MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 48. KAMAR BOCOR


__ADS_3

Di dalam mobil...


Hati Raisa tak puas jadi dia terus membahasnya. "Aku tidak mau kamu memaksaku melakukannya bersamamu hanya karena kamu habis meminum minuman itu"


"Apa kamu berencana melakukannya dengan pria lain?"


"Hei! Aku tidak begitu" Raisa membantah dengan cepat. 'Apakah Diki sudah lupa, aku juga berkontribusi mencari supplier pengganti perusahaan Irfan? Itu membuktikan bahwa hubunganku jauh lebih penting. Haruskah aku menjelaskannya lagi?' Raisa membatin.


"Baguslah, aku ini suamimu. Terlepas dari aku minum atau tidak minum minuman itu, apa salah aku meminta hakku?" Diki bicara tidak tahu malu. Biasanya Diki dengan tegas tidak mau bersinggungan dengan Raisa sejak awal tapi kini sikapnya jadi terang-terangan menunjukkan Diki mulai tertarik pada Raisa.


"Kamu meminta hakmu? Apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan kamu mulai tertarik padaku?"


"Berhentilah banyak bertanya seakan kamu tidak menyukaiku. Aku malas bertengkar denganmu. Sejak kita menikah selalu saja ada pertengkaran kecil di antara kita. Aku bosan dan ingin berdamai, Ok?!"


Raisa terdiam, dalam hati dia menyetujui ucapan Diki. Jika Raisa terus menerus bertengkar dengan Diki, kapan dia akan mendapatkan kembali rumah warisannya. Bukankah rencana awal Raisa ingin menaklukkan Diki? Tapi kenapa Raisa melupakan hal itu.


"Baiklah, nanti aku akan memasak untukmu" Raisa melunak secara tiba-tiba.


Diki menarik sudut bibirnya.


Sesampainya di rumah setelah berganti pakaian dan mandi, Raisa menyibukkan diri dengan memasak di dapur.


Aroma wangi makanan menguar ke udara hingga tercium oleh hidung Diki. Harumnya menggugah selera makan hingga membuat perut Diki keroncongan. Diki pun berjalan ke dapur, dia melihat Raisa yang tengah memasak seakan perasaan memenuhi isi dadanya.


Tidak ada yang lebih menyenangkan selain melihat seseorang berada di rumahnya hingga membuat suasana rumah terasa lebih hidup dibanding saat Diki hidup sendiri.


Ternyata saat Raisa memasak terlihat cantik juga, Diki baru menyadarinya. Dia belum pernah memerhatikan Raisa yang memasak dengan memakai celemek seolah Raisa memang ahlinya. Begini rasanya memiliki seorang istri, rumahnya yang kosong jadi terasa berwarna sejak kehadiran Raisa meski mereka sering meributkan hal sepele.


Hati Diki terasa damai. Ia jadi betah duduk berlama-lama sambil terus memandang Raisa dari meja makan yang letaknya tak jauh.


Masakan pun siap disajikan kemudian Raisa membawa makanan ke meja makan. Di sana sudah ada Diki yang menunggu. Kini mereka makan bersama dan menikmatinya. Betapa suasana berubah terasa menyenangkan ketika mereka berdua jadi rukun dan damai.

__ADS_1


Diki tak pernah bosan menyantap makanan yang dimasak Raisa. Itu benar-benar telah jadi selera lidahnya yang tak bisa digantikan oleh masakan siapapun. Raisa sangat ahli membuat Diki menyukai masakannya.


Setelah makan dan menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya, Raisa pergi ke kamarnya.


Diki sedikit kecewa, awalnya dia masih ingin berlama-lama dengan Raisa seperti mengobrol tapi melihat tingkah Raisa, Diki mengurungkan niatnya menahan Raisa. Dia paham mungkin Raisa lelah dan ingin beristirahat.


Sementara di luar suara petir bergemuruh saling bersahutan. Hujan lebat mengguyur. Di dalam kamar, Raisa sudah tertidur sampai keningnya terasa basah oleh tetesan air yang membuatnya terbangun. Raisa duduk lalu mendongak mengikuti arah aliran air yang menetes. Wah, kamar Raisa ternyata bocor.


