


Diki pergi dengan menunjukkan punggung seorang pria yang tegas dan kejam.


Raisa pun menghubungi Haris untuk meminta cuti, hari ini dia tidak masuk kerja. Raisa tidak akan mengatakan apapun mengenai rencana resignnya. Di luar dugaan, Haris mengijinkan, dia bilang kalau Diki sudah lebih dulu menelponnya sebelum Raisa. Karena tidak mau memperpanjang percakapannya, Raisa segera mengakhiri sambungan teleponnya.


Bik Surni melihat wajah Raisa yang sedikit pucat sedang duduk melamun, "Maaf, apa Nyonya sedang sakit?"


"Pagi ini, kepalaku pusing sekali. Apa karena habis bertengkar yah? Perutku juga mual." Raisa memegang perutnya dan rasanya dia ingin muntah tetapi tidak bisa.


Bik Surni mencemaskan Raisa, "Bagaimana kalau berobat ke dokter? Nanti saya temani."


"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Mungkin hanya kelelahan. Aku ke kamar dulu ya, Bik." Raisa berjalan dengan gontai.


"Em... iya, Nyonya."


Tak lama, Bik Surni mendengar suara Raisa muntah-muntah di kamar mandi. Sebelumnya, Bik Surni sudah menawarkan makanan yang sehat dan juga lezat tetapi Raisa menolaknya, dia bilang tidak nafsu makan.


Karena Raisa tidak mau makan membuat Bik Surni mencemaskan kondisinya. Bik Surni yang tidak tega melihat Raisa, dia mencoba menelpon Diki. Sebelumnya Bik Surni sudah diberi nomor handphone Diki, jika sewaktu-waktu Raisa nekat kabut dari rumah, bisa menghubunginya. Tetapi ini bukan karena Raisa kabur.


----


----


Bersambung...


Note : Terima kasih atas dukungannya, doakan yah semoga author selalu sehat agar bisa menulis dan memikirkan alur cerita selanjutnya.

__ADS_1


Ikuti terus kelanjutan ceritanya, karena akan ada banyak alur cerita yang mengejutkan dan tidak disangka2 agar tidak bosan.


Happy reading


__ADS_2