MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 76. IDENTITAS DIKI


__ADS_3

Rio berselancar di Internet mencari informasi penting namun berkali-kali dia gagal menemukannya. "Media online yang pernah memberitakan kasus tentang perusahaan Prasjaya Group telah ditutup, kemungkinan bangkrut. Jadi kasus itu hilang bak ditelan bumi dan semua orang menganggapnya hanya gosip murahan padahal itu kasus serius yang menyangkut karyawannya."


Rio telah memeriksa beberapa kali dan selalu saja hasilnya nihil. Prasjaya Group merupakan perusahaan besar yang mampu membuat media manapun tunduk. Siapapun yang berani memberitakan buruk tentang Prasjaya Group, maka mereka harus siap dengan konsekuensi yang akan dihadapi.


"Apakah tidak ada jejak digital lainnya?" Kemudian Diki kembali bertanya.


"Tidak ada, Pak."


"Hmm... masalah ini merembet kemana-mana, kita perlu menyelidiki kasus yang melibatkan perusahaan Prasjaya Group yang merupakan perusahaan keluarga Revan. Karena Revan telah membuat masalah denganku, setidaknya aku harus memberinya pelajaran. Revan, dia ingin bermain-main denganku." Ada sorot mata yang menggambarkan sesuatu yang akan Diki lakukan. Dia juga menyeringai.


Wajah lain dari Diki, dia tegas dan sedikit kejam jika menghukum musuhnya dengan tanpa ampun. Berani mengusik istri tercintanya sama saja menggali lubang untuk diri sendiri.


Revan belum tahu, siapa Diki yang sebenarnya? Itu yang membuat Diki tersenyum meremehkan dalam hati. Menurut Diki, Revan telah salah dalam memilih musuh. Diki memiliki kemampuan yang mampu membuat Revan masuk ke dalam penjara dengan sangat mudah.


Diki seorang agen rahasia yang sedang vakum dari pekerjaannya karena suatu alasan. Dia memilih berbaur dengan masyarakat biasa dan menyembunyikan identitasnya. Telah lama kehadiran Diki sangat dinantikan oleh organisasi untuk membantu menumpas kejahatan para mafia kelas kakap.


Revan bagi Diki, selain sebagai kompetitor dalam hal bisnis rupanya Revan memang musuh yang seharusnya Diki kalahkan. Kalau tidak, Revan akan semakin nekat mengganggu hubungan Diki dengan Raisa. Itu tidak bisa dimaafkan oleh Diki.


Dipenuhi emosi yang memenuhi dada Diki, juga kilatan melintas di matanya yang tajam. Diki siap bertarung.


Setelah sebelumnya Diki menimang, dia akhirnya memutuskan untuk kembali menjadi agen rahasia. Kini Diki ingin menggunakan keahliannya untuk melawan musuh terutama pada Revan.


Alasan yang mendasari Diki untuk kembali adalah karena cinta itu telah berlabuh. Hati Diki sedang dipenuhi oleh Raisa. Meski ada perasaan yang terkadang melintas dari kisah masa lalunya namun Diki telah memantapkan hatinya untuk menatap masa depan bersama Raisa. Diki sudah memutuskan untuk kembali dengan mantap tanpa pikir panjang.


"Sudah lama kita vakum dari organisasi agen rahasia. Kemarin aku sudah membuat kesepakatan dengan Hendrik, aku akan kembali namun awalnya aku masih butuh waktu. Setelah mengetahui istriku terseret dalam masalah, aku perlu melindunginya jadi aku siap kembali, lalu bagaimana denganmu, Rio?"


"Saya akan selalu setia mengikuti Anda, Pak." Rio menundukkan sedikit badannya dengan sikap menghormati. Dia sangat patuh.

__ADS_1


Rio telah lama bekerja dengan Diki, sejak lulus sekolah, Rio sudah berjanji akan mengabdikan dirinya menjadi assistant setia Diki. Karena bagi Rio, Dikilah satu-satunya orang yang pernah menolong hidupnya dan membantunya bangkit dari keterpurukan. Jadi Rio perlu membalas budi kebaikan Diki di masa lalu.


Mendengar keteguhan Rio, Diki merasa senang. Terukir senyuman tulus di wajahnya.


"Bagus, aku memang membutuhkanmu. Jangan sampai orang di sekitar kita tahu tentang identitas kita yang sebenarnya terutama Raisa." Diki selalu mengandalkan Rio, selain cerdas, Rio juga ahli dalam beladiri. Tak sia-sia, Diki melatihnya.