Raisa mengambil tempat untuk menampung tetesan air, rupanya bukan cuma satu titik yang bocor tapi ada beberapa titik. Sudah bisa dipastikan Raisa tidak akan bisa tidur di kamarnya sekarang apalagi hujan masih turun dengan deras.


Raisa tahu rumah ini memang sudah tua, apa Diki lupa mengecek dan merenov atasnya yang mungkin saja sudah lapuk. Karena Raisa tak mau berpikir terlalu lama akhirnya ia memutuskan keluar kamar dan mengetuk pintu kamar Diki.


"Ada apa?" Diki bertanya setelah membuka pintu kamarnya.


"Kamarku bocor tepat di atas ranjang, aku jadi tidak bisa tidur." Raisa membawa selimut dan bantal di tangannya.


Melihat itu Diki langsung mengerti, "Baiklah, kamu ingin tidur denganku, iya kan? Kebetulan kamarku tidak bocor"


"Sayang sekali, itu sudah jadi ruang kerjaku. Kamu akan merasa pengap tidur di sana karena penuh dengan tumpukan buku"


"Tidak masalah daripada harus satu ranjang denganmu"


"Ya ampun, kamu sangat bersikeras menghindariku sekarang. Siapa yang dulu sangat terobsesi menikah denganku? Dari sekian banyak wanita yang berusaha mendekatiku, kamu yang paling aku curigai memiliki motif"


Raisa terdiam, dia tahu Diki adalah pria cerdas jadi tidak mudah untuk dibodohi. Raisa merasa harus waspada untuk menutupi motifnya yang menginginkan rumah warisan ini.


Meskipun awalnya Raisa memang memiliki motif tetapi seiring waktu kebersamaannya dengan Diki membuat perasaannya telah menghangat. Dia malu sekaligus belum mengetahui perasaan Diki padanya hingga Raisa berpikir apa tidak masalah memiliki anak? Sementara di antara mereka belum tumbuh perasaan yang mendalam. Bagaimana mereka akan mengurus anak bersama jika itu terjadi?


"Masalahnya aku belum bisa melayanimu sekarang karena sedang kedatangan tamu bulanan"


"Dasar, otakmu kotor. Siapa yang minta kamu untuk melayaniku?"

__ADS_1


"Oh...aku pikir kamu sangat tidak tahan ingin dibelai oleh wanita seperti diriku." Suara Raisa terdengar centil.


Wajah Diki makin memerah, Raisa terlihat sedang memancingnya. Terlintas dalam benaknya, Raisa dengan genit dan manja tidur di sampingnya sambil membelainya. Sontak, Diki menepis pikiran konyol itu yang membuat tubuhnya seketika menjadi panas. "Cukup, aku akan memberimu kunci kamar itu. Tunggu sebentar aku ambil dulu"


Raisa tersenyum setelah Diki memberikan kunci kamar di tangannya. "Makasih" ucap Raisa lalu ia berbalik dan melangkah ke kamar yang satu lagi.


Selang beberapa menit, Raisa kembali mengetuk pintu kamar Diki.


"Di sana ada kecoa terus lampunya agak meredup sepertinya akan mati. Aku takut," jelas Raisa dan nampak wajah Raisa memucat karena ketakutan.


"Aku lupa belum mengganti lampunya, mungkin besok kalau sempat"


"Trus aku harus tidur dimana? Kamu tidak akan tega membiarkanku tidur di sofa kan?" Raisa memelas pada Diki.


Diki tertawa meremehkan, "Tadi siapa yang keras kepala menolak tidur di ranjangku? Akhirnya kamu berubah pikiran juga"


"Iya, tapi aku tidak mau kita tidur satu ranjang. Bagaimana kalau kamu saja yang tidur di sofa sedangkan aku yang tidur di kamarmu?" Raisa mengedipkan matanya bermaksud merayu Diki.


"Kamu pikir, aku mau tidur di sofa?"


Raisa frustasi, dia tidak tahu harus bagaimana merayu Diki.


"Ayo, cepat segera putuskan. Aku sudah mengantuk" Diki berpura-pura menguap.


"Baiklah kita berbagi ranjang yang sama untuk sementara tapi hanya malam ini saja, besok kamu harus memanggil tukang untuk memperbaiki atap rumah"


"Pasti aku akan memanggilnya. Masuklah!"


----


----

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2