"Saya mengerti, Pak."


"Selanjutnya aku akan membuat rencana..."


Diki menyiapkan langkah, untuk menyelidiki kasus yang berkaitan dengan Prasjaya Group. "Malam ini kita akan adakan pertemuan dengan anggota lainnya untuk menyusun strategi."


*****


Sore hari.


Bak seorang pangeran, seorang pria berpakaian tuxedo turun dengan elegan . Auranya memukau, semua yang melihat akan tertuju padanya. Raisa membuka lebar matanya, dia terkejut ternyata pria yang keluar dari mobil mewah itu adalah Diki. Meski mengenakan masker yang sebagian menutupi wajah, Raisa jelas mengenali Diki jauh lebih baik.


Rupanya Diki datang menjemput Raisa. Ini seperti bukan kebiasaan Diki, menurut Raisa ini terasa aneh dan canggung. Apakah Diki memiliki banyak waktu luang?


Raisa heran darimana Diki memiliki mobil mewah itu. Mata Raisa masih belum berkedip melihat cara berpakaian Diki seperti seorang model karena tubuh Diki yang proporsional begitu pas dengan pakaian yang dikenakannya. Diki memang keren, pria itu seolah menunjukkan pesonanya.


Diki berjalan mendekati Raisa yang tengah berdiri mematung karena terpana saat memandangnya. Bukan hanya Raisa, para karyawan lainnya pun juga tercengang, mereka seolah berkata, 'siapa wanita yang beruntung mendapatkan pria keren itu?'


Begitu mengetahui bahwa wanita yang beruntung itu adalah Raisa, mereka semua tertuju pada Raisa.


Karena menjadi pusat perhatian, Raisa yang malu dengan cepat menarik Diki untuk masuk ke dalam mobil. Dia langsung memposisikan duduknya lalu menoleh ke arah Diki. Wajahnya terlihat kesal. "Diki! Kamu sengaja ingin tebar pesona dan senang menjadi pusat perhatian orang?"

__ADS_1


Diki membuka masker, sebelum mengemudikan mobilnya. "Aku memakai masker dan wajahku tidak kelihatan, bagaimana bisa aku tebar pesona? Orang lain bahkan tidak tahu siapa aku?" Diki berkata tanpa merasa bersalah, dia seakan senang mengejek Raisa yang kesal. Bagi Diki Raisa yang kesal semakin manis dan menggemaskan.


Raisa yang mengakui dalam hati bahwa ucapan Diki memang benar, membuatnya tak bisa berkata apa-apa.


"Kenapa?" Diki bertanya pada Raisa yang diam namun Raisa malah memasang wajah cemberut. Ini diluar ekspetasi Diki, setelah menerima kembali fasilitas dari kakeknya, Diki pikir Raisa akan senang. Padahal ini hanya sebagian kecil yang ingin Diki pakai. Saat itu, Diki awalnya tidak mau tetapi karena terpikir ingin menyenangkan Raisa, akhirnya Diki memakai mobilnya untuk mengajak Raisa berkeliling.


Diki baru tahu menghadapi wanita lebih sulit dibanding ujian tes masuk sebagai anggota agen rahasia. Dia hampir frustasi bagaimana harus bersikap.


"Aku kan sudah bilang tidak boleh mencolok, lalu bagaimana kamu mendapatkan mobil ini?" Raisa masih mengira Diki hanyalah orang yang bersahaja.


"Ah... aku meminjamnya dari teman karena mobilku mogok." Diki berbohong, dia takut Raisa akan bertambah marah.


"Wah, temanmu baik sekali. Mobil ini terlalu bagus untuk dipinjamkan. Siapa temanmu itu?" Raut wajah Raisa berubah jadi berbinar-binar.


Sekarang malah Diki yang kesal, Raisa tidak tahu perasaannya. Jika Diki mengatakan teman pria, apakah Raisa akan penasaran dan terus menanyainya? Lalu jika Diki mengatakan teman wanita, apakah Raisa tidak akan marah? Sekali lagi Diki berada dalam dilema karena terjebak dalam kebohongannya sendiri.


"Raisa, kamu lebih penasaran dengan siapa pemilik mobil ini dibandingkan aku?"


----


----


Bersambung...


Note : Jangan lupa like, subscribe dan vote nya yah biar Arthor semangat menulis dan bisa berpikir alur cerita agar semakin menarik.


Terima kasih atas perhatiannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